Prabowo Ternyata Masuk Dalam Buku Harian Tokoh Soe Hok Gie, Ini Isinya

https://toelank.files.wordpress.com/2014/06/aeb51-prabowosoehokgie.jpg

 

 

Bisnis.com, SOLO – Kisah sukses Prabowo Subianto di bidang militer barangkali sudah jamak terdengar. Eks Danjen Kopasus ini tak perlu diragukan lagi. Tapi, tahukah Anda? Prabowo ternyata pernah disebut dalam catatan harian tokoh ternama, Soe Hok Gie.

Nama prabowo sempat muncul di buku Catatan Seorang Demonstran yang ditulis berdasarkan kumpulan tulisan Soe Hok Gie. Prabowo ditulis dengan sebutan nama “Bowo”. Dalam catatan Soe Hok Gie, nama Prabowo muncul pada 1969.

Diceritakan dalam buku itu Soe cukup dekat dengan Prabowo. Soe selama ini memang dikenal sangat dekat dengan ayah Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo. Ayah Prabowo ini bahkan sering disebut dalam beberapa kesempatan.

Namun cerita kedekatannya dengan Prabowo jarang didengungkan. Soe Hok Gie bercerita dia dan Prabowo sempat keluyuran bareng.

“Dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai,” tulis Gie dalam catatan hari Kamis 29 Mei 1969.

Mereka juga mengurus organisasi yang bernama Pioneer Korps. Soe sering menyebutnya sebagai pionir korpsnya Prabowo. Hal ini seperti mengindikasikan bahwa organisasi itu diprakarsai oleh Prabowo.

Soe Hok Gie punya penilaian sendiri mengenai sosok Prabowo. “Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naïf. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.” tulis di catatan Soe Hoek Gie 25 Mei 1969.

Cerita soal Lembaga Pembangunan juga sempat disebut dalam catatan Soe Hok Gie. Dia misalnya berpendapat secara ekonomis organisasi ini tidak akan dapat berbuat banyak. “Jumlah desa-desa di Indonesia beribu-ribu dan jumlah mahasiswa yang bisa dikerahkan paling hanya beberapa ribu,” katanya.

http://surabaya.bisnis.com/m/read/20140605/94/71959/prabowo-ternyata-masuk-dalam-buku-harian-tokoh-soe-hok-gie-ini-isinya

Prabowo Subianto dan Catatan Soe Hok Gie

Cerita sukses Prabowo Subianto di bidang kemiliteran, sudah banyak yang tahu.

Sepak terjang Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto sebagai seorang prajurit sudah banyak diketahui orang.

Putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini masuk Akademi Angkatan Bersenjata (Akabri) pada 1970 dan lulus empat tahun kemudian dengan pangkat letnan dua. Dia meniti karier militer sampai meraih pangkat letnan jenderal dan menjabat sebagai Panglima Korps Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).

Namun banyak yang tidak mengetahui kehidupan masa remaja Prabowo sebelum dia masuk tentara. Ternyata Prabowo yang lahir pada 1951 ini pernah ikut mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang pemberdayaan ekonomi rakyat. Prabowo aktif dalam kegiatan tersebut walaupun tidak lama.

Cerita soal Prabowo remaja itu diungkapkan aktivis yang kini lebih banyak berkecimpung di dunia bisnis Jusuf Abraham Rawis atau dikenal dengan Jusuf AR. Dia mengaku pertama kali bertemu Prabowo suatu malam, sekitar April 1968. “Ada teman saya, Mahir Algadry, yang mengenalkan seorang anak muda bernama Prabowo,” katanya.

Dari pertemuan itu, kata Jusuf, mereka sepakat menjalankan sebuah LSM yang dinamakan Lembaga Pembangunan. “Itu mungkin LSM pertama di Indonesia,” kata Jusuf yang pernah dipenjara karena dianggap terlibat dalam peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974.

Jusuf bercerita LSM yang dijalankan bersama sejumah aktivis itu bergerak dalam bidang pemberdayaan masyarakat desa. Mereka beberapa kali mengadakan kegiatan di sekitar Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Mereka langsung bergerak ketika mendengar warga Gunung Kidul, Yogyakarta, terkena wabah busung lapar. Lembaga Pembangunan kemudian mengadakan kegiatan pengobatan gratis. Demikian juga ketika mereka membantu memperbaiki irigasi sungai yang buruk di sebuah desa. “Kami mengumpulkan pendanaan dari banyak donatur,” tuturnya.

Dari pergaulan itu, Jusuf AR mengenang Prabowo sebagai anak muda yang kreatif. “Mengagumkan sekali, biar masih muda tetapi ide-idenya banyak, padahal umurnya masih 17 atau 18 tahun,” tuturnya.

Lembaga Pembangunan tidak diikuti Prabowo terlalu lama, dia kemudian mendaftarkan diri kuliah di sejumlah universitas di luar negeri. Sempat diterima di tiga universitas terkemuka di Amerika Serikat, namun akhirnya Prabowo memilih masuk Akabri pada 1970.

