Category: Dunia Astreologi


Permukaan planet Mars. (hdwpapers.com)

Empat miliar tahun yang lalu, Mars adalah dunia yang sangat berbeda. Kala itu langit berwarna biru, awan menggelantung, dan air mengalir. Namun hari ini, planet tersedbut sangat kering dan dingin, serta tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Transisi tersebut digambarkan dalam sebuah video yang dirilis oleh NASA. Animasi ini bertepatan dengan peluncuran Maven, yang akan menyelidiki bagaimana hilangnya atmosfer di planet merah tersebut, yang akan sampai di Mars sekitar September 2014.


Saluran sungai dan kawah kuno memperlihatkan  bagaimana dahulu Mars terdapat air. Sehingga, dari hal tersebut memperlihatkan bahwa Mars juga memiliki udara, sehingga mencegah uap air ke angkasa.

Baca lebih lanjut

 

Unidentified Flying Object alias UFO. Sering kali kita mendengar kata tersebut, dan kadang tidak masuk akal membicarakan tentang UFO. Kenapa tidak masuk akal? karna kita membicarakan tentang suatu hal yang tidak pernah ada wujudnya, maksudnya kita tidak tau apa itu sebenarnya (yang kita lihat). Bisa jadi UFO tersebut adalah layang-layang, burung, pesawat, sampah terbang atau balon hihi . . atau mungkin becak terbang?
Namanya juga Unidentified alias tidak diketahui alias tidak jelas, karena kita belum pernah melihat penampakan benda terbang tersebut. UFO, Unidentified Flying Object atau Benda Terbang Tak diketahui, dengan kata lain Benda Terbang Aneh sering disebut BETA.Istilah BETA pertama kali diperkenalkan oleh Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional – LAPAN RJ Salatun pada tahun 1960-an. Jadi beda antara UFO dan Alien, Alien boleh dikatakan sebagai makhluk yang sering mengendarai UFO atau makhluk Extraterrestrial berasal dari planet atau Galaxi lain dari tata surya kita.

Pernahkah di Indonesia mengalami penampakan UFO ? yang dihubung-hubungkan dengan makhluk Extraterrestrial ? bukan sekedar UFO atau seperti sampah melayang di udara, tapi penampakan UFO yang bergerak dan biasanya bercahaya berkedip atau memancar. Sebenarnya sudah banyak sekali kasus penampakan UFO di Indonesia mulai tahun 1800-an, tapi yang akan kita bahas sekarang 11 penampakan UFO terbaru. Berikut 11 penampakan-penampakan UFO di Indonesia :

1.UFO Kebumen Selatan 26 February 1932
2.UFO di Gunung Agung, Bali. di potret oleh wisatawan Jepang Ryo Terumato pada 17 Agustus 1973

UFO di Gunung Agung, Bali, 1973. Foto UFO pertama di atas Indonesia dibuat oleh wisatawan Jepang, Ryo Terumoto, pada 17 Agustus 1973. Sekitar pukul 14.00 siang, dari mobil ia memotret Gunung Agung di Bali.
Setelah fotonya dicetak, ia terkejut melihat adanya sebuah benda berbentuk cakram yang melayang di depan gunung tersebut. Ketika memotret ia tidak memperhatikannya. Fotonya kemudian dimuat di majalah Hito to Nippon (Orang dan Jepang) terbitan Maret 1974 dengan judul “Piring Terbang di Atas Pulau Bali?” Baca lebih lanjut

detail berita

Ilustrasi asteroid besar menghampiri Bumi (Foto: Kexue)

CALIFORNIA – Kepala badan antariksa Amerika Serikat NASA, Charles Bolden mengungkapkan bagaimana pihaknya dapat menangani asteroid besar yang kabarnya akan menghampiri Bumi. Batu luar angkasa ini kini diprediksi sedang menuju tepat di atas langit New York City.

Dalam kondisi demikian, Charles mengungkap bahwa semua pihak harus berdoa. Selain itu, pihaknya berharap agar dapat terhindar dari hal-hal yang tidak dinginkan akibat kemungkinan ancaman asteroid tersebut. Baca lebih lanjut

DC Comic Salah satu bagian dalam Action Comic Superman 14, dimana Superman meminta bantuan astrofisikawan Neil deGrasse Tyson untuk mencari planet asalnya.

