Ilustrasi Kaum Homo – Pompeii

Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia. Pompeii hancur oleh letusan gunung Vesuvius pada 79 M.

Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja.

Semenjak itu penggalian kembali kota ini memberikan pemandangan yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi. Saat ini kota Pompeii merupakan salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata yang di ambil dari artikel harun yahya dan wikipedia tentang pompeii, bencana besar yang menimpa sebuah kota yang identik dengan kemaksiatan dan kemerosotan moral manusia

Lokasi

Pompeii terletak pada koordinat 40° 45′ 2″ LU, 14° 29′ 23″ BT, sebelah tenggara kota Napoli, dekat dengan kota modern Pompei saat ini. Kota ini berdiri di lokasi yang terbentuk dari aliran lava ke arah utara di hilir Sungai Sarno (zaman dulu bernama “Sarnus”). Saat ini daratan ini agak jauh letaknya di daratan, namun dahulu merupakan daerah yang dekat dengan pantai.

Gambar rekayasa komputer tentang letusan Vesuvius,
dari Pompeii di Discovery Channel

Pada abad pertama M, Pompeii hanyalah salah satu dari sekian kota yang berlokasi di sekitar kaki Gunung Vesuvius. Wilayah ini cukup besar jumlah penduduknya yang menjadi makmur karena daerah pertaniannya subur. Beberapa kelompok kota kecil di sekitar Pompeii seperti Herculaneum juga menderita kerusakan atau kehancuran oleh tragedi letusan Vesuvius.

Vesuvius mengubur kota Pompeii

Para penduduk Pompeii, seperti mereka yang hidup di daerah itu sekarang, telah lama terbiasa dengan getaran kecil, namun pada 5 Februari 62 terjadi gempa bumi yang hebat yang menimbulkan kerusakan yang cukup besar di sekitar teluk itu dan khususnya terhadap Pompeii. Sebagian dari kerusakan itu masih belum diperbaiki ketika gunung berapi itu meletus. Namun, ini mungkin merupakan sebuah gempa tektonik daripada gempa yang disebabkan oleh meningkatnya magma yang terdapat di dalam gunung berapi.

Sebuah gempa lainnya, yang lebih ringan, terjadi pada 64, peristiwa ini dicatat oleh Suetonius dalam biografinya tentang Nero, dalam De Vita Caesarum, dan oleh Tacitus dalam Buku XV dari Annales karena hal ini terjadi ketika Nero berada di Napoli dan tampil dalam sebuah pertunjukan untuk pertama kalinya di sebuah panggung umum. Suetonius mencatat bahwa kaisar tidak memedulikan gempa itu dan terus bernyanyi hingga selesai lagunya, sementara Tacitus mencatat bahwa teater itu runtuh setelah orang-orang di dalamnya dievakuasi.

Penulis Plinius Muda menulis bahwa getaran bumi itu “tidaklah begitu menakutkan karena sering terjadi di Campania”.

Pada awal Agustus tahun 79, mata air dan sumur-sumur mengering. Getaran-getaran gempa ringan mulai terjadi pada 20 Agustus 79, dan menjadi semakin sering pada empat hari berikutnya, namun peringatan-peringatan itu tidak disadari orang, dan pada sore hari tanggal 24 Agustus, sebuah letusan gunung berapi yang mematikan terjadi. Ledakan itu merusakkan wilayah tersebut, mengubur Pompeii dan daerah-daerah pemukimanlainnya. Kebetulan tanggal itu bertepatan dengan Vulcanalia, perayaan dewa api Romawi.

Gambaran Lengkap Kota Pompei

Kota Kuno Pompeii, Kota Maksiat yang musnah dalam sekejab

Berlokasi di kaki gunung berapi Vesuvius, kota Pompeii bagaikan menggendong sebuah bom waktu. Selama 17.000 tahun belakangan ini, gunung berapi Vesuvius tidak pernah sepi aktivitas, letusan terakhir terjadi pada 1944.

