Curug Nangga, Tempat Wisata Baru di Banyumas

Curug Nangga Banyumas

PEKUNCEN-BANYUMAS – Wilayah Kabupaten Banyumas banyak memiliki potensi wisata alam, Satu lagi, objek wisata air berupa air terjun atau curug, siap dikunjungi wisatawan. Air terjun yang tak kalah besar dan eksotis di dengan curug yang sudah terkenal di Banyumas ini, yakni Curug Nangga di Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas.
Curug yang memiliki tujuh undakan atau tingkatan tersebut, kini tengah jadi booming di kalangan anak muda pecinta alam sebagai tempat tujuan atau destinasi menjelajah alam yang menarik. Pemandangan alam yang disuguhkan sungguh menakjubkan.
Sunarno salah seorang pengunjung asal Pandak Baturraden mengaku takjub akan keindahan Curug ini. “Saya belum lama ini ke Curug Nangga atas ajakan teman-teman, sungguh terperangah menyaksikan keindahan Curug Nangga. Soalnya bentuk curugnya berundak-undak jumlahnya tujuh, luar biasa fantastis,” ujar Nano yang juga perangkat desa itu.

Menuju Curug Nangga kalau dari arah Purwokerto melalui Kota Ajibarang ke arah barat, ada jembatan timbang masih lurus sampai PO.Sumber Alam 100 m ke barat ada pertigaan Cikawung tepatnya di Pangkalan Ojeg Ciakwung belok kiri, terus ikuti jalan itu melewati Desa Semedo naik ke Desa Petahunan, disitu sudah ada petunjuk jalan menuju Curug. “Untuk rute curug ini cukup susah karena jalanya sangat menanjak kita juga masih melalui jalan yang belum beraspal, disarankan wisatawan menggunakan sepeda motor karena lokasi parkirnya masih menumpang di pekarangan penduduk. Dari areal parkir jalan kaki menyusuri jalan setapak makadam sampai ke lokasi curug kurang lebih 1 km” jelas Nano.

Dalam perjalanan menuju Curug Nangga akan disuguhi dengan pesona alam nan indah juga asri. Semua tampak alami karena memang daerah sekitar jarang terjamah oleh orang-orang. Bisa dibilang perjalanan dari tempat pemberhentian menuju curug nangga bisa ditempuh selama 30 menit. Jaraknya sendiri bisa mencapai 2-3 km dengan jalan yang menurun dan juga agak licin. “Kita akan disambut warga dengan ramah dan penuh canda tawa.
Mereka juga sudah membangun beberapa warung kecil di sekitar jalan menuju curug. Jadi kalau yang tidak bawa bekal, tidak usah khawatir karena disana juga sudah ada makan dan harganya pun terbilang murah” katanya
Karena curug nangga butuh pengembangan untuk memasuki area dipungut sumbangan 3ribu rupiah oleh kelompok sadar wisata disana. Setiap hari masih banyak warga yang berkerja bakti membuat jalan alternatif dan tempat wisata tambahan. “Unutk pembelian tiket walaupun tertera nominal 3 ribu, Pokdarwis tidak memaksa, ada juga yang membayar kurang dari nominal atau suka rela” tambah Nano.

Wow! Wisatawan Asing pun Sudah Sampai ke Curug Nangga!

Kini tidak hanya para netizen yang membincangkan keindahan Curug Nangga dan berusaha untuk secara nyata berbondong-bondong datang ke lokasi. Semua sudah terlibat, termasuk Pemkab Banyumas yang direpresentasikan dengan kunjungan Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein ke Curug Nangga pada Minggu pekan lalu (22 Maret 2015) dan menjanjikan anggaran Rp 30 juta untuk membangun jalur akses menuju Curug Nangga.

Bupati Banyumas di Curug Nangga

Bahkan, sebuah rombongan kecil Tim Survey terdiri dari Dr Ali Rokhman, dekan Fisip Unsoed, Dr Rawuh Eko Priyono, MSi, Kepala Pusat Penelitian Budaya Daerah & Pariwisata LPPM UNSOED, dkk melakukan jelajah telusur jalur wisata Waduk Penjalin, Winduaji, Paguyangan, Kabupaten Brebes menuju ke Curug Nangga pada Kamis 26 Maret 2015. Tim ini mencoba melihat kemungkinan mengintegrasikan potensi wisata yang saling berdekatan antar wilayah kabupaten.

