11986533_10204951917017490_4129717987818129536_n

Berawal dari sebuah postingan warga di Group Facebook Group Cilongok City mengenai profil nenek Sandinem ini, akhirnya menggerakan warga khususnya warga Kecamatan Cilongok Kab. Banyumas untuk membantu nenek Sandinem ini, yang merupakan warga Desa Pageraji RT 2 RW 9, Kec. Cilongok, Banyumas. Dan aksi penggalangan dana pun sudah dilakukan di dalam group tersebut. Dan ada juga beberapa orang yang sudah melaporkan ke pihak2 terkait seperti desa dan pemda. Untuk warga di luar Cilongok, ataupun diluar Banyumas bisa saling membantu untuk meringankan beban keadaan ekonomi nenek Sandinem ini dengan menyalurkan dana bantuannya seperti yang tertera di gambar atas.

Semoga dengan bantuan ini kita bisa sedikit membantu keadaan ekonomi nenek Sandinem. Walaupun dimasa sulit seperti ini marilah kita membantu sesama yang lebih membutuhkan sebagai amal jariyah kita.

Gcc

Dan beberapa media di Internet sudah banyak yang memuat artikelnya salah satunya dibawah ini

Sandimen, Nenek 80 Tahun Merawat Dua Anak Depresi

KAKI29

AGUS MUNANDAR, Pageraji

Di usia yang sudah hampir satu abad, harusnya Sandimen warga RT 01 RW 08 Grumbul Karang Nangka Desa Pageraji Kecamatan Cilongok ini menikmati masa tuanya dengan melihat anak cucu dan lebih banyak beristirahat. Tapi, takdir hidupnya berkata lain.

Dengan kondisi tubuh yang untuk berdiri saja harus membungkuk, Sandimen harus merawat kedua anaknya yang mengalami depresi, yakni Sailan (40) dan Narwan (30). Saat Radarmas berkunjung ke rumahnya yang tak layak huni (terbuat dari papan dan belum plester), Sandimen baru saja pulang dari warung membeli minyak goreng, tahu dan juga kopi.

Seorang tetangga, Apri mengatakan, kesehariannya Sandimen mengurus anaknya yang mengalami depresi sejak sepuluh tahun lalu. Mulai dari mencuci pakaian, memasak hingga belanja ke warung dikerjakannya sendiri. Setiap hari pula, keluarga ini mengandalkan bantuan dari tetangga. Kayu bakar yang dikumpulkan kedua anaknya tidak mesti laku terjual.

“Kedua anaknya yang depresi tiap harinya mengumpulkan kayu bakar di sekitar rumah,” katanya.

Menurut Apri, sebelum mengalami depresi, kedua anak Sandimen pernah berkeluarga. Karena bercerai, mereka pun depresi sampai sekarang. “Sejak anaknya depresi, rumah juga jadi tidak terawat dan tidak layak huni,” katanya.

Tak hanya April, tetangga lain secara bergiliran datang untuk memberikan sembako maupun uang. “Ada saja yang datang karena kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Rumah berukuran 4 x 5 itu memang sudah hampir roboh. Pagar rumah yang terbuat dari kayu dan bambu terlihat sudah penuh lubang. Lantai yang masih tanah juga akan becek jika hujan datang. Rumah itu terbagi menjadi empat ruang. Yakni dapur, kamar tidur dan dua ruang lainnya hanya ada tempat tidur dari bambu berukuran kecil serta meja.

Di samping kanan rumah ada ruang mandi atau buang air besar yang kondisinya juga memprihatinkan.  “Kalau Mbah Sandinem tidur di kamar bersama anak perempuan, sementara anak laki-lakinya tidur di atas tempat tidur yang hanya beralaskan bambu. Untuk penerangan juga hanya dari sentir. Pernah dipasang listrik namun anak laki-laki yang stres sering mencopot lampu sehingga aliran listriknya diputus,” jelas Apri.