Sedangkan letusan yang paling terkenal terjadi hampir 2000 tahun silam yakni pada 24 Agustus 79. Letusan kala itu dalam sekejap telah melenyapkan dua kota, satu diantaranya ialah Pompeii.

Senantiasa, Tuhan menggunakan berbagai macam cara untuk memberi peringatan kepada umat manusia, pelajaran dari Pompeii inilah yang sedemikian membuat orang ketakutan.

Bermandikan sinar mentari hangat semenanjung Apennine, di dalam dekapan teluk Naples, wilayah luas Campania. Italia memiliki 4 musim yang ramah dan tanah yang subur, pernah dinobatkan sebagai taman terbahagia di dunia. Hampir 2.000 tahun yang lampau, Pompeii sebagai salah satu kota termakmur dari imperium Romawi, menyambut raja, pangeran dan para pembesar serta khalayak umum yang berdatangan dari manca negara.

Pompeii masa kini dibagi menjadi kota lama dan kota baru, kota lama adalah tujuan kami kali ini. Keluar dari stasiun KA, baru saja belok dari sudut jalan, sekonyong-konyong muncul seekor anjing gelandangan, betul-betul telah mengagetkan kami.

Luas kota kuno Pompeii sekitar 1,8 km2, dikelilingi oleh tembok kota sepanjang 4.800 meter, pada poros timur-barat dan utara-selatan masing-masing mempunyai dua jalan raya yang membagi Pompeii menjadi 9 wilayah, gang-gang kecil saling memotong dan melintang, bangunannnya terlihat agak semrawut tapi enak dipandang.

Permukaan jalan diratakan dengan batu bulat besar (Cobblestone), bekas lindasan kereta meninggalkan cekungan mendalam, menunjukkan kesibukan pada waktu itu. Berlenggang kangkung diantara puing-puing terbesar di dunia, menjelajahi jalan dan gang berusia 2,000 tahun, mau tak mau terbayang kehidupan orang Pompeii kuno.

Pada ke dua sisi jalan terdapat sejumlah kedai arak, pastry, toko buah, toko palen, toko minyak zaitun, toko kecap ikan, bengkel pertenunan, bengkel gerabah, bengkel emas dan perak dan lain-lain yang banyak sekali. Pusat kota adalah pusat kegiatan ekonomi dan keagamaan pada masa itu, puing-puing pilar tinggi besar dan kusen marmer menunjukkan kemakmuran dan kemewahan serta moderenitas masa silam.

Di dalam kota terdapat 3 buah kolam rendam pemandian berskala besar, air sumber dialirkan dari atas gunung dengan ditopang oleh talang air yang berkerangka tinggi, mengalir ke pemandian umum dan kamar mandi pribadi.

Kebudayaan mandi adalah salah satu keunikan Pompeii, membicarakan bisnis, kongkow, bernostalgia semuanya dilangsungkan di dalam kolam pemandian. Di dalam pemandian terdapat ruang ganti, ruang pijat, KM-WC, ubin dengan pemipaan hangat (untuk musim dingin), boleh dibilang itu adalah fasilitas pemandian modern.

Gedung opera yang bisa menampung 5.000 orang, menampilkan pertunjukan musik dan komedi. Arena gladiator berkapasitas penonton 20.000 orang dapat membuat warga kota menikmati pertarungan berdarah. Bangunan berlantai dua betebaran dimana-mana, sangat ekstravagansa. Di dalam kota dimana-mana diliputi gaya royal yang mengobral kenikmatan. Pompeii yang tanpa ikatan moralitas sedang berjalan di tepian jurang kehancuran tapi belum merasakan apa-apa.

Akhirnya, pintu neraka dibuka untuk pompeii, gunung berapi Vesuvius yang berjarak 6 mil telah meledak dengan dahsyat. Lahar panas dalam jumlah mengerikan dilontarkan ke atas langit, untuk kemudian menukik menutupi langit dan menyelimuti bumi, lahar bercampur batu kerikil menerjang ke jalan-jalan dan gang-gang, Pompeii yang dikelilingi gas beracun mengalami kebakaran hebat dan api neraka.

