2014-07-08%25252005.56.36
Indikasi ada aktor yang merancang skenario kericuhan proses pemungutan suara di Victoria Park, Hong Kong, Minggu, 6 Juli 2014 untuk menaikkan citra salah satu pasangan Capres dan menjatuhkan pasangan yang lain semakin tercium.
Ini terungkap setelah Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Muhammad yang turut memantau secara langsung di lapangan memberikan tanggapan. Ketika itu, Muhammad bersama dengan dua anggota KPU, Sigit Pamungkas dan Juri Ardiantoro.

“Saya Muslim. Apa yang sampai di Tanah Air itu adalah blow up media yang luar biasa. Sekali lagi saya seorang Muslim saya tidak mau menggadaikan puasa saya,” kata Muhammad saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin 7 Juli 2014, sebagaimana dikutip dari vivanews.
Muhammad menegaskan petugas tak mungkin tidak melayani hak warga negara jika mereka sedang dalam posisi mengantre di TPS. “Kami pastikan kalau ternyata lewat dari jam lima dia masih mengantre, saya akan sampaikan kepada Sigit dan Juri yang saya bawa, Anda harus layani,” ucapnya.
Namun, lanjut dia, TPS saat itu sudah kosong. Lalu, 30 menit setelah dinyatakan ditutup tiba-tiba segerombolan orang datang menyatakan bahwa mereka belum memilih.
“Sementara jarinya sudah warna hitam semua,” kata Muhammad.
Muhammad lalu bertanya kepada mereka, apakah sudah memilih atau belum. Lantas mereka menjawab, “Sudah Pak!”.
“Ini solidaritas kami kepada beberapa orang yang belum memilih. Tapi media menganggap orang itu belum memilih. Demi Allah tidak seperti itu,” tuturnya.
Sebelumnya diberitakan, kericuhan proses pemungutan suara di Hongkong ramai diberitakan oleh media-media pendukung Jokowi. Apalagi dalam beberapa rilis disebut bahwa massa berteriak sambil menyebut nama Jokowi berulang kali seakan ingin menunjukkan bahwa hanya pemilih Jokowi saja yang dihalangi untuk melakukan pencoblosan.
Kompas bahkan menampilkan gambar TKI yang protes dengan mengambil dari Facebook Adrian Napitupulu, anggota Timses Jokowi-JK yang sangat jelas kebenciannya kepada Prabowo-Hatta.
TPS sudah tutup, massa sudah sepi, lalu tiba-tiba ada yang demo bergerombolan dan meneriakkan Jokowi, lalu ada foto di Facebook Adrian Napitupulu, dan diblow up oleh media pendukung Jokowi-JK.
Hmmm…