TRIBUNNEWS.COM, MEDAN – Proses pelaksanaan upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia ke 69 di Lapangan Merdeka, Minggu (17/8/2014), tak berjalan maksimal.
Pasalnya ada insiden kecil dimana rok salahsatu anggota Paskibra perempuan nyaris lepas ketika sedang membentuk formasi.
Dari pantauan www.tribun-medan.com, setelah bendera merah putih dinaikkan, dan komandan Paskibra melapor kepada inspektur upacara, salah seorang anggota paskibra perempuan, memegang rok dengan kedua tangannya. Aksi janggal ini pun membuat masyarakat serta awak jurnalis memperhatikannya.
Tepat setelah tim paskibra akan kembali ke posisi awal di sisi kanan pendopo, terlihat secara jelas rok perempuan tersebut nyaris lepas. Siswi yang diketahui bernama Dhea Siregar asal Kabupaten Serdangbedagai ini terus memegang rok sambil berjalan agar tak terus melorot. Namun stocking berwarna putih yang ia kenakan sudah terlihat secara jelas.
Beberapa pembina tim Paskibra langsung membawa perempuan tersebut ke toilet. Hingga berita ini dimuat, anggota Paskibra itu tak kunjung muncul. Beberapa rekannya juga enggan memberikan komentar. (cr6/tribun-medan.com)

http://www.tribunnews.com/regional/2…bentuk-formasi

Untung aja cepat ditanganin, coba kalo nggak cepat ditanganin, kira2 reaksinya kayak mana

Ini pic-nya

Salah satu Pasukan pengibar bendera (Paskibra) memegang roknya yang nyaris lepas saat mengikuti upacara HUT ke-69 Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka, Medan, Sumut, Minggu (17/8/2014). Insiden tersebut terjadi ketika salah satu anggota Paskibra perempuan nyaris lepas saat sedang membentuk formasi pengibar bendera merah putih upacara HUT ke-69. (TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI)

Salah satu Pasukan pengibar bendera (Paskibra) memegang roknya yang nyaris lepas saat mengikuti upacara HUT ke-69 Kemerdekaan RI di Lapangan Merdeka, Medan, Sumut, Minggu (17/8/2014). Insiden tersebut terjadi ketika salah satu anggota Paskibra perempuan nyaris lepas saat sedang membentuk formasi pengibar bendera merah putih upacara HUT ke-69. (TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI)

http://www.tribunnews.com/images/reg…ra-melorot#img

Sumber ; http://www.kaskus.co.id/thread/53f0d181582b2ee3168b4646/rok-anggota-paskibra-nyaris-lepas-saat-bentuk-formasi-paskibra/
Ini tanggapan masyarakat tentang pemberitaan tersebut diatas yang dirangkum dalam sebuah artikel di kompasiana

Memberitakan Rok Paskibraka Melorot, Media Tribune Dikecam

Media Tribunnews.com pada bagian regional memberitakan upacara peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus di Lapangan Merdeka, Medan. Bukan hanya seremoni upacara saja yang diberitakan, tetapi juga pernak pernik yang menyertai upacara itu. Salah satunya tentang Rok Anggota Paskibra Nyaris Lepas Saat Bentuk Formasi. Kontan saja pemberitaan itu dikecam oleh banyak pembaca.

 

Berikut kutipan beritanya :

setelah bendera merah putih dinaikkan, dan komandan Paskibra melapor kepada inspektur upacara, salah seorang anggota paskibra perempuan, memegang rok dengan kedua tangannya. Aksi janggal ini pun membuat masyarakat serta awak jurnalis memperhatikannya.



Tepat setelah tim paskibra akan kembali ke posisi awal di sisi kanan pendopo, terlihat secara jelas rok perempuan tersebut nyaris lepas. Siswi yang diketahui bernama Dhea Siregar asal Kabupaten Serdangbedagai ini terus memegang rok sambil berjalan agar tak terus melorot. Namun stocking berwarna putih yang ia kenakan sudah terlihat secara jelas.Beberapa pembina tim Paskibra langsung membawa perempuan tersebut ke toilet. Hingga berita ini dimuat, anggota Paskibra itu tak kunjung muncul. Beberapa rekannya juga enggan memberikan komentar.”