Seiring dengan terus menumpuknya isi gunung berapi, tempat yang makmur dan mewah itu terhapus dari bumi. Setelah lewat 1.000 tahun lebih, Pompeii lambat laun berubah menjadi sebuah legenda.

Persis dengan kemusnahannya, Pompeii ditakdirkan ditemukan kembali. Satu cangkulan yang sepertinya kebetulan, telah menggali misteri sejarah yang berusia hampir 2.000 tahu

Pada 1748 ditemukan batu dengan tulisan ukir Pompeii, orang-orang baru mengetahui Pompeii di dalam dongeng ternyata memang pernah eksis. Hingga pada 1861, Italia secara resmi baru menggerakkan penggalian besar-besaran.

Melalui penggalian dan restorasi selama seratus tahun lebih, kota kuno Pompeii secara perlahan terpampang di hadapan manusia bumi. Sisa jasad orang-orang Pompeii yang berusaha lari dari nasib buruk itu perlahan-lahan lenyap dari dalam abu vulkanik yang berangsur mengeras, membentuk sebuah kepompong yang berongga. Para arkeolog menuangkan gips cair ke dalam “cetakan tubuh manusia” itu dan memamerkannya kepada dunia tentang episode terakhir Pompeii.

Nama Pompeii seiring dengan berlangsungnya pekerjaan penggalian, mulai tersebar di seluruh dunia Barat. Orang-orang mengagumi gedung bangunan dan keseniannya, tapi malah telah mengabaikan tujuan sesungguhnya Pompeii dipamerkan kepada umat manusia.

.Kehidupan yang dipenuhi dengan kegembiraan dan kenikmatan maksimal semacam itu pada akhirnya tidak dipilih oleh Tuhan, maka ia ditakdirkan mengalami kemusnahan. Persis dengan sebuah moto yang tertera pada sebuah mural kota Pompeii: “Tiada suatu benda apapun bisa abadi”, segala materi yang dikejar dengan antusias akan ditakdirkan menjadi kosong.

Tuhan bukannya menyuruh orang-orang eksis demi mengejar keduniawian dan kenikmatan tiada henti, Tuhan selamanya tidak pernah menyuruh manusia hidup seperti itu, manusia di dalam suasana seperti Pompeii kuno hanya mempercepat kemusnahannya sendiri

Demikian sekilas gambaran kota Pompeii …

Pompeii Lenyap selama 16 abad

Lapisan debu tebal menutupi dua buah kota yang lokasinya dekat dengan kaki gunung Vesuvius, sehingga kedua kota ini menjadi hilang dan terlupakan. Kemudian kota Herculaneum ditemukan kembali pada 1738, dan Pompeii pada 1748. Kedua kota ini digali kembali dari lapisan debu tebal dengan membebaskan semua bangunan-bangunan dan lukisan dinding yang masih utuh. Sebenarnya, kota ini telah ditemukan kembali pada 1599 oleh seorang arsitek bernama Fontana yang menggali sebuah jalan baru untuk sungai Sarno, namun membutuhkan lebih dari 150 tahun kemudian barulah sebuah upaya/kampanye serius dilakukan untuk membebaskan kota ini dari timbunan tanah.

Raja Charles VII dari dua Sisilia sangat tertarik dengan temuan-temuan ini bahkan hingga ia diangkat menjadi raja Spanyol. Giuseppe Fiorelli mengambil tanggung jawab ekskavasi pada 1860. Hingga saat itu Pompeii dan Herculaneum dianggap telah hilang selamanya. Di kemudian hari, Giuseppe Fiorelli adalah orang yang menyarankan penggunaan teknik injeksi plester terhadap ruangan kosong dalam tubuh korban Vesuvius yang sudah hancur untuk membentuk kembali permukaan tubuh mereka secara sempurna.

