Gunung Slamet: Letusan pertama 1772, terakhir 2009

Gunung Slamet sebenarnya tidak memiliki sejarah letusan besar. Aktivitas yang paling sering muncul biasanya kegempaan, atau kalau meletus berupa letusan kecil seperti yang terjadi Rabu (12/3) pagi tadi, pukul 06.53. Letusan umumnya berupa semburan abu vulkanik berwarna hitam pekat, kendati beberapa kali diwarnai pula dengan semburan lava pijar. Berikut ini sejarah letusan Gunung Slamet, sejak teridentifikasi untuk pertama kali tahun 1772 hingga terakhir 2009, sebelum tadi pagi meletus kembali.

Gunung Slamet meletus

Panorama Gunung Slamet dari Desa Karang Salam, Baturraden, Kabupaten Banyumas.

Gunung Slamet (3.428 m) merupakan gunung tertinggi di Jawa Tengah, dan tertinggi kedua di Jawa setelah Semeru (3.676 m). Sama seperti sebagian besar gunung di Indonesia, Gunung Slamet secara administratif berada di lima kabupaten, yaitu Banyumas, Purbalingga, Tegal, Brebes, dan Pemalang.

Kalau Anda berwisata ke Baturraden (Banyumas), wilayah itu sebenarnya merupakan salah satu kaki Gunung Slamet. Ketika Anda pelesir ke Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, objek wisata ini pun berada di kaki gunung yang sama.

Begitu pula jika Anda rehat di kawasan wisata Moga, Kabupaten Pemalang, serta Perkebunan Teh Kaligua, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes. Semuanya berada di kaki Gunung Slamet.

Boleh dibilang, Gunung Slamet sudah berabad-abad lamanya memberi kehidupan bagi warga di kaki gunung tersebut, pada lima kabupaten sekaligus. Dan, pada era modern, Gunung Slamet juga sangat membantu menumbuhkan industri wisata di daerah-daerah yang mengelilinginya.

Gunung Slamet memiliki ketinggian  dpl dan merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa. Kawah IV merupakan kawah terakhir yang masih aktif sampai sekarang, dan terakhir aktif hingga pada level SIAGA 29 Juni 2009 yang lalu.

Gunung Slamet pertama kali meletus pada tanggal 11 – 12 Agustus 1772. Namun setelah itu, hampir setengah abad, Gunung Slamet terdiam cukup lama, sampai akhirnya meletus untuk kedua kalinya pada Oktober 1825. Ketika itu, gunung meletus dengan menyemburkan abu vulkanik.

Gunung Slamet meletus

Gunung Slamet yang merupakan gunung api tipe A pernah mengalami letusan lumayan hebat pada 1988, ditandai dengan keluarnya abu vulkanik dan lava pijar dari kawah gunung. Namun tetap tidak bisa dibandingkan dengan letusan Merapi dan Kelud yang dahsyat.

Aktivitas vulkanik gunung ini memang tidak menentu. Terkadang dalam setahun bisa beberapa kali menggeliat, namun dalam waktu lama seperti “tertidur”.

Gunung Slamet meletus

DAFTAR LETUSAN GUNUNG SLAMET

Berikut ini adalah daftar panjang sejarah letusan gunung Slamet sejak tahun 1772:

  • 1772: Meletus untuk pertama kalinya, tepatnya pada tanggal 11-12 Agustus.
  • 1835: Pada September, selama dua hari, terjadi letusan abu.
  • 1847: Gunung Slamet mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
  • 1849: Pada tanggal 1 Desember, terjadi letusan abu. Kondisinya mirip letusan Gunung Slamet pada Rabu (12/3) pagi tadi, pukul 06.53.
  • 1860: Pada 19 Maret dan 11 April, kembali terjadi letusan abu.
  • 1875: Pada Mei, Juni, November, dan Desember, terjadi letusan abu.
  • 1885: Pada tanggal 21 – 30 Maret terjadi letusan abu.
  • 1890: Terjadi letusan abu.
  • 1904: Pada tanggal 14 Juli – 9 Agustus, terjadi letusan abu dan lava.

Gunung Slamet meletus

Panorama alam di kaki Gunung Slamet pada tahun 1910.