Terkait status tanah yang ditempati, Apri mengatakan, tanah yang ditempati Sandinem dan dua anaknya adalah tanah miliknya. Ia sudah merelakan dan tidak meminta imbalan karena tanah tersebut sudah ditempati puluhan tahun.

Sementara itu, Sandinem Wartem yang pendengarannya mulai berkurang mengatakan, setiap hari hanya mengandalkan bantuan dari tetangga dan jualan kayu bakar. Tetapi sudah beberapa hari kayu bakarnya belum laku semua. “Nek se iket cilik 500 perak. Sing ikat gede 10 ewu tapi kayu udu blarak. Nek blarak mung 500 perak se iket cilik (Kalau satu ikat Rp 500. Yang ikat besar Rp 10 ribu untuk kayu bukan daun kelapa. Kalau daun kepala hanya Rp 500 satu ikat kecil,” kata Sandinem.

Sementara itu, salah satu warga lainnya Eko Zahra berharap ada bantuan untuk nenek Sandinem Wartem dan dua anaknya. Pasalnya, selain rumah yang terancam ambruk, kebutuhan makan hanya mengandalkan uluran tangan tetangga. “Semoga banyak orang-orang yang peduli dengan kondisi nenek Sandinem Wartem dan membantunya,” harapnya.

http://www.radarbanyumas.co.id/sandimen-nenek-80-tahun-merawat-dua-anak-depresi/

 

Ironi Nenek Sandinem Dibelit Kemiskinan & Jaminan Sosial

 

Ironi nenek Sandinem dibelit kemiskinan dan jaminan sosial

Nenek asuh dua anak gangguan metal di Banyumas. ©2015 merdeka.com/chandra iswinarno

Merdeka.com – Beberapa orang terlihat sedang berkumpul di depan rumah Sandinem Wartem (80), janda tua beranak dua tersebut. Sesekali mereka bercerita tentang kehidupan sehari-hari Sandinem di gubuk reyot yang ditinggalinya sejak puluhan tahun itu.

Potret rumah tinggal Sandinem dan keluarganya, jauh dari kata cukup. Maklum saja, kedua anaknya mengalami depresi sejak 10 tahunan lebih. Sandinem sendiri menjanda saat usianya 60 tahun, karena suami tercintanya meninggal sekitar 20 tahun silam. Rumah reyot berukuran panjang empat meter dengan lebar lima meter itu, masih tetap berdiri meski beberapa bagiannya sudah rusak dimakan usia. 

Dinding rumah yang hanya berupa anyaman bambu, mulai nampak rampuh dimakan usia. Pun bagian depan rumah tak ubahnya seperti rumah rusak. Dalam rumah beralas tanah, Sandimen Wartem tinggal bersama kedua anaknya, Saliah (50) dan Narwan (43) di Grumbul Datar RT 01/RW 08 Desa Pageraji Cilongok Banyumas Jawa Tengah. Hidupnya jauh dari hiruk pikuk modernitas masyarakat yang tempat tinggalnya sudah teraliri listrik. Tak ada televisi, radio atau benda listrik lainnya. 

Pun selama ini, Sandinem hanya mengandalkan kayu bakar untuk memasak. Dalam rumahnya, hanya ada dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur yang semuanya disanggah bambu dan nyaris ambruk. “Ya seperti ini kondisinya,” ujar Sadinem yang hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Banyumas.

Menurut Ketua RT 01/RW 08 tempat Sandinem tinggal, Ahmad Solekhudin Yanto, rumah Sandinem sudah berkali-kali diperbaiki warga. Namun kondisinya, selalu rusak lantaran tak ada keluarga Sandinem yang mampu merawat rumah tersebut. Selain itu, kondisi keluarga Sandinem saat ini hanya mengandalkan belas kasih warga sekitar. 

“Sejak saya menjadi ketua RT, nama keluarga Bu Sandinem tidak termasuk dalam keluarga penerima Jamksesmas. Mereka hanya mendapat raskin yang selama ini harus diambil sendiri. Padahal, Ibu Sandinem mengalami kesulitan untuk berjalan,” ujarnya.