Ada teori tanpa bukti yang menyatakan bahwa Fontana menemukan beberapa fresko erotis selama penggalian yang dilakukannya, namun karena norma-norma kesopanan yang amat kuat saat itu ia mengubur fresko-fresko itu kembali. Hal ini diperkuat oleh laporan-laporan penggalian oleh tim lain sesudahnya yang menyatakan bahwa daerah galian tersebut menunjukkan suasana telah pernah digali dan dikuburkan kembali.

ILUSTARSI BERDASARKAN HASIL TEMUAN BERUPA MAYAT YANG SUDAH MEMBANTU DAN LUKISAN MENGENAI KOTA POMPEII MULAI DARI MASA JAYA SAMPAI PENGHANCURAN OLEH TUHAN KARENA KEMAKSIATAN YANG DILAKUKAN OLEH PENDUDUKNYA

Fakta menyatakan bahwa Pompeii merupakan satu-satunya situs kota kuno di mana keseluruhan struktur topografinya dapat diketahui dengan pasti tanpa memerlukan modifikasi atau penambahan. Kota ini tidak dibagi sesuai dengan pola-pola kota Romawi pada umumnya dikarenakan permukaan tanah yang tidak datar (kota ini berada di kaki gunung). Namun jalan-jalan di kota ini dibuat lurus dan berpola pada tradisi murni Romawi kuno, permukaan jalan terdiri dari batu-batu poligon dan memiliki bangunan-
bangunan rumah dan toko-toko di kedua sisi jalan, mengikuti decumanus dan cardusnya. Decumanus adalah jalan-jalan yang merentang dari timur ke barat, sementara cardus merentang dari utara ke selatan.

Kronologi Bencana Dengan Gambar

ILUSTRASI BENCANA;

SEBUAH KOTA POMPEII YANG SEBELUMNYA TERTATA APIK DAN BAIK

KARENA PENDUDUKNYA YANG RUSAK MORALNYA


MAKA TUHAN MURKA MAKA PADA HARI ITU DIKIRIMKAN SEBUAH BENCANA YAKNI SEBUAH LETUSAN GUNUNG YANG DAHSYAT SEKALI

SEHINGGA PENDUDUK ITU HANCUR BERIKUT KOTANYA

PENGGALIAN TERUS DILAKUKAN

POTO POTO PATUNG FOSIL MAYAT YANG MASIH BERBENTUK

SISA KOTA POMPEII SEKARANG

Pompeii: Mengulang Sejarah Kaum Sodom dan Gomorah (Kaum Nabi Luth/lot)?

Pemusnahan Pompeii dari muka bumi oleh bencana yang demikian dasyat ini tentunya bukan tanpa maksud. Catatan sejarah menunjukkan bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi, akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.

Lava gunung Vesuvius menghapuskan keseluruhan kota tersebut dari peta bumi dalam waktu sekejap. Yang paling menarik dari peristiwa ini adalah tak seorang pun mampu meloloskan diri dari keganasan letusan Vesuvius. Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali pasangan-
pasangan yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan.

Yang paling mengagetkan adalah terdapat sejumlah pasangan yang berkelamin sama, dengan kata lain mereka melakukan hubungan seks sesama jenis (homoseks). Ada pula pasangan-pasangan pria dan wanita yang masih ABG. Hasil penggalian fosil juga menemukan sejumlah mayat yang terawetkan dengan raut muka yang masih utuh. Secara umum, raut-raut muka mereka menunjukkan ekspresi keterkejutan, seolah bencana yang terjadi datang secara tiba-tiba dalam sekejab.

Aspek ini menunjukkan bahwa penghancuran Pompeii mirip dengan peristiwa-peristiwa adzab yang dikisahkan dalam Alqur’an maupun bible tentang penghancuran peradaban kaum Nabi Luth/loth yaitu Kaum Sodom dan Gomorah.