Hal ini menggambarkan perhatian besar baik dari pemerintah, unsur perguruan tinggi dan tentu saja masyarakat yang saat ini sedang giat menata jalan setapak menuju Curug Nangga agar nyaman dilalui para pengunjung.

Menjadi pertanyaan banyak orang adalah mengapa Curug Nangga baru terkenal sekarang? Bukankah Curug Nangga sebagai bagian dari alam sudah terbentuk sejak dahulu, sama seperti curug-curug (air terjun) lain di Banyumas: Curug Cipendok, Curug Ceheng atau Pancuran Pitu Baturaden.

Apakah karena lokasinya jauh dari akses jalan raya?

Menurut Pardi (50) seorang warga Ajibarang Kulon, sejak tahun 80-an sebenarnya Curug Nangga sudah menjadi tujuan bermain anak-anak remaja Ajibarang. Namun remaja-remaja Ajibarang era 80a-an datang ke Curug Nangga bukan datang untuk menikmati keindahan curug atau air terjun, tetapi untuk memancing ikan pelus, yang konon banyak hidup di sungai-sungai sekitar Petahunan di sekitar Curug Nangga. “Kalau dulu sudah ada internet, mungkin tahun 80-an itu Curug Nangga sudah terkenal … hehehe..”, katanya berseloroh.

Yang jelas karena aksesnya yang sulit sehingga tidak terbayangkan orang akan menuju kesana. Petahunan itu pelosok, dan anak-anak asal daerah Curug Nangga, pun merasa dulu sering diejek sebagai ‘orang pinggiran’. “Kini ternyata banyak orang kota datang ke Petahunan, semoga Petahunan semakin maju dan tidak diejek sebagai pelosok lagi”, kata seorang Facebooker dengan akun Rogo Jampi yang mengaku berasal dari daerah Petahunan.

Kini tiap hari Curug Nangga dikunjungi antara 200 hingga 300 orang. Bahkan di akhir pekan, Sabtu-Minggu, jumlah pengunjung bisa mencapai 3000-an. Jumlah ini tentu mengalahkan jumlah pengunjung curug yang sudah lebih dulu popular, yaitu Curug Cipendok. Dalam kunjungan BanyumasNews.Com Sabtu pekan lalu (21 Maret 2015) bahkan bertemu dengan dua orang wisatawan asing dari Jepang. Wow! Ternyata wisatawan asing pun mulai kenal Curug Nangga.

Tanggapan tokoh-tokoh mengenai Curug Nangga sungguh membanggakan. Khotibul Umam Wiranu, misalnya, politisi Partai Demokrat kelahiran Purwokerto itu lewat akun twitter @Umam_Wiranu ngetwit: Laksana langit 7 tingkatan indah @munzirmadjid: Curug Nangga, Petahunan, Pekuncen: Air Terjun 7 Tingkat .

Setiap pengunjung terperangah menyaksikan keindahan Curug Nangga. Ada yang membandingkan seperti di obyek wisata Curug Malela, Bandung, karena bentuk curugnya yang berundak-undak dan jumlahnya (tangga) ada tujuh. Fantastis!

Salah satu foto terbaik Curug Nangga oleh Ibnu Arkhan (@inoekhan)

Akses menuju Curug Nangga

Ancar-ancar masuk Semedo/Petahunan dari jalan raya Purwokerto-Tegal sebenarnya gampang dikenali. Apalagi kalau Anda dtaang dari arah selatan (Ajibarang). Dari Ajibarang setelah melewati jembatan timbang, jembatan Kali Tonjong, terus saja sampai sebuah Rumah Makan besar (Rest Area) PO Sumber Alam. Nah kira-kira 100 meter setelah rest area bus Sumber Alam ada pangkalan ojek di pertigaan Cikawung. Nah dari pertigaan pangkalan ojek ini ke arah barat (belok kiri kalau dari Ajibarang).