  • 1923: Pada Juni, terjadi letusan abu dan lava.
  • 1926: Pada November, selama satu pekan, terjadi letusan abu dan lava.
  • 1927: Pada 27 Februari, terjadi letusan abu dan lava.
  • 1928: Terjadi beberapa kali letusan abu dan lava, yaitu pada tanggal 20 – 29 Maret dan 8 – 12 Mei.
  • 1929: Pada tanggal 6, 7 dan 15 Juni, terjadi letusan abu dan lava.
  • 1930: Letusan abu dan lava kembali terjadi pada tanggal 2 – 13 April.
  • 1932: Terjadi dua kali letusan abu dan lava, namun hanya berlangsung singkat, masing-masing pada tanggal 1 Juli dan 12 September.
  • 1934: Gunung Slamet mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
  • 1939: Terjadi beberapa kali letusan abu dalam kurun waktu berbeda, masing-masing pada tanggal 20 Maret, 30 April, 6 Mei, 15 Juli, dan 4 Desember.
  • 1940: Pada tanggal 15 – 20 Maret, serta 15 April, terjadi letusan abu.
  • 1943: Pada 18 Maret dan berlanjut pada 1 – 10 Oktober terjadi peningkatan kegiatan, hujan abu, dan suara dentuman.
  • 1944: Pada tanggal 5 Januari, 30 Juni, selama Juli, dan 28 – 30 Oktober terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
  • 1948: Pada 14 November terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
  • 1949: Kembali terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
  • 1951: Pada 11 Februari, 26 Juni, 2 Juli, 24 Agustus, Oktober, dan 30 Desember, Gunung Slamet terus mengalami peningkatan aktivitas vulkanik.
  • 1952: Terjadi peningkatan aktivitas vulkanik tepat di Tahun Baru, 1 Januari.
  • 1953: Terjadi letusan abu dan lava beberapa kali pada bulan Juli, Agustus, dan Oktober.
  • 1955: Letusan abu dan lava terjadi lagi pada 12 – 13 November, 6 Desember, dan 16 Desember.
  • 1957: Pada tanggal 8 Februari, terjadi letusan abu.
  • 1958: Pada tanggal 17 April, 4 Mei, 6 Mei, 5 September, 13 September, dan Oktober terjadi letusan abu dan lava.
  • 1960: Terjadi letusan abu pada Desember.
  • 1961: Letusan abu kembali terjadi pada bulan Januari, atau sebulan dari letusan sebelumnya.
  • 1966: Terjadi letusan abu.
  • 1969: Selama tiga bulan, yaitu Juni – Agustus, terjadi letusan abu.
  • 1973: Pada Agustus, kawah Gunung Slamet menyemburkan lava.
  • 1988: Pada 12 – 13 Juli terjadi letusan abu dan lava.
  • 1989: Pada tanggal 9 – 31 Oktober terjadi peningkatan aktivitas kegempaan.
  • 1990: Pada tanggal 20 Februari hingga 29 Maret kembali terjadi peningkatan kegempaan.
  • 1991: Peningkatan aktivitas kegempaan terjadi pada tanggal 28 Juni hingga 9 Juli.
  • 1992: Terjadi aktivitas kegempaan cukup lama, mulai 12 Maret hingga 4 April.
  • 1999: Gunung Slamet mengalami erupsi kecil
  • 2009: Terjadi erupsi kecil sepanjang Mei hingga Juni. Puncak gunung mengeluarkan lava pijar, tetapi tertutup kabut dan teramati asap putih tipis-tebal setinggi 25-1000 meter dari puncak.
  • 2014: Pada 10 Maret 2014, sekitar pukul 21.00, status Gunung Slamet dinaikkan menjadi Waspada. Sehari kemudian, terjadi 450 kali letusan kecil. Rabu, 12 Maret 2014, pukul 06.53, Gunung Slamet mengeluarkan letusan abu hitam pekat.

http://simomot.com/2014/03/12/gunung-slamet-letusan-pertama-1772-terakhir-2009/

GUNUNG SLAMET BISA MEMBELAH PULAU JAWA


Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) hingga saat ini masih menetapkan status waspada terhadap Gunung Slamet berlokasi di Jawa Tengah.

“Hingga saat ini PVMBG belum menurunkan status Gunung Slamet, statusnya tetap waspada,” kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan, Kabupaten Pemalang, Sukedi, saat dihubungi dari Purwokerto, Kamis.

Ia mengatakan, penurunan status terhadap gunung api yang baru mengalami peningkatan akan berlangsung lama.

Menurut dia, pihaknya akan terus memantau perkembangan Gunung Slamet dari beberapa parameter sebelum memutuskan menurunkan status dari waspada menjadi aktif normal.

“Namun untuk saat ini kondisi Gunung Slamet relatif aman, tidak ada pengaruh dari Gunung Merapi,” katanya.

Kendati demikian, dia mengakui adanya sedikit kendala dalam pengamatan terhadap Gunung Slamet akibat pengaruh cuaca ekstrem.

Menurut dia, hujan yang turun tiap hari mengganggu aktivitas pengamatan visual.