Sekilas kisah Sodom – Gomorah

Masyarakat Sadum atau Sodom adalah masyarakat yang rendah tingkat moralnya, rusak mentalnya, tidak mempunyai pegangan agama atau nilai kemanusiaan yang beradab. Kemaksiatan dan kemungkaran merajalela dalam pergaulan hidup mereka. Pencurian dan perampasan harta milik orang lain merupakan kejadian hari-hari di mana yang kuat berkuasa, sedang yang lemah menjadi korban penindasan dan perlakuan sewenang-wenang. Maksiat yang paling menonjol yang menjadi ciri khas dan budaya hidup mereka adalah perbuatan homoseks di kalangan lelakinya dan lesbian di kalangan wanitanya.

Seorang pendatang yang masuk ke Sodom tidak akan selamat dari gangguan mereka. Jika ia membawa barang-barang yang berharga, barangnya akan dirampas. Bila ia melawan atau menolak menyerahkannya maka nyawanya tidak akan selamat. Akan tetapi jika pendatang itu seorang lelaki yang bermuka tampan dan berparas elok, maka ia akan menjadi rebutan mereka dan akan menjadi korban perbuatan keji lelakinya. Sebaliknya bila si pendatang itu seorang perempuan muda maka dia menjadi mangsa bagi pihak wanitanya pula.

Note : Kisah Nabi Luth dalam Al-Quran terdapat pada 85 ayat dalam 12 surah diantaranya: Surat Al Anbiyaa’ ayat 74 dan 75, Surat Asy Syu’araa’ ayat 160 – 175, Surat Hud ayat 77 -83, Surat Al Qamar ayat 33 – 39 dan Surat At Tahrim ayat 10.

Kisah Lot diceritakan juga dalam Kitab Kejadian 11-14 dan 19. Lot menemani Abraham dalam perjalanannya ke Mesir dan Kanaan (Kejadian 12:1-5).

Pada saat ini, dimana tanda-tanda zaman edan telah dapat terlihat dengan begitu jelas juga,mungkin kembali saatnya peradaban pada saat ini harus kembali diakhiri, dan akan digantikan dengan sebuah peradaban baru yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan peradaban sebelumnya. mungkin manusia-manusia yang akan datang akan mengenal sisa-sisa peradaban kita sebagai sebuah peradaban maju yang hilang ditelan masa, seperti halnya kisah Pompeii yang telah diceritakan diatas, atau seperti kisah peradaban Atlantis dan Lemuria yang tenggelam dimasa silam.

TRAILER FILM POMPEII

Pompeii, Kisah Tragis Kota Perzinahan Yang Dikutuk

KISAH KOTA POMPEII

Setiap tanggal 1 Desember setiap tahunnya, Dunia mengadakan aksi solidaritas yang dinamanakan HARI AIDS SEDUNIA. Tahukah anda darimana AIDS pertama ditemukan? Kasus AIDS pertama ditemukan di AS pada 1981. Tidak Salah lagi, Penjajah Eropa Kulit putih itu juga pernah menularkan penyakit pertama di Benua Eropa oleh Si Pembual ; Christoper Colombus yaitu Penyakit “Raja Singa” atau Sifilis.

Kampanye Hari AIDS sedunia, selalu yang menjadi topik solusi adalah penggunaan KONDOM. Bahkan makin gencar sosialisasi penggunaannya. Astagfirullah.. Seolah-olah mereka berkata “Silahkan Berzina asal pakai KONDOM”.  Naudzubillahi Mindzaalik..

Rasanya aneh apabila peradaban manusia telah membuktikan, kisah Nabi Luth dan Kaum Sodom tidak dijadikan pelajaran?? Bahkan bukti-bukti sangat valid sebab kehancuran Negeri Pompeii adalah akibat seks bebas.. Allah Ta’la berfirman ;

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat” (QS Al-Baqarah [2]:6-7).