 Komik Superman menceritakan bahwa superhero itu lahir di Planet Krypton. Karena planet akan mengalami kehancuran, ayah Superman bernama Jor-El mengirimkannya ke Bumi. Sepasang suami istri kemudian membesarkannya sebagai Clark Kent.

Hadir selama puluhan tahun, beragam versi cerita Superman belum pernah sama sekali menyinggung letak Planet Krypton. Action Comic Superman #14 berjudul Star Light Star Bright yang terbit pada Rabu (7/11/2012) hari ini di Amerika Serikat akan menjadi buku pertama yang menguaknya.

Cerita terbaru tentang Superman itu mengisahkan kerinduan sang superhero akan rumahnya serta keinginan untuk mencarinya. Komik menceritakan, Superman datang ke planetarium setiap 382 hari, waktu yang menunjukkan periode Planet Krypton.

Kisah tentang Superman dan Planet Krypton memang fiktif belaka. Namun, komik kali ini menjadi hidup sebab mengikutsertakan astronomi untuk mengetahui letak Krypton. Astrofisikawan Hayden Planetarium, Neil deGrasse Tyson, “menemukan” letak Krypton di semesta. Baca lebih lanjut

Ilustrasi pendaratan Curiosity di Mars
Setelah beberapa foto permukaan planet Mars terungkap, kini muncul gambar baru yang mengungkapkan perjalanan Curiosity, kendaraan robotik atau rover milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).

Mengutip situs NASA, gambar yang diambil oleh pesawat ruang angkasa HiRISE NASA itu menangkap gambar menakjubkan dari pendaratan rover. Pesawat tersebut mengungkapkan seberapa persis jauhnya rover telah menjelajahi planet merah.

Dalam gambar yang ditampilkan, jejak ban rover ini jelas terlihat, juga jejak di daerah di mana Curiosity mendarat. Para ahli berencana untuk menggunakan gambar tersebut untuk melacak Curiosity saat bergerak melintasi Mars.

NASA telah mengumumkan bahwa Curiosity baru saja menyelesaikan perjalanan terpanjang, setelah bepergian lebih dari 100 kaki atau 30,48 meter pada tanggal 4 September lalu. Rover melaju dari bagian Tenggara, dengan langkah ‘siku-siku’ untuk menghindari beberapa pasir berbahaya, yang jelas terlihat pada gambar di atas. Baca lebih lanjut

Bendera Amerika masih menancap di bulan

NASA mengklaim bendera Amerika yang ditancapkan 40 tahun lalu masih berdiri tegak di permukaan bulan. (c) Dokumentasi/NASA/GSFC/the Daily
Lebih dari empat dekade setelah misi pendaratan manusia terakhir di bulan, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) melansir temuan mengejutkan. Bendera bintang garis, simbol Negeri Paman Sam itu dari foto satelit ternyata masih menancap di permukaan bulan.

Berdasarkan pantauan satelit orbit bulan (LROC) enam bendera yang dulu dipasang setiap astronot Amerika masih berada di posisinya. Pengamat NASA, Mark Robinson, menyatakan nyaris seluruh bendera masih tegak. “Semua tegak dan terlihat memantulkan bayangan, kecuali bendera dari misi Apollo 11 yang hanya terdeteksi posisinya saja,” kata dia dalam jumpa pers dua hari lalu, seperti dilansir harian the Daily Mail, Senin (30/7).Tradisi menancapkan bendera Amerika itu dimulai oleh misi pertama Apollo 11 yang sukses. Pada 20 Juli 1969, Neil Armstrong dan Edwin Aldrin berhasil menjejakkan kaki di Bulan. Sejak saat itu, ada enam misi lanjutan dan setiap astronot menancapkan bendera di dekat tempat pendaratan kapsul ulang alik mereka. Terakhir kali Negara Adidaya itu mengunjungi satelit bumi ini ketika Apollo 17 mengumpulkan sampel bebatuan pada 14 Desember 1972. Baca lebih lanjut

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar,” (Al Baqarah 255).
Rasanya, Bumi yang kelilingnya 40.000 km ini sudah sangat besar bagi kita. Untuk pergi ke Amerika atau Afrika saja jauh sekali. Apalagi jika sampai harus ke Antartika.