Dari pertigaan Cikawung menyusuri jalan menuju Desa Semedo dan Desa Petahunan. Melalui jalur ini kita akan menemui tanjakan demi tanjakan. Kondisi jalan beraspal dan sepanjang motor Anda sehat, pasti Anda akan sampai ke area parkir yang tidak jauh dari sebuah sekolah madrasah ibtidaiyah (MI, sekolah setingkat SD). Menuju Petahunan memang lebih direkomendasikan menggunakan sepeda motor.

Sebenarnya ada akses lain menuju Petahunan, yaitu dari Karangkemiri. Seperti dituturkan Pardi warga Ajibarang Kulon yang waktu masih remaja sering mancing pelus ke Curug Nangga, dari Karangkemiri belok ke kiri di jalan kecil sebelum masjid Karangkemiri kalau dari arah Ajibarang. Karangkemiri adalah desa setelah pertigaan Legok Pekuncen. Melalui rute Karangkemiri – Petahunan tidak begitu menanjak.Namun lebih banyak pengunjung masih mengambil rute Cikawung-Semedo-Petahunan.

Dari area parkir yang sudah disediakan warga setempat, kemudian menyusuri jalur menuju Curug Nangga dengan berjalan kaki. Jalur yang dilalui seperti menuruni sebuah bukit yang menurut warga jaraknya mencapai sekitar 1 km untuk mencapai curug. Sekitar 20 hingga 30 menit kita bisa sampai ke Curug Nangga.

Beberapa warga kini sedang melakukan perbaikan akses jalan menuju Curug Nangga. Ini jelas akan membantu para pengunjung supaya lebih aman dan nyaman dalam melangkahkan kakinya. Untuk sekarang ini, jalan yang menuju Curug Nangga terbilang licin dan agak berbahaya jika tidak hati-hati.

Ada beberapa warga yang sudah membuat warung-warung kecil layaknya warung makanan dan minuman yang berada di obyek-obyek wisata. Ini jelas efek ekonomi yang langsung bisa dirasakan oleh warga setempat. Warga Petahunan umumnya sangat ramah dengan raut wajah mereka yang tidak pernah mengkerut sedikitpun kepada pengunjung. Wajah mereka selalu dihiasai dengan senyuman dan candaan. Ini modal sosial yang sangat bagus untuk pengembangan wisata, selain ‘modal alam’ yang sudah sangat eksotik itu.

Jalan setapak ke Curug Nangga dan kreatifitas warga

Selama kurang lebih 30 menit jalan kaki tentu capai, apalagi yang jarang berolahraga. Tetapi rasa capai akan segera hilang begitu kita makin dekat ke Curug Nangga. Dan… wow!!! Ternyata memang benar, ada 7 tingkatan di Curug Nangga jika dihitung dari bawah sampai atas. Ini sebuah keindahan alam yang sulit bagi kita untuk tidak takjub!

Selain keindahan curug Nangga sendiri, pemandangan alam sekitar curug masih sangat asri, dengan pemandangan persawahan yang berundak-undak seperti membentuk anak tangga. Makanya Bupati Banyumas dalam kunjungannya ke Curug Nangga meminta kepada pengelola obyek wisata Curug Nangga dalam hal ini Pokdarwis setempat supaya areal 100 meter kanan-kiri curug harus benar-benar dilindungi keasriannya.

Bantuan dana dari Pemkab seperti dijanjikan Bupati Banyumas tentu akan membuat jalan menuju Curug lebih nyaman dilalui. Dana APBD akan digunakan untuk pengerasan jalan akses menuju Curug Nangga yang saat ini masih berupa tanah.

Selamat datang (di) obyek wisata baru Curug Nangga! (BNC/adhis)

Bupati Banyumas berjalan ke Curug Nangga (FB)

View persawahan sekitar Curug Nangga (rizkichuk.blogspot.com)

http://banyumasnews.com/86477/wow-wisatawan-asing-pun-sudah-sampai-ke-curug-nangga/