Wahai Ummat Rasulullah Sallahu A’laihi Wasallam, bacalah kisah berikut & jadikanlah pelajaran…

Dulu di zaman Romawi pada pemerintahan kaisar Oktavianus (27 SM – 14 M) hiduplah suatu penduduk atau kota yang bernama penduduk / kota Pompeii, tepatnya dekat puing kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Itali. Kota itu didirikan sejak abad ke-6 SM oleh orang – orang Osci, ya’ni suatu kelompok masyarakat di Italia Tengah.

Gunung Vesuvius adalah lambang negeri Italia, khususnya kota Naples. Gunung berapi ini juga dikenal sebagai “Gunung Kemalangan”. Dinamakan demikian karena sebuah kota yang berada di lerengnya pernah bernasib serupa dengan kota Sodom. Kota yang bernama Pompeii ini dihancurkan karena perilaku menyimpang penduduknya. Di masa lalu Pompeii adalah kota tujuan wisata bagi masyarakat kelas atas Kekaisaran Romawi dan menjadi lambang kemakmuran. Gaya arsitektur rumah-rumahnya sungguh memukau. Penduduk Pompeii sangatlah makmur. Sayangnya, bukannya bersyukur kepada Tuhan YME atas kemakmuran itu, mereka malah menjadi bangsa berperilaku menyimpang yang berkubang dalam kemaksiatan.


Pompeii sangat tersohor karena dua hal. Pertama, kota ini memiliki arena pertarungan gladiator kedua terbesar setelah coloseum yang ada di kota Roma. Pertarungan hingga mati ini mereka adakan hanya untuk menghibur kaum kaya. Di tahun-tahun awal sejarah agama Nasrani, oleh kaisar Romawi yang beragama politeisme, arena itu menjadi tempat mengadu sesama orang Nasrani hingga mati.

Kedua, Maksiat Yang Merebak Di dalam sejarahnya, para penduduk kota Pompeii gemar dan paling nomor satu dalam hal maksiat. Mereka sering menggelar perzinaan di rumah – rumah mereka, di jalan – jalan, bahkan hampir setiap rumah adalah rumah pelacuran. Banyak juga para pendatang dari Yunani dan Venesia yang ‘menikmati’ wanita – wanita disana, berhubung kota itu juga menjadi pelabuhan yang aman oleh para pelaut.

Ketika itu sangat jarang ditemukan rumah yang benar – benar berfungsi sebagai rumah yang benar sebagaimana fungsinya, mereka tak kenal hubungan suami – istri, bagi mereka isteri adalah milik bersama. Di setiap rumah juga banyak ditemukan patung – patung berbentuk alat kelamin / organ – organ vital yang merangsang libido kaum pria.

Dan juga banyak ditemukan di tembok – tembok rumah mereka gambar – gambar persetubuhan seorang lelaki dengan wanita, guna memberitahukan bahwa disitu boleh berbuat apa saja sekehendak nafsunya. Bahkan dikala itu juga banyak bertebaran homoseksual dan lesbian yang merajalela.

Suatu pertanda bahwa masyarakat itu (Pompeii) adalah masyarakat yang rendah, bahkan lebih rendah dari binatang.

Dibelakang kota itu terdapat gunung berapi yang bernama Gunung Vesuvius yang berarti Gunung Peringatan. Atas Kuasa-Nya, Allah Ta’Ala menurunkan laknat atas mereka disebabkan perbuatan mereka yang sudah melampaui batas kewajaran lagi kufur terhadap-Nya.

Gunung itu menyemburkan lahar – laharnya yang sangat panas tak terkira, padahal Alloh sudah sering peringatkan mereka lewat getaran – getaran kecil (gempa bumi) tapi mereka tetap saja durhaka. Tepat pada 24 Agustus tahun 79 M, Allah luluh lantahkan penduduk yang durhaka itu dengan batu – batu yang panas berasal dari Gunung Peringatan tersebut.

Tepat pada perayaan Vulcanalia (suatu perayaan untuk menghormati dewa api Romawi). Ketika letusan terjadi, kota Pompeii kira – kira memiliki penduduk sejumlah 20.000 orang.

Mirip memang dengan peristiwa kaum Luth –‘alayhis salaam- (kaