Kenapa Pengungsi Suriah Lari ke Eropa dan Bukan ke Saudi?
Pengungsi melewati perbatasan Macedonia-Yunani dekat Gevgelija, Macedonia, Minggu (6/9/2015). (REUTERS/Stoyan Nenov)
 Ratusan ribu pengungsi Suriah kabur dari negara asalnya dan mencari tempat tinggal baru di Benua Eropa. Jerman, menjadi salah satu negara di Eropa yang menjadi tujuan mereka, karena membuka dengan tangan terbuka para pengungsi.
Namun, kini muncul pertanyaan di benak publik, mengapa mereka rela melarikan diri ke negara yang jauh, sementara, pengungsi Suriah seharusnya bisa meminta bantuan ke negara Muslim ada di samping kanan dan kiri negaranya? Laporan BBC edisi akhir pekan melansir, selama beberapa tahun, sebagian pengungsi Suriah memang menyeberang untuk mencari perlindungan ke Lebanon, Yordania dan Turki. Tetapi, mereka segan menjejakkan kaki masuk ke negara-negara Teluk Arab.

Secara resmi, warga Suriah bisa mengajukan permohonan visa turis atau visa kerja agar bisa masuk ke negara-negara Teluk Arab itu. Tetapi, prosesnya memakan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, sudah tercipta persepsi yang luas, bahwa negara Teluk Arab memiliki batasan tak tertulis yang menyebabkan permohonan visa bagi warga Suriah sulit dikabulkan.

Kebanyakan visa yang dikabulkan pun, disebabkan, sudah ada anggota keluarga yang lebih dulu berada di negara-negara Teluk Arab, atau mereka sendiri yang sudah berada di sana lalu memutuskan memperpanjang masa tinggal.
Sementara, tanpa visa itu, warga Suriah tidak diizinkan masuk ke negara-negara Arab. Mereka hanya bisa masuk ke Aljazair, Mauritania, Sudan dan Yaman. Kondisi di beberapa negara itu pun tidak jauh lebih baik ketimbang di negara asalnya.
Para pengungsi Suriah kemudian memiliki mimpi untuk bisa membangun kehidupan baru di Eropa. Selain itu, di Eropa terbuka kesempatan untuk memperoleh status pengungsi atau pencari suaka. Jika status itu berhasil dikantongi, maka mereka bisa membangun kehidupan baru.
Pekerja asing
Selain itu, menurut Wakil Kepala Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Catham House London, Jane Kinninmont, negara-negara Teluk Arab bukan penandatangan konvensi internasional mengenai hak-hak pengungsi seperti yang dilakukan negara barat. Kinninmont juga menyebut kehadiran pekerja migran yang sudah ada di negaranya kian menyebabkan kekhawatiran.
“Kekhawatiran mereka yaitu jika mereka mulai mengakui suaka politik maka hal tersebut bisa berpotensi membuka pintu pekerja migran lainnya yang bersifat temporer untuk tinggal permanen di negara-negara itu. Hal tersebut, akan menimbulkan beragam isu yang kompleks,” kata Kinninmont seperti dikutip laman Bussiness Insider.
Angka pekerja migran di negara-negara Teluk Arab, kecuali di Arab Saudi dan Oman, sudah melebihi jumlah penduduk asli. Jumlah tenaga kerja asing di Oman telah mencapai 88,5 persen. Sedangkan di Uni Emirat Arab mencapai 99,5 persen.
Namun, Kinninmont mengatakan tidak semua negara Teluk Arab berpaling dari penderitaan pengungsi Suriah. Negara seperti Kuwait menjadi donor terbesar bagi pengungsi itu. Kuwait juga menjadi negara keempat terbesar di dunia dalam hal menggelontorkan dana sumbangan bagi pengungsi Suriah.
Secara garis besar, belum ada komitmen nyata yang ditunjukkan oleh sebagian besar negara-negara Teluk Arab itu menyebabkan mereka kini dikritik oleh publik.