Kepedulian masyarakat di lingkungan tempat tinggal Sandinem, jelasnya, cukup tinggi. Meski begitu, Yanto mengaku warga tidak semuanya memiliki kemampuan berlebih secara ekonomi. “Kami sebenarnya berharap ada bantuan dari pemerintah untuk membantu Ibu Sandinem,” jelasnya.

Meski tinggal di rumah yang nyaris roboh, Sandinem menerimanya dengan lapang dada. Diakuinya, beberapa waktu terakhir ada beberapa bantuan yang didapatnya dari warga yang datang. “Biasanya mereka meminta saya untuk memegang uang, biasanya uang itu untuk keperluan sehari-hari,” ucap Sandinem yang saat ini berjalan dengan menggunakan tongkat berukuran satu meter.

Sebenarnya selama ini Sandinem mengandalkan hasil penjualan kayu bakar yang dikumpulkan kedua anaknya untuk bertahan hidup. Namun, diakuinya kayu bakar yang dikumpulkannya tidak ada pembeli. Harga seikat kayu bakar dijual dari Rp 500 hingga Rp 10 ribu. 

“Nek se-iket cilik 500 perak, sing ikat gede 10 ewu, tapi kayu udu blarak. Nek blarak mung 500 perak se-iket cilik (Kalau satu ikat Rp 500 satu ikat besar Rp 10 ribu untuk kayu, bukan daun kelapa. Kalau daun kepala hanya Rp 500 satu ikat kecil),” kata Sandinem.

Usai adzan zuhur berkumandang, Sandinem menutup pintu depan rumahnya menggunakan papan dan anyaman bambu yang sudah menghitam. Ia pamit menuju sumur milik tetangganya dan harus berjalan sekitar 15 meter dari rumahnya dengan menggunakan tongkat dan menenteng sendal jepit. “Saya mau sembahyang dulu,” ucapnya dalam bahasa banyumasan.

Tak berapa lama, dia kembali dalam kondisi segar usai membasuh badannya. Tak lama, ia bergegas menuju kamarnya yang sebagian besar dinding terbuat dari anyaman bambu dan sudah bolong karena lapuk. Perlahan ia menggunakan mukenanya di atas tempat tidur yang sekaligus menjadi tempat sandangnya. Mukena lusuh pun dikenakan untuk menunaikan ibadah di atas dipan bambu yang beralas kasur tipis.

Sementara di dapur, anaknya Sailah mengupas ganyong, makanan dari umbi-umbian, untuk mengganjal rasa lapar. Sesekali, Sailah berbicara sendiri sambil mengupas helai demi helai kulit ganyong. Menurut seorang tetangganya, Amriah (50), Sailah sudah lama sekali mengalami depresi. “Dari dulu saya tinggal di sini, kondisinya (Sailah) seperti itu,” ucapnya.

Kondisi tersebut diperparah dengan kondisi adik Sailah, Narwan yang juga mengalami depresi sekitar sepuluh tahun lalu. Meski begitu, Amriah dan warga sekitarnya berharap ada perhatian untuk keluarga Sadinem yang saat ini tinggal di gubuk tersebut.

http://www.merdeka.com/peristiwa/ironi-nenek-sandinem-dibelit-kemiskinan-dan-jaminan-sosial.html

Ini beberapa potret kondisi Nenek Sandinem di kediamannya ..

nenek-renta-asuh-2-anak-yang-alami-gangguan-mental-di-gubuk-reyot12002810_10204885202549184_213834706037133627_n20150910155303-1-nenek-asuh-dua-anak-gangguan-metal-di-banyumas-001-nfi20150910155303-2-nenek-asuh-dua-anak-gangguan-metal-di-banyumas-004-nfi

Untuk yang ingin membantu Nenek Sandinem dapat disalurkan lewat admin Group Cilongok City , Bpk Darsono disini BRI a.n Darsono 007701012798539 atau BCA an. Darsono 0460991927

11986533_10204951917017490_4129717987818129536_n