Jaman Dulu Di Pulau Jawa Pernah Menjadi Habitat Kera Raksasa Purba Ini! Walau fosil yang ditemukan berupa tulang rahang yang diduga milik manusia, akan tetapi, saat menganalisis ukuran dua gigi geraham yang besar, pihak Balai Arkeologi Yogyakarta meyakini bahwa fosil tersebut bukan milik manusia, melainkan kera raksasa atau Gigantopithecus.

Hal ini semakin membuka pertanyaan besar bahwa selama ini Gigantopithecus atau kera raksasa yang ukurannya mencapai 3 meter dipercaya hanya tersebar di Tiongkok, Asia Selatan, dan wilayah Vietnam yang dekat dengan Tiongkok.

Rahang gigi yang ditemukan di Nusantara Ini ditemukan oleh warga pada bulan Juli lalu.

Kita berhasil mengonfirmasi bahwa ini milik kera raksasa Jawa,” ungkap Siswanto, Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta.

“Ini temuan pertama di Indonesia,” kata Siswanto. Dia menambahkan, kera raksasa yang ditemukan di Semedo berbeda dengan di Asia Selatan dan Tiongkok. “Kalau di India, misalnya, ukurannya lebih kecil,” imbuhnya.

Beragam Jenis Kera RaksasaJika dikaji lebih dalam kera raksasa atau Gigantopithecus ternyata memiliki beragam jenis yang tersebar di dunia, antara lain G giganteus, G bilaspurensis, dan G blacki. Jenis yang fosilnya dijumpai di Semedo adalah G blacki.Penemuan ini semakin memperkuat fakta bahwa jutaan tahun lalu, daratan Asia dan wilayah Jawa, Sumatera, serta Kalimantan masih tergabung dalam satu pulau raksasa.

Kondisi tersebut memungkinkan hewan darat seperti kera raksasa menyebar hingga ke Tanah Air.Menurut para arkeolog, salah satunya Bapak Siswanto mengutarakan, kera raksasa purba menghuni Jawa pada masa pleistosen hingga lebih kurang 200.000 tahun lalu. Setelahnya, spesies tersebut punah, diduga akibat perubahan iklim.

Perbandingan kera raksasa dan manusia”Ada perubahan iklim mendadak dari ekstrem dingin menjadi kering. Kera raksasa dengan ukurannya yang besar tidak mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sehingga akhirnya punah,” ujar Siswanto.

Menyebar Keseluruh NusantaraSiswanto percaya, kera raksasa tidak hanya bisa dijumpai di Jawa, tetapi juga Sumatera dan Kalimantan. Hanya, kondisi pengendapan di Sumatera dan Kalimantan mungkin tidak mendukung terawetkannya tulang sehingga fosil tak ditemukan.IlustrasiIlustrasi videoSiswanto menguraikan temuan fosil kingkong purba tersebut dalam acara kuliah umum di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. Dalam acara itu, dia juga menguraikan temuan penting lain di situs Semedo.

Salah satu temuan lain dari situs Semedo adalah gajah kerdil purba atau Stegodon (pygmy) semedoensis. Jenis stegodon tersebut diyakini endemik Semedo, tak bisa dijumpai di wilayah lain. Dunia arkeologi kali ini tengah dikejutkan dengan temuan baru fosil pertama kera raksasa purba di situs Semedo, Tegal, Jawa Tengah.

Dari hasil penemuan tersebut, semakin membuka teka-teki bahwa & kera raksasa purba atau kingkong pernah hidup di Indonesia, khususnya tanah Jawa.