Cerita soal Prabowo remaja juga sekilas ada di dalam buku Catatan Seorang Demonstran yang merupakan kumpulan tulisan aktivis mahasiswa Soe Hok Gie. Dalam catatan Soe Hok Gie, nama Prabowo muncul pada 1969. Soe menyebut nama panggilannya “Bowo”.

Soe Hok Gie dan Prabowo tampak cukup dekat. Mereka beberapa kali kerap keluyuran bareng. “Dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai,” tulis Gie pada Kamis 29 Mei 1969.

Mereka juga mengurus organisasi yang bernama Pioneer Korps. Soe sering menyebutnya sebagai pionir korpsnya Prabowo. Hal ini seperti mengindikasikan bahwa organisasi itu diprakarsai oleh Prabowo. Soe juga tampak cukup akrab dengan ayahnya Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo.

Dalam tulisannya, Soe Hok Gie menggambarkan Prabowo masih kanak-kanak cerdas dan cepat tanggap, namun juga masih naif. “Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naïf. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.” (catatan Soe Hoek Gie 25 Mei 1969).

Cerita soal Lembaga Pembangunan juga sempat disebut dalam catatan Soe Hok Gie. Dia misalnya berpendapat secara ekonomis organisasi ini tidak akan dapat berbuat banyak. “Jumlah desa-desa di Indonesia beribu-ribu dan jumlah mahasiswa yang bisa dikerahkan paling hanya beberapa ribu,” katanya.

Wartawan senior Aristides Katoppo membenarkan bahwa Prabowo yang dimaksud Soe Hok Gie adalah Prabowo Subianto. “Mereka memang berteman,” kata Soe Hok Gie. Saking sibuknya berorganisasi, Prabowo tampak seperti tidak terlalu memikirkan urusan asmara seperti remaja pada umumnya.

Wartawan Senior Sinar Harapan Daud Sinjal bahkan mengatakan sepatu yang digunakan almarhum Soe Hok Gie saat wafat di Gunung Semeru adalah sepatu pinjaman dari Prabowo. “Karena mereka dekat, jadi ada cerita sepatu So Hok Gie naik gunung yang dipinjamnya dari Prabowo,” kata Daud.

http://sinarharapan.co/index.php/news/read/22879/prabowo-subianto-dan-catatan-soe-hok-gie.html

 

Prabowo di Mata Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie

 

Seandainya masih hidup, entah apa komentar tokoh muda Angkatan ’66 – Soe Hok Gie yang meninggal dunia dalam pendakian Gunung Semeru, Jawa Timur, tanggal 16 Desember 44 tahun silam, dalam usia 27 tahun, ketika mengetahui sahabatnya Prabowo Subianto yang dibilang kanak-kanak itu mencalonkan diri sebagai Presiden Indonesia 2014.

Dalam buku “Catatan Seorang Demonstran”, tertanggal 25 Mei 1969, Gie menuliskan, bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horizon romantiknya. Karena Gie menilai Bowo panggilan akrab Prabowo waktunya habis untuk urusan organisasi sehingga tidak terlalu memikirkan urusan asmara seperti kebanyakan ABG pada umumnya. Saat itu Prabowo berusia 18 tahun, terpaut 9 tahun dengan Gie yang kelahiran 17 Desember 1942, makanya dibilang kanak-kanak. Entah waktu itu Prabowo tidak kepergok pacaran atau waktunya sibuk oleh aktivitas organisasi, Gie pun menggoreskan catatannya, “Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas tapi naïf. Kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia nyata, ia akan berubah.”

Dalam catatan harian tanggal 29 Mei 1969, adik dari tokoh demonstran Arief Budiman ini menuliskan, dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai. Meski usianya terpaut 9 tahun menunjukkan bahwa keduanya berteman akrab. Kini, bahwa sahabatnya yang dipanggil Bowo itu mencalonkan diri sebagai Presiden 2014.

Gie telah tiada. Semasa hidupnya, Gie yang kuliah Jurusan Sastra – Universitas Indonesia, selain punya hobi mendaki gunung, penulis yang sangat kritis, juga dikenal sebagai intelektual, aktivis kampus dan tokoh demonstran Angkatan ’66. “… ditengah-tengah pertentangan politik, agama, kepentingan golongan, ia tegak berdiri di atas prinsip prikmanusiaan dan keadilan serta secara jujur dan berani menyampaikan kritik-kritiknya atas dasar prinsip-prinsip itu demi kemajuan bangsa,” tulis Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra – UI, di harian Kompas, 26 Desember 1969.

Sementara Pembantu Rektor UI – Nugroho Notosusanto menuliskan bahwa Soe Hok Gie adalah seorang yang jujur dan berani. Dan mengerikan, karena ia maju lurus dengan prinsip-prinsipnya tanpa kenal ampun. Maka sringkali ia bentrol karna dianggap tidak taktis. Entah bagaimana komentar Prabowo Subianto, mengenai sosok sahabatnya ini, Soe Hok Gie.

Perjalanan hidup Gie sempat pula difilmkan oleh produser Mira Lesmana, berjudul “Gie”. Tanggal 16 Desember ini bertepatan 44 tahun meninggalnya Gie, kita diingatkan kembali pada sosok anak muda Gie dengan sebuah pertanyaan besar masih adakah spirit idealisme itu sebagaimana tulis Harsya W. Bachtiar?

Meski jasadnya sudah diperabukan dan ditebar ke laut, tapi setidaknya Gie masih meninggalkan kenangan salah satunya buku “Catatan Seorang Demonstran” dan batu nisan di pemakaman Belanda di Meseum Taman Prasasti – Jakarta Pusat, bertuliskan “Nobody knows the troubles I see nobody knows my sorrow…”

http://m.tribunnews.com/tribunners/2013/12/06/prabowo-di-mata-catatan-seorang-demonstran-soe-hok-gie

 

Prabowo di Mata Warga Sekitar Rumahnya: Ramah, Suka Menyapa dan Royal

 

Melihat Kediaman Prabowo Subianto

Jakarta – Pendiri Partai Gerindra, Prabowo Subianto memiliki rumah dan lahan yang sangat luas di Desa Bojongkoneng, Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Prabowo tadi terlihat naik mobil menuju helipad dalam kompleks rumahnya. Sehari-hari, Prabowo cukup ramah pada warga sekitar.

Rumah Prabowo cukup luas, ditaksir lebih dari 1 hektar atau beberapa hektar. Dari depan, ada gerbang kayu setinggi 2,5 meter. Di kanan-kiri gerbang kayu itu ada pagar tembok, bila ditotal dengan gerbang kayu, panjang 10 meter. Dari gerbang itu, ada jalan menanjak sekitar 500 meter. Di dalam, selain rumah induk terdapat helipad, lapangan gembala kuda, istal, kandang kambing hingga lahan pertanian seperti pisang, cabe, tomat dan semacamnya. Entah, berapa jarak dari rumah induk ke gerbang, yang jelas Prabowo naik mobil Lexus putih saat menuju helipad sebelum akhirnya naik helikopter di dalam kompleks rumahnya itu.

Menurut salah satu warga di sekitar rumah Prabowo, H Sanukri (55), rumah Prabowo dulunya milik Jenderal Istarto Iskandar, mantan Pangdam Diponegoro.

“Kurang lebih 5 tahun (berpindah ke tangan Prabowo, red),” timpal warga lainnya Meiwati saat ditemui detikcom, Jumat (11/4/2014).

Menurut warga lain Acim (55) tak ada yang berani masuk ke dalam rumah induk Prabowo. “Banyak yang jaga,” kata Acim. Sanukri kemudian menimpali, “Banyak anjingnya, takut. Nggak berani saya mah ke atas”.

Prabowo menurut Meiwati, lebih suka naik mobil dibanding helikopter bila tak buru-buru. Meski naik mobil, Prabowo suka menyapa warga. “Orangnya ramah, kalau lewat suka dadah-dadah. Kadang suka berhenti ngasih uang ke anak-anak,” tuturnya.

“Kalo nggak naik heli, nyusahin warga, bikin macet,” bapak Acim

Ada apa saja sih di dalam rumahya? “Ada kuda, ada kambing, ada bebek, ada sapi. Tempatnya misah-misah. Kalo kuda deket rumahnya di atas, kalau bebek di bawah, deket tempat diklat drum band,” kata Acim. Sedangkan Sanukri menimpali kuda Prabowo ada sekitar 17 ekor.

Prabowo, menurut Sanukri, juga membuat tempat pengobatan gratis untuk warga sekitar. Letaknya di kompleks diklat drumband yang dibina Prabowo, sekitar 2 km dari rumah Prabowo.

“Ada tempat pengobatan gratis untuk warga di sini, di diklat. Bukanya 24 jam. Dokternya ganti-gantian. Udah ada rawat inapnya juga. Bapak juga nyiapin bus buat anak-anak sekolah, antar jemput. Kalo nyediain makanan pas acara dari hasil pertaniannya sendiri. Ada pisang rebus, kacang rebus. Lahan pertaniannya di dalem juga. Kurang lebih 4 hektaranlah area rumahnya aja,” kata Sanukri.

Menurut Meiwati, Prabowo suka membuat acara-acara buat warga baik untuk anak yatim, janda, fakir miskin. “Pas puasa, buka bersama-sama warga tapi ya nggak masuk ke dalam rumahnya. Di tenda aja, sering ngundang makan-makanlah,” tuturnya.

http://m.detik.com/news/pemilu2014/read/2014/04/11/184026/2552803/1562/2/prabowo-di-mata-warga-sekitar-rumahnya-ramah-suka-menyapa-dan-royal

Melihat Kediaman Prabowo Subianto

 

Melihat Kediaman Prabowo Subianto