Warga Banyumas Geger, Makanan Mendoan Dipatenkan Secara Eksklusif

PURWOKERTO- Pernah menikmati gurihnya menyantap Mendoan, makanan tempe goreng setengah matang khas Banyumas?

Mendoan kini tak hanya bisa dinikmati di negeri asalanya, tapi juga banyak ditemukan di mana- mana, di Bandung, Jakarta, Yogyakata, di luar Jawa, bahkan di luar negeri sekalipun.

Makanan harian yang kenikmatannnya lebih terasa kala dimakan saat masih hangat ini sedang mengguncang Banyumas dan pada penikmatnya. Loh kenapa? Warga Banyumas geger karena tersebar kabar bahwa Mendoan kini sudah dipatenkan secara ekslusif oleh seorang pengusaha di Sokaraja.

Berita yang menyebar cepat melalui sejumlah media online dan jejaring sosial, Rabu (4/11) itu, membuat sejumlah wargaBanyumas kaget.

Janeta Dyah Sari, warga Arcawinangun, Purwokerto, mengaku terkejut, karena penganan kesayangannya itu dipatenkan secara pribadi oleh seseorang.”Terus nek wis dipatenna, rega Mendoantambah larang ora ya ?” tanya Janeta seperti dikutip dari laman berita satelitnews.co, Kamis (5/11/2015).

Dalam laman tersebut ditulis, sumber awal kehebohan itu adalah dari website Kemenkum HAM, Rabu (4/11). Mendoan kini dimiliki oleh perorangan yang tinggal di Sokaraja, Banyumas,dan diidentifikasikan sebagai ‘penamaan makanan’ yang dimasukkan ke dalam kelas merek nomor 29 bersama sejumlah makanan lainnya.

Fudji Wong, pemilik merek Mendoan, tak menyangka merek dagang yang didaftarkannya ke Kemenkumham tahun 2008 silam itu, membuat resah sejumlah pihak. Pengusaha asal Sokaraja itu mengaku, tak memiliki tendensi negatif terkait inisiatifnya mendaftarkan merek Mendoan tersebut.

“Saya sama sekali tak punya niat buruk dengan mendaftarkan merek Mendoan itu. Tahun 2008 saya daftarkan, baru tahun 2010 registernya diterbitkan. Ini hanya upaya mengamankan, supaya nama makanan kesayangan wong mbanyumas ini tidak dimiliki orang diluar Banyumas,” kata Fudji, kemarin (4/11).

Pengusaha air minum kemasan itu mengatakan, sejak didaftarkan dia malah tidak pernah menggunakan merek itu untuk produk apa pun. Bahkan, sampai saat ini pun, Fudji mengaku belum memiliki rencana akan dilabelkan pada produk apa merek itu. Dia juga berharap, warga Banyumas tak perlu khawatir dengan apa yang dia lakukan.

“Saya hanya mendaftarkan nama merek dagang Mendoan, bukan mematenkan Hak Cipta atas Mendoan. Karena saya tahu,Mendoan itu makanan khas Banyumas yang bukan saya penciptanya. Jadi tidak pantas kalau saya mematenkannya,” ujar Fudji.

Dia juga tidak pernah mempermasalahkan pihak-pihak yang kemudian menggunakan kata-kata Mendoan untuk merek produk komersil lain. Hal itu terbukti, sejak lima tahun lalu dia tak pernah menuntut apalagi menggugat orang-orang yang melabeli dagangannya dengan kemasan bermerek Mendoan.

Fudji mengakui, dia mengantongi hak ekslusif merek yang terdaftar terdaftar pada 23 Februari 2010 dengan nomor sertifikat IDM000237714. Hak tersebut berlaku hingga 15 Mei 2018 mendatang. Fudji juga belum tahu apakah akan memperpanjang register kepemilikan merek Mendoan atau tidak.

