Penahanan Florence

Gambar sindiran untuk Florence Sihombing dari pengguna dunia maya akibat ulahnya di media sosial dan tak mau antre di SPBU Jogja. (palingaktual.com)

TEMPO.CO , Jakarta: Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Andreas Soeroso, menilai penahanan Florence Sihombing, mahasiswi pasca sarjana UGM, oleh Kepolisian Daerah Istimewa tidak sekadar berdimensi hukum. Dia menilai ini juga mengandung muatan sosial.

“Ada dampak sosial yang timbul pasca penahanan Florence kemarin,” ujarnya saat dihubungi Tempo, Ahad, 31 Agustus 2014. (Baca: Butet Kartaredjasa: Mbok Florence Dibebaskan…)

Dimensi sosial yang dimaksud Andreas ialah Florence bisa diberi pembinaan ihwal norma dan nilai yang dianut oleh masyarakat Yogyakarta. Sehingga, dia bisa memahami nilai kebudayaan agar kehadirannya bukan menjadi sesuatu yang asing bagi masyarakat setempat.

“Ada prinsip sosiologis yakni relativisme kebudayaan yang dilupakan Florence, bahwa dia harus menyesuaikan dengan nilai kebudayaan setempat. Dengan penahanan itu semoga dia bisa belajar soal perilaku dan adat istiadat masyarakat Yogyakarta,” kata dia. (Baca: Dirut PLN Ikut Membela Florence)

Selain itu, Andreas mengatakan penahanan Florence menjadi sebuah langkah antisipasi agar kemarahan masyarakat Yogyakarta tidak semakin destruktif. Artinya, polisi hendak meredam suasana amuk dan marah yang melingkupi warga Yogyakarta akibat ulah Florence.

“Penahanan itu untuk melindungi Florence apabila ada orang yang hendak berbuat macam-macam padanya di tengah emosi warga Yogyakarta yang kesal dengan ulahnya,” kata dia.

Sebelumnya, Florence Sihombing ditahan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu, 30 Agustus 2014, sekitar pukul 17.00 WIB. Florence ditahan karena dianggap tidak kooperatif dengan petugas kepolisian yang memeriksanya.

Adapun pasal yang dikenakan untuk menjerat Florence yaitu Pasal 27 Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik. Selain itu dikaitkan dengan Pasal 310 dan 311 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, yaitu penghinaan atau menista dan menyerang kehormatan serta mencemarkan. (Baca: Hina Warga Yogya, Florence ‘Ratu SPBU’ Menyesal )

Nama Florence Sihombing dikenal setelah ramai diperbincangkan di Internet. Pasalnya, Florence memaki kota pelajar itu dalam jejaring sosial Path dan Twitter dengan kata-kata celaan yang membuat marah warga Kota Gudeg.

Celaan itu dilontarkan Flo setelah dia kesal akibat tidak bisa mengisi Pertamax dan menyerobot antrian di SPBU Lempuyangan, Yogyakarta. “Jogja miskin, tolol dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal di Jogja,” tulis Florence.

RAYMUNDUS RIKANG R.W

 

http://www.tempo.co/read/news/2014/09/01/058603481/Penahanan-Florence-Ratu-SPBU-Berdimensi-Sosial