Namun besarnya bumi kita ini tidak apa-apanya dengan ciptaan Allah lainnya. Bahkan bintang yang terbesar pun hanya satu titik dibanding Galaksi, Cluster, Super Cluster, Jagad Raya. Di atas semua itu kita harus yakin bahwa Allah pencipta Semesta Alam itu.
Dan mari sejenak kita renungkan tentang jagad raya ini.
(1) Ukuran Bumi dibanding Planet Jupiter

(2) Ukuran Bumi dibanding Matahari Baca lebih lanjut

 
 
Gambar dari European Space Agency akan Planet Mars. Misi pertama ESA ke Planet Merah adalah Mars Express yang memuat tujuh alat untuk mengukur atmosfer planet, struktur serta geologinya, termasuk mencari bukti air-air yang tersembunyi. REUTERS/Ho/European Space Agency ESA
 
 
 
 
 
Citra ini diambil oleh kamera panorama Rover Spirit yang mengeksplorasi Mars. Baca lebih lanjut

Misteri crop circles seperti terjadi di sawah Desa Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (23/1/2011), memang fenomena baru di Indonesia.

Namun, di luar negeri fenomena itu sudah dicatat sejak lama, bukan dari abad lalu saja. Pada 1686, Prof Robert Polt, LDD menulis dalam penerbitan A Natural History of Staffordshire.

Robert Poll adalah “penjaga” pertama Museum Ashomolean dan profesor kimia di Oxford. Ia menggambarkan, bentuknya bukan hanya lingkaran, melainkan area yang rata “terdiri tiga bagian dari lingkaran, lainnya adalah setengah lingkaran, beberapa lagi kuadran.”

Bentuk-bentuk itu ditemukan di lahan yang subur dan di padang terbuka. Bukan hanya satu, kadang-kadang bahkan dua dan tiga lingkaran.

Lantas, pada Juli 1880 terbit sebuah jurnal ilmiah prestisius, Nature, yang memuat surat dari seorang spectroscopist bernama J Rand Capron. Ia menggambarkan temuannya soal formasi unik di Inggris bagian selatan.

“Membentuk spot bundar dengan beberapa tangkai yang berdiri sebagai pusatnya, beberapa tangkai ambruk dengan bagian kepala tertata apik membentuk lingkaran di sekitar pusat, dan di luarnya adalah lingkaran tangkai yang utuh.”

Capron menduga bentuk itu akibat “angin topan”. Ia juga menyeratakan sketsa lingkaran itu, tetapi tidak dimuat oleh Nature.

Setelah itu, lebih banyak lagi catatan tentang munculnya bentuk-bentuk misterius tersebut dengan pola yang berbeda-beda dan bahkan sangat menakjubkan.

Di Inggris, ia sering kali muncul di dekat situs-situs kuno, seperti Stonehenge yang terkenal karena bebatuan raksasa tersusun teratur dan mengesankan betapa manusia kuno sudah mempunyai teknologi canggih untuk membangunnya.

Namun, crop circles juga muncul di Amerika Serikat yang tergolong tidak mempunyai jejak peradaban kuno, kecuali wilayah yang semula didiami oleh bangsa Indian kuno.

Kini, di Amerika pula ada kelompok studi yang mempelajari fenomena ini secara ilmiah, namanya Burke, Levengood, Talbott (BLT) Research Team.

Mereka mendokumentasikan banyak sekali fenomena crop circles, mewawancarai para saksi mata, dan menganalisisnya dari berbagai segi. Namun, mereka pun belum mempunyai jawaban memuaskan. Crop circles masih misteri hingga kini.

Penampakan benda terbang aneh atau UFO terlihat di langit Kota Elista, ibu kota Republik Kalmykia, di selatan Rusia.

Pada Desember 2010, ratusan warga Elista bisa melihat penampakan UFO setiap sepuluh hari di bulan itu. Demikian dikabarkan harian Nezavisimaya Gazeta.