 

Beragam reaksi yang muncul atas pemberitaan itu. Tercatat sejak artikel ini ditulis telah ada 12 tanggapan langsung di laman berita itu, 773 komentar di Facebook. Hampir semua komentar pembaca itu mengecam dan menyayangkan pemberitaan yang dilakukan media Tribune.

 

Kecaman itu banyak muncul di link media Facebook tribune sendiri. Beberapa inti kecamannya sebagai berikut :

·

  • Jurnalis Tribune sepeti kekurangab berita, bodoh, biadab karena telah memberitakan hal yang tak patut diberitakan dan tak perlu dibesar-besarkan.
  • Kejadian ituseharusnya tak perlu diberitakan
  • Media Tribune menjatuhkan namanya sendiri dan dianggap media yang tidak bermutu.
  • Menyayangkan Tribune, karena paskibra adalah seorang putra terbaik, berprestasi dan terpilih, berita itu membuat hancur mental dia yang telah susah payah latihan.
  • Tribune dianggap tidak pantas memuat berita yang memalukan, dan merupakan aib orang lain
  • Dan lain-lain…

Secara redaksional, kecaman itu banyak yang berupa kata-kata kasar dan tidak pantas. Tersebutlah nama-nama binatang ditujukan ke media Tribune.

Ada dua hal yang saya pikirkan, pertama : sejauh mana sebuah kejadian patut dan tidak patut diberitakan? kedua : apa tujuan sebuah kejadian diberitakan? ketiga: bagaimana cara menanggapi berita yang tidak bikin nyaman?

 

Saya mencoba mencari jawabannya sendiri. Dan semoga pembaca Kompasiana bisa urun rembuk membahas tentang sebuah pemberitaan yang layak atau tidak layak. Anggap saja kejadian upacara bendera di Medan itu sebagai suatu contoh. Karena banyak kejadian lain yang mungkin lebih besar.

 

Tanpa bermaksud berpihak kepada media Tribune, saya melihat bahwa tugas seorang jurnalis atau media adalah memberitakan apa yang dilihat langsung dari suatu kejadian yang bersifat publik. Termasuk bila ada kejanggalan atau keanehan pada kejadian besar dan penting yang juga dilihat orang banyak. Dengan pemberitaan itu diharapkan ada pembelajaran yang bisa didapatkan, agar tidak terjadi lagi dikemudian hari,  dimanapun di belahan negeri ini.

Konteks kejadian upacara kemerdekaan di Medan itu merupakan ranah publik. Bukan ranah pribadi, walau yang mengalami aib langsung adalah seorang putri tunas bangsa yang terpilih dan berprestasi. Namun ketika dia sudah tampil di lapangan upacara sekelas hari peringatan kemerdekaan tingkat propinsi, dia bukan lagi sebagai pribadi melainkan milik publik, dia adalah petugas publik. Pemberitaan kejadian di lapangan upacara itu bukan membongkar aib pribadi seseorang, melainkan pemberitaaan kepada publik atas kejanggalan yang terjadi pada seorang petugas publik.

Publik tentu perlu tahu kejanggalan yang terjadi di ruang publik yang dilakukan seorang ’petugas publik’ terpilih. Apalagi masyarakat secara langsung terlibat dalam kegiatan dan melihatnya. Infestigasi atau pemberitaan media diperlukan untuk menjawab apa yang terlihat janggal oleh publik, sehingga tidak timbul pemikiran liar di luar konteks kejadian janggal tersebut.

 

Dibalik seorang petugas pengibar bendera Upacara Kemerdekaan RI tingkat propinsi terdapat lembaga negara yakni pemda setempat, tentara (pelatih), panitia, dan lain-lain yang terkait. Sebagai lembaga negara tentu harus mempertanggungjawabkan hasil kerja mereka di hadapan publik. Secara kebetulan, salah satu pertanggungjawaban itu secara langsung di lapangan upacara. Berhasil tidaknya upacara itu adalah hasil kerja lembaga yang dibiayai tidak sedikit oleh rakyat. Lalu, bagaimana mereka bekerja sehingga hal kecil yang memalukan bisa terjadi? Bagaimana panitia mempersiapkan setiap paskibara untuk tampil?

 

Bagaimana pendapat pembaca Kompasiana?

Terimakasih

Oleh ; Pebriano Bagindo

 

Sumber ; http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2014/08/17/memberitakan-rok-paskibraka-melorot-media-tribune-di-kecam-673641.html