“Tergantung nanti, kalau memang pemerintah daerah menghendaki, nama itu akan saya lepas dan tidak diperpanjang registrasinya,” kata Fudji. (*)

 

http://jabar.tribunnews.com/2015/11/05/warga-banyumas-geger-makanan-mendoan-dipatenkan-secara-esklusif

Begini Tampang Fudji Wong, Pemilik Hak Eksklusif Tempe ‘Mendoan’

Begini Tampang Fudji Wong, Pemilik Hak Eksklusif Tempe Mendoan
Banyumas – Fudji Wong mengantongi hak eksklusif merek ‘Mendoan’, tempe khas Banyumas, Jawa Tengah. Meski mengantongi merek ‘mendoan’ ternyata ia bukanlah pengusaha di bidang tempe.

“Dulu saya patenkan usaha saya, ada air minum, ada salon dan lain-lain. Saya terpikir juga mendoan ini sudah ada yang daftarin belum. Nah, ternyata belum. Makanya saya daftarkan,” kata Wong kepada wartawan di rumahnya, Jalan Jenderal Suprapto, Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (4/11/2015).

Wong tumbuh besar di Purwokerto dan selepas SMA bekerja di Jakarta dan kembali ke kampung halamannya untuk bisnis air minum. Selama ini, ia tidak pernah bergelut di bidang olahan makanan, baik tempe, keripik, tahu, mendoan atau lainnya.

“Maksud tujuannya dan motivasi saya (mendaftarkan merek mendoan) adalah supaya merek ini tidak keluar dari masyarakat Banyumas,” ujar pria kelahiran 1968 itu.

Wong memegang sertifikat IDM000237714 yang terdaftar pada 23 Februari 2010 dan berlaku hingga 15 Mei 2018. Sertifikat kelas 29 ini meliputi:

Keripik tempe, segala macam masakan matang yaitu daging ayam, daging sapi, daging burung, daging babi, masakan hasil laut yaitu udang, ikan, kerang, kepiting, rajungan, sarden, binatang buruan, sosis, gar-sari daging, abon, dendeng, agar-agar, buah-buahan dalam kaleng, keju, mayones, mentega, selai, selai coklat, selai kacang, srikaya, susu kental, susu cair dalam kemasan, susu full cream, buah-buahan, sayur-sayuran dan ikan yang diawetkan, -dikeringkan dan dimasak, jamur yang diawetkan, sayur-sayuran dan buah-buahan dalam kaleng, buah-buahan dalam botol, selai, telur, yoghurt (susu asam), susu dan produksi susu, minyak-minyak, minyak wijen, minyak goreng, lemak-lemak yang dapat dimakan, margarin, kismis, kaviar, manisan-manisan, acar-acar, kuaci, kacang-kacang yang sudah dimasak, keripik, serbuk susu kopi jahe, minuman susu cair, susu, susu formula, susu bubuk, susu kental manis.

Saat didatangi di rumahnya, Wong dengan ramah menyambut wartawan. Ia bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya. Tidak lupa belasan mendoan telah dipesan dan disajikan hangat dengan cabai rawit.

Mendoan sendiri berasal dari bahasa Jawa Banyumasan yaitu ‘mendo’ yang berarti lembek atau belum jadi/setengah matang. Tempe khas ini sengaja dibikin secara tipis dan lebar, bukan tempe biasa lalu dipotong tipis-tipis. Dalam mengolahnya, mendoan ini harus dicampur tepung yang telah diberi bumbu. Karena mendoannya tipis, maka tepungnya cukup tebal. Dalam menggoreng, mendoan cukup dipanaskan dalam minyak mendidih tidak sampai lima menit. Hasilnya, mendoan ini tampak setengah matang dan berbeda dengan menggoreng tempe pada umumnya yang sampai kering. Oleh sebab itu dinamakan mendoan. Cara membuat tempe mendoan dan menggoreng ini telah turun temurun sejak dahulu kala.

Fudji Wong: Kalau Yang Patenkan Merek (Mendoan) Ini Orang Malaysia…?

Fudji Wong (Uwin Chandra/Purwokertokita.com)

Purwokertokita.com – Menyebut kata tempe mendoan, setidaknya dalam beberapa hari ke depan akan menjadi bahasan menarik. Sebab, pemberitaan media massa mengenai kuliner khas banyumasan ini mencuat dengan terdaftarnya “Mendoan” menjadi hak eksklusif seorang warga yang mendaftarkannya di Kementerian Hukum dan HAM beberapa tahun silam.