Penampakan yang paling menghebohkan terjadi pada 22 Desember 2010, para saksi mata mengaku melihat dua lingkaran konsentris di langit dari pukul 15.00 hingga 19.00 waktu setempat.  Lingkaran dalam berputar searah jarum jam, sementara lainnya berputar ke arah berlawanan. Sementara, saksi mata lainnya melihat benda segi tiga yang menyorotkan cahaya datang dari arah tersebut.

Dua penampakan tersebut direkam kamera televisi dan ditayangkan di televisi lokal. Dalam video, reporter mengatakan hal tersebut mungkin disebabkan fenomena atmosfer, namun akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Warga Elista menanggapi fenomena itu secara serius. Namun, mantan pimpinan republik, miliuner Kirsan Ilyumzhinov mengaku ia tak terkejut.

Kata dia, ini tak hanya terjadi di Elista, tapi juga teritori Federasi Rusia yang lain. “Benda aneh itu terlihat di mana saja, di dekat Moskow, dan teritori lainnya. NASA saja punya 4.000 dokumen UFO tiap tahunnya,” kata Ilyumzhinov yang saat ini menjadi Ketua Federasi Catur Dunia, seperti dimuat situs Pravda, Rabu 29 Desember 2010.

Suatu ketika, Ilyumzhinov mengaku pernah bertemu dan berkomunikasi dengan mahluk ekstraterresterial yang mengenakan pakaian antariksa berwarna kuning, diajak tur ke pesawat luar angkasa, dan berkomunikasi dengan mereka.

Sementara, para pegawai pemerintah mendorong masyarakat Elista tak malu untuk berbicara dan menyampaikan informasi soal UFO.

Sejauh ini, para ilmuwan belum memberikan informasi jelas soal fenomena tersebut.

Badma Mikhalayev, ketua departemen fisika teoritis dari Universitas Negeri Kalmyk, tidak menafikan adanya peradaban mahluk cerdas di luar bumi. Namun, kata dia, lingkaran misterius di langit di atas Elista tidak dapat dijadikan sebagai bukti keberadaan peradaban mahluk ekstraterresterial.

WASP-12b, planet penuh karbon, berlian, grafit dan gas metana mengorbit mataharinya (newscientist.com)

Joseph Harrington, astronom dan profesor dari University of Central Florida, Amerika Serikat, dan timnya menemukan bahwa terdapat lebih banyak karbon dibanding oksigen pada atmosfir planet WASP-12b. Planet itu berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi.

Temuan ini mengindikasikan bahwa bebatuan yang ada di seluruh planet itu terdiri dari karbon murni, dalam bentuk berlian atau grafit. Meski belum bisa dipastikan, tetapi planet yang sangat kaya akan karbon itu kemungkinan juga memiliki inti berlian dalam jumlah besar.

“Secara umum, planet biasanya memiliki jumlah oksigen yang sangat banyak yang membuat bebatuan seperti kuarsa dan gas seperti karbon dioksida bisa tersedia dalam kuantitas besar,” kata Harrington.

Tetapi, kata Harrington, jika karbon lebih banyak dibanding oksigen, maka akan banyak batu-batuan yang terdiri dari karbon murni seperti berlian dan grafit. Selain itu akan ada banyak gas metana.

Tim peneliti melakukan analisa kimia berdasarkan teleskop ruang angkasa Spitzer milik NASA. Mereka membandingkan perilaku inframerah gas-gas yang ada untuk menentukan komposisi atmosfir planet yang bersangkutan.

Meski karbon merupakan salah satu elemen penting yang membentuk kehidupan, WASP-12b tampaknya tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup.

“Jaraknya terlalu dekat dengan mataharinya, dan setahun planet itu hanya berlangsung selama 26 jam saja,” kata Harrington. “Temperatur di siang hari pada planet yang diperkirakan bertaburan berlian itu juga sangat panas, mencapai sekitar 2.600 derajat Celcius. Planet itu juga rusak akibat besarnya gaya gravitasi dari mataharinya itu,” ucap Harrington.

Sebagai informasi, WASP-12b pertamakali ditemukan oleh konsorsium Wide Angle Search for Planets asal Inggris pada tahun 2009 lalu.

Galaksi yang ditangkap teleskop Herscel (nasa.gov)

Astronom dan kosmolog dari The Open University di Milton Keynes, Inggris berhasil mendeteksi galaksi purba. Ia melakukan hal itu dengan menggunakan efek yang ditimbulkan oleh distorsi ruang dan waktu yang berada di jarak yang sangat jauh antara bumi dan galaksi tersebut.

Menurut astronom tersebut, Mattia Negrello, sebelumnya galaksi ini tersembunyi di balik debu-debu ruang angkasa. Penemuan galaksi yang sangat jauh tersebut berpotensi menyingkap bagaimana proses terbentuknya alam semesta dan galaksi awal.

Dia menjelaskan, galaksi jarak jauh umumnya sulit dilihat. Akan tetapi galaksi yang cahaya redupnya terselubung debu luar angkasa lebih sulit lagi dideteksi, bahkan meski menggunakan teleskop terbesar yang ada saat ini. Namun, para stronom berhasil mendongkrak efektivitas teleskop mereka dengan mengandalkan lensa dan galaksi yang ada di antara astronom dengan objek yang ingin mereka lihat.

Daya tarik gravitasi dari objek yang berada di tengah-tengah antara peneliti dan obyek yang diamati dapat mengganggu ruang dan waktu, efek ini mampu membelokkan cahaya. Efek yang disebut dengan ‘gravitational lensing’ inilah yang dapat meningkatkan kemampuan pengelihatan terhadap galaksi yang sangat jauh, atau setidaknya memungkinkan peneliti menangkap beberapa gambar seputar galaksi tersebut.

Umumnya, menemukan gravitational lense juga sangat memakan waktu. Saat ini, menggunakan data dari teleskop luar angkasa Herschel, galaksi bisa dideteksi dengan mudah menggunakan cahaya berpanjang gelombang sub milimeter jika mengamati langit dengan berukuran luas yang cukup.

Objek yang dilihat dari jarak sub milimeter umumnya diperkirakan merupakan galaksi berdebu, berada pada jarak yang jauh dan mengalami ledakan kuat dari terbentuknya bintang. Aktivtas intens ini menghasilkan debu yang mengaburkan mereka. Pada posisi langit tertentu, peneliti menemukan lima lensa gravitasi baru, galaksi berdebu yang membentuk bintang.

“Saya memperkirakan sekitar empat sampai enam buah galaksi terdeteksi pada data yang kami kumpulkan setahun lalu,” kata Mattia Negrello, seperti dikutip dari Space, 9 November 2010.

“Data tersebut mewakili sekitar 3 persen dari seluruh area yang akan dipetakan oleh Herchel di dalam H-ATLAS (Herschel Astrophysical Terahertz Large Area Survey).” Kata Negrello. “Sangat menggembirakan saat diketahui bahwa sebenarnya ada 5 buah,” ucapnya.

Metode yang digunakan peneliti kali ini lebih sederhana dibandingkan teknik sebelumnya. Mereka mengamati langit untuk mencari radiasi berukuran sub milimeter, mengidentifikasi objek yang paling terang dan menghilangkan beberapa kontaminan seperti galaksi lain yang ada di dekatnya.

Semua yang tersisa kemudian diketahui sebagai galaksi yang membentuk bintang. “Ini merupakan cara yang paling mudah untuk menemukan pemunculan gravitational lensing,” ucap Negrello.

Menurut Negrello, lima buah galaksi yang ditemukan diibaratkan hanya merupakan puncak dari gunung es. “Kami berharap dapat menemukan lebih dari 100 lagi dalam H-ATLAS penuh nantinya,” ucapnya.

Dengan menangkap detail yang diperkuat oleh gravitational lensing pada sejumlah galaksi, peneliti berharap akan dapat lebih memahami bagaimana cara mereka terbentuk dan berevolusi.

• VIVAnews

— Mungkin benar, bahwa tak ada kehidupan di Bulan. Namun, bukan berarti satelit Bumi ini tak bisa jadi koloni manusia.

Selain jaraknya relatif dekat dengan Bumi, manusia  juga tak harus kelaparan di sana.

Kini, ilmuwan sedang mengembangkan prototipe ‘greenhouse‘ atau rumah kaca untuk bercocok tanam yang bisa jadi kunci untuk menumbuhkan bahan makanan segar dan sehat di Bulan, atau bahkan di Mars.