“Tapi kalau pagi hari masih bisa dilakukan pengamatan visual,” katanya.

 

Seperti diketahui, PVMBG menetapkan status waspada terhadap Gunung Slamet yang berada di Kabupaten Pemalang, Purbalingga, Banyumas, Brebes, dan Tegal sejak 29 Juni 2009.

Spoiler for mitos:

Menurut ceritane wong tua, Gunung Slamet pancen mandan sejen/beda karo gunung-gunung liyane nang tlatah Jawa, Gunung Slamet pancen dudu gunung sing biasa didaki mung kanggo tujuan wisata/rekreasi, hobi utawa mung sekedar pengin naklukaken. Pendakian meng puncak Gunung Slamet biasane kanggo tujuan-tujuan khusus umpamane merga ana alesan spiritual, mulane pendaki-pendaki kudu nglengkapi syarat-syarate ndisit.

menurut cerita orang tua gunung slamet memang sedikit berbeda dengan gunung lain di tanah jawa,gunung slamet memang bukan gunung biasa didaki cuma untuk tujuan wisata/rekrasi,hobi atau sekdear ingin menaklukan,pendakian ke puncak gunung slamet biasanya untuk tujuan kusus,misalnya karena ada alasan spiritual,makanya pendaki2 harus melengkapi syarat2nya dulu



Spoiler for terbelahnya pulau jawa:


Menurut cerita, slamet dalam bahasa Indonesia artinya “selamat”. Setidaknya sejak jaman kakek buyut hingga sekarang gunung tersebut tidak pernah “terbatuk-batuk” apalagi meletus. Keberadaan gunung yang memberikan rasa aman dan tenang selama ini seakan memberikan “keselamatan” bagi masyarakat di sekitarnya. Ada semacam anggapan dimasyarakat bahwa jika sejak dulu gunung slamet tersebut sering meletus atau lainnya maka mungkin sejak dulu pula gunung tersebut tidak akan dinamakan gunung slamet. Itulah mengapa gunung tersebut dinamakan gunung slamet hingga sekarang…
Meski hanya cerita mitos, namun akibatyang dibayangkan sungguh mengerikan. Mitos menceritakan apabila meletusnya gunung slamet akan “membelah” pulau jawa menjadi dua bagian.
Entah itu karena timbulnya rekahan besar yang membentang dari utara ke selatan (dan air laut mengalir masuk hingga menyatu) atau karena masing-masing wilayah di barat dan timur bergeser saling menjauh. Letaknya yang hampir tepat ditengah-tengah antara batas pantai utara dan pantai selatan, serta dikelilingi setidaknya 5 wilayah kabupaten yang berbatasan langsung (Brebes, Tegal, Pemalang, Banyumas, Purbalingga) dan 2 wilayah yang tidak langsung (Kab. Cilacap, Kota Tegal) dimana jika kita lihat di peta akan membentuk suatu garis lurus yang membelah pulau jawa.

Tak terbayangkan akibatnya jika memang akhirnya gunung slamet benar-benar meletus apalagi dengan letusan yang sangat besar, semua wilayah tersebut masuk dalam jangkuan semburan (minimal debu atau awan panas). Meski mitos tak terbukti, namun bisa dipastikan pulau jawa akan lumpuh. Jalur Pantura akan tersendat, jalur selatan tak bisa digunakan dan jalur tengah akan lumpuh total.
Sungguh mengerikan.

http://isidunia.blogspot.com/2011/11/gunung-slamet-bisa-membelah-pulau-jawa.html

Juru Kunci Yakin Gunung Slamet Tak Akan Meletus

Juru kunci yakin Gunung Slamet tak akan meletus

Juru kunci Gunung Slamet Warjono (Foto:Farid Firdaus/Koran SINDO)

Sindonews.com – Meningkatnya status Gunung Slamet dari normal menjadi waspada tidak membuat risau Warjono (75) warga Desa Jurangmangu, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang.

Juru kunci Gunung Slamet itu meyakini gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa ini tidak akan meletus meski menunjukan peningkatan aktivitas.

Meski usianya sudah menginjak 75 tahun, Warjono tampak masih sehat dan bersemangat saat ditemui di rumahnya di RT 07/RW 02, Kamis (13/3/2014).

Desa tempat tinggal Warjono merupakan desa di Kecamatan Pulosari yang terdekat dengan Gunung Slamet. Dari puncak gunung, jaraknya sekitar enam kilometer.

Sebagai juru kunci dan kerap mengantar para pendaki, sudah tak terhitung berapa kali Warjono mendaki Gunung Slamet. Setiap pendaki yang akan naik dipastikan akan meminta diantar Warjono.