Kontroversi hak paten merek dagang Mendoan yang didaftarkan Fudji Wong sejak tahun 2008, kini naik ke permukaan. Fudji resmi memiliki hak eksklusif merek Mendoan dengan nomor sertifikat IDM000237714 dan terdaftar mulai 23 Februari 2010 hingga 15 Mei 2018 yang terdaftar di Ditjen HKI.

Dalam sebuah wawancara dengan beberapa jurnalis di Purwokerto, Fudji mengaku niatan mendaftarkan Mendoan menjadi hak paten merek dagang tidak diniatkan sejak awal. Perlu waktu sekitar dua tahun untuk bisa mendapat hak eksklusif tersebut.

“Dulu saya patenkan usaha saya, ada air minum ada salon dan lain-lain. Saya terpikir juga, mendoan ini sudah ada yang daftarin belum? Nah, ternyata belum. Makanya saya daftarkan, maksud tujuan dan motivasi saya adalah supaya merek ini tidak keluar dari masyarakat Banyumas,” katanya di Rumah Makan Kabayan, Purwokerto, Rabu (4/11).

Usai mendapat hak eksklusif tersebut, ia mengakui tidak pernah memakai nama Mendoan. Diakuinya, mendoan merupakan khasnya masyarakat Banyumas. “Cara dan proses (pembuatan)nya punya masyarakat Banyumas. Kalau merek itu boleh, sah-sah saja dimiiki oleh perorangan, merek bukan hak cipta,” tuturnya.

Meski, memiliki hak eksklusif merek mendoan tersebut, ia tidak pernah berniat menggugat semua orang yang menjual mendoan. “Kalau ada niatan, pasti sudah banyak yang digugat sama saya. Ternyata nggak ada, sekarang di sini aja kita makan pakai mendoan begini terus saya gugat? Ya tidak, buktinya sampai hari ini tidak pernah ada yang digugat,” ucapnya.

Diakuinya, ia pernah belajar tentang mendoan kepada tokoh yang terkenal karena usaha mendoan di Banyumas, Haji Uus. Saat masih hidup, lanjut Fudji, Haji Uus berpesan agar jangan sampai keluar dari orang banyumasan. “Sebelum beliau wafat, banyak yang bilang kalau ini dilestarikan saja bagaimana caranya, bahkan saya ingin supaya UKM-UKM (menjual mendoan) jangan cuma di Banyumas saja tapi menjualnya di luar kota,” katanya.

Lebih jauh, dia mengungkapkan kebingungannya karena pada prinsipnya, sesuai aturan yang dipahaminya semua warga negara Indonesia berhak untuk mematenkan merek. “Jadi itu sah, buktinya juga terbit merek itu. Tetapi kalau contohnya saya mematenkan hak cipta mendoan itu atas nama saya, begitu divalidasi dan ketahuan bukan saya yang bikin, bisa muncul gugatan,” paparnya.

Pria kelahiran 1968 ini pun mengemukakan keresahannya kepada pewarta yang meliput. Ia mengaku ada yang harus dipertanyakan dengan kondisi yang terjadi selama ini dalam dunia hak kekayaan intelektual tersebut. “Sekarang misal pertanyaan saya, kalau yang patenkan merek ini orang Malaysia? Kan lebih tidak terima, wong aku wong Purwokerto, lahir disini,” tuturnya.

Bagi pria yang saat ini menggeluti usaha air minum dalam kemasan ini, setelah ramai pemberitaan kontroversi Mendoan ini, belum bisa memprediksi yang terjadi selanjutnya. Namun, ia berjanji akan kooperatif terhadap semua resiko yang ada.

“Saya tidak tahu setelah pertemuan hari ini, apakah akan diminta langsung oleh yang menerbitkan HAKI ini untuk diambil lagi, ya tidak masalah. Kalau nanti teman-teman mau minta surat resmi dicabut untuk kepentingan masyarakat, atau Pemda Banyumas atau apalah misalnya, ya silahkan. Kalau hukumnya kayak begitu ya kita manut toh, kenapa tidak,” ujarnya.

http://purwokertokita.com/peristiwa/fudji-wong-kalau-yang-patenkan-merek-mendoan-ini-orang-malaysia.html