Proyek yang dikerjakan peneliti di Pusat Pengendalian Lingkungan Agrikultur (CEAC) University of Arizona adalah bagaimana menumbuhkan tanaman tanpa media tanah.

Bahan makanan seperti kentang, kacang, tomat, cabe, dan sayur-sayuran bisa tumbuh di media air alias hidroponik.

Apa bedanya dengan pertanian hodroponik di Bumi?

Tim ini membangun prototipe rumah kaca Bulan di Laboratorium Iklim Ekstrem CEAC — yang direpresentasikan dengan struktur beberapa tabung.

Tabung-tabung ini akan dikubur di bawah permukaan Bulan. Tujuannya, melindungi tanaman dan astronot dari jilatan api Matahari yang mematikan, micrometeorites dan sinar kosmik. Juga melindungi tanaman dari radiasi mematikan.

Ini jelas beda dengan rumah kaca konvensinal yang terpampang untuk menerima sinar matahari dan panas.

Canggihnya, modul rumah kaca yang dilapisi membran bisa ditempatkan di disk selebar 4 kaki untuk memudahkan perjalanan antar planet.

Juga akan dilengkapi dengan lampu uap sodium khusus yang didinginkan dengan air,  dan amplop panjang yang berisi benih dan kecambah tanaman hidroponik.

“Kita bisa menyebarkan modul dan membuat air mengalir ke lampu hanya dalam waktu sepuluh menit,” kata Phil Sadler, direktur  Sadler Machine Co — yang mendesain dan membangin rumah kaca Bulan.

“Hanya sekitar 30 hari kemudian, Anda akan memiliki sayuran segar yang siap dimakan,” kata dia, seperti dimuat situs Space.com, Selasa 19 Oktober 2010 malam.

Modul ini bergantung pada komponen robot untuk bercocok tanam sistem organik ini.

Namun, “kami ingin sistem ini bisa beroperasi sendiri,” kata Murat Kacira, profesor teknik pertanian dan biosistem di Universitas Arizona.

Para ilmuwan juga sedang merancang sistem yang memungkinkan operator dari Bumi melakukan intervensi.

Beberapa ide dalam proyek ini diilhami gudang bibit yang berada di Kutub Utara.

***

Aspek penting lain dari desain rumah kaca adalah penggunaan sumber daya secara efektif dan efisien —  yang pastinya jadi isu krusial saat manusia berada di permukaan Bulan atau planet lain.

Karbon dioksida dimasukkan dalam prototipe rumah kaca tangki bertekanan. Tapi, astronot juga bisa menyumbang CO2 dengan cara yang sederhana: bernafas.

Sementara, air untuk menumbuhkan tanaman bisa diambil dari ekstraksi urin astronot.

Juga lampu berpendingin air, bisa digantikan kabel serat optik yang akan menyalurkan sinar matahari ke permukaan Bulan — ke tanaman.

Kalaupun menciptakan koloni tumbuh-tumbuhan di Bulan dirasa terlalu muluk, ide juga bisa diterapkan di Bumi — di perkotaan yang padat yang bahkan tak tersisa tanah untuk bercocok tanam.

(Space.com/hs)

Pencarian planet-planet baru yang bisa dihuni masih belum berhenti. Misi lama, seperti mencari tanda-tanda kehidupan di Mars dan kemungkinan bahwa planet itu bisa dihuni hingga kini masih dijalankan.

Menggunakan spektrometer Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA, para peneliti dari Brown University baru-baru ini menemukan gundukan mineral silika di Planet Mars. Mereka menemukannya di daerah planet yang disebut Syrtis Major, tepatnya di wilayah gunung berapi Nili Patera yang berusia 3,7 miliar tahun.

Melihat letaknya yang ada di dekat gunung berapi, peneliti menduga bahwa gundukan silika itu berasal dari sumber air panas yang pernah ada di wilayah itu. Gundukan itu terbentuk ketika air panas keluar dan melarutkan batuan, membuatnya kaya akan mineral silika yang berasal dari batuan. Ketika air mendingin dan kontak dengan udara, material yang disebut hydrated silika terbentuk dan menyusun gundukan yang kini ditemukan.