“Sudah ribuan. Karena kadang baru pulang mendaki ada tamu (pendaki) lagi ya langsung berangkat lagi,” ujarnya.

Warjono pun mengaku tak khawatir terkait meningkatnya aktivitas Gunung Slamet saat ini. Dia menganggap Gunung Slamet saat ini sedang dehem atau batuk biasa.

“Tidak usah ditakuti. Gunung Slamet tidak akan meletus, karena hanya akan ambles ke bumi saat kiamat. Karena Gunung Slamet yang paling besar tidak ada yang menandingi, kalau tingginya memang ada,” ujarnya.

Warjono menganggap apa yang dialami Gunung Slamet adalah bagian dari siklus alam biasa yang tidak akan sampai membahayakan warga seperti peningkatan aktivitas yang pernah terjadi sebelumnya.

“Karena namanya Slamet yang ada di bawah Gunung Slamet akan selamet,” tandasnya.

http://daerah.sindonews.com/read/2014/03/13/22/844080/juru-kunci-yakin-gunung-slamet-tak-akan-meletus

 

BBM Hoax Soal Gunung Slamet Meletus Bikin Warga Purwokerto Panik

BBM hoax soal Gunung Slamet meletus bikin warga Purwokerto panik

Gunung Slamet batuk. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com – Meningkatnya status Gunung Slamet menjadi waspada sejak Senin (10/3) malam lalu, membuat orang-orang tak bertanggung jawab mengirim broadcast BlackBerry Messenger (BBM) berisi kabar yang menyesatkan. BBM ini menyebar di Purwokerto, dan sempat warga panik.

“Banyak broadcast BBM yang menyesatkan dan tidak jelas sumbernya. Saya sering mendapat laporan seperti itu,” ujar Kristiono (35), saat ditemui di tempat kerjanya, Selasa (12/3).

Diakuinya, banyak warga panik lantaran ada imbauan sesat yang menuliskan agar mereka bersiap mengungsi. “Broadcast seperti itu tidak sekali saja, tetapi berkali-kali. Akibatnya, banyak yang mengikuti saran tersebut,” tuturnya.

Pengalaman serupa juga diakui Dedi (27) warga Baturraden. “Saya sempat bingung, karena malam Selasa kemarin ada broadcast sesat yang mengimbau supaya siap-siap mengungsi,” tuturnya.

Sementara itu, dari pantauan di beberapa wilayah kawasan lereng Gunung Slamet, aktivitas warga masih seperti biasa dan tidak terganggu dengan naiknya status Gunung Slamet.

Sementara itu, Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra Setda Banyumas, Didi Rudwianto mengimbau masyarakat untuk tetap tenang.

“Setiap saat, kami mendapat informasi langsung dari Pos Pengamatan Gunung Slamet di Gambuhan dan PVMBG. Hingga sekarang statusnya masih waspada. Jadi jangan sampai percaya pada isu-isu yang tidak jelas,” katanya.

Menurutnya, guna menangkis isu-isu yang tidak bertanggung jawab, pihaknya hanya membuka satu informasi resmi. Informasi resmi ini, kata Didi, akan disampaikan melalui camat dan kepala desa (kades).

“Kades diharapkan bisa menginformasikan kepada perangkat. Sehingga perangkat bisa langsung memberikan informasi kepada masyarakat, supaya tidak termakan isu-isu yang tidak bertanggung jawab,”katanya.

Berikut isi dua broadcast hoax yang disebarkan melalui BBM:

Sekilas info Warga se-jateng khusus y 5 kota: Banyumas, Tegal, Purwokerto, Purbalingga, Ajibarang. Harap waspada Gunung Slamet Telah aktif di pastikan siaga 3 info pusat BPBA. Sebarkan dan harap di siapkan data2, berkas2 penting y untuk kewaspadaan jika tiba2 suruh mengungsi.”

Sekilas info: Warga se_Jateng khususnya 5 kota: Banyumas, Tegal, Purwokerto, Purbalingga, Ajibarang. Harap waspada Gunung kita Slamet telah aktif di pastikan siaga 3 jadi bisa meletus kemungkinan hari jum’at, info pusat BPBA. Sebarkan dan harap di siapkan data2, berkas2 pentingnya untuk kewaspadaan jika tiba2 suruh mengungsi. @walaupun begitu kita tetap berdo’a mudah2an Gunung kita Slamet tetap Slamet seperti namanya, karna smua takdir ada di Tuhan Aamiin..”

 

http://www.merdeka.com/peristiwa/bbm-hoax-soal-gunung-slamet-meletus-bikin-warga-purwokerto-panik.html