Adanya gundukan silika yang berasal dari sumber air panas ini, menurut peneliti, merupakan salah satu tanda bahwa ada lingkungan kecil di Planet Merah yang bisa dihuni. “Ketika Anda punya air dan panas, seperti yang terdapat di tempat ini, Anda punya kesempatan untuk tinggal dan hidup,” kata John Mustard, profesor geologi yang terlibat dalam penelitian ini.

Peneliti lain, JR Skok, yang juga berasal dari universitas yang sama, menduga bahwa adanya sumber air panas itu paling tidak menandakan, pernah ada kehidupan primitif, seperti mikroorganisme. Jika hipotesis tersebut benar, maka ia mengungkapkan, “Akan sangat mungkin untuk menemukan kumpulan fosil mikroorganisme di wilayah itu.”

Sejauh ini, belum ada bukti nyata tentang adanya kehidupan di Mars. Namun, temuan adanya silika di Mars ini bukanlah yang pertama. Penemuan sebelumnya pernah dilakukan pada tahun 2007 oleh misi Mars Spirit milik NASA. Keunikan temuan ini adalah adanya gundukan silika yang utuh.

Hasil penelitian ini dipublikasikan oleh John Mustard dan JR Skok di jurnal Nature Geoscience tanggal 31 Oktober 2010. Ke depan, para peneliti berharap bisa mendeteksi seberapa mungkinkah lingkungan ini untuk dihuni, misalnya dengan melihat temperatur dan keasamannya.

<!–YAHOO! BUZZ–>

Perubahan Warna Planet Indikasi Kehidupan Alien SPACE

NEW YORK–MI: Cara baru membandingkan warna dan intensitas pantulan cahaya dari permukaan Bumi dengan yang terjadi pada eksoplanet diyakini sebagai cara mendeteksi kehadiran lautan, benua, dan bahkan tidak tertutup kemungkinan juga mendeteksi kehadiran kehidupan alien.

Untuk itulah kini para peneliti melengkapi diri dengan skema warna yang mencerminkan ciri kehidupan unik di Bumi untuk pengamatannya terhadap objek luar angkasa sejauh puluhan tahun cahaya. “Dengannya kita bisa menyimpulkan komposisi di permukaan sebuah eksoplanet,” ungkap seorang mahasiswa doktoral Universitas Tokyo Yuka Fuji di makalahnya yang diterbitkan di Astrophysical Journal baru-baru ini. Eksoplanet merupakan planet yang berada di luar tata surya kita.

Menurutnya, metode tersebut memungkinkan para astronom untuk berburu tanah, salju, lautan, ataupun tumbuh-tumbuhan di eksoplanet. Hal tersebut selama puluhan tahun belakangan diyakini sangat sulit untuk divisualisasikan.

Namun masalahnya, teleskop terbesar di Bumi saat ini pun baru mampu menampilkan gambaran eksoplanet terdekat dengan Bumi tidak lebih dari satu titik cahaya. Ini diakibatkan langkanya partikel cahaya atau foton yang tercermin dari eksoplanet yang kemudian menjangkau triliunan mil jarak ke teleskop Bumi.

Harapan satu-satunya saat ini adalah berharap instrumen peneropongan di masa mendatang tidak hanya mampu mendeteksi eksoplanet sebagai satu titik cahaya saja. “Karena memang sulit untuk mendapatkan foton yang cukup dari planet yang sangat jauh untuk mendeteksi permukaannya,” ungkap Fiji.

Ditambahkannya, meskipun memantulkan sangat sedikit cahaya, pantulan sinar dari eksoplanet tetap membawa ciri khasnya. Dengan menggunakan spektroskopi, para astronom boleh dikatakan telah menemukan fakta ringan mengenai keberadaan berbagai macam gas di atmosfir eksoplanet.

“Kita tidak bisa secara langsung mengidentifikasi hijau, biru, dan bintik warna merah di permukaan. Namun kita bisa mengamati rata-rata total warna yang terlihat di atas permukaan eksoplanet tersebut untuk dibandingkan dengan skema warna ciri-ciri Bumi,” tambah Fiji.

%d blogger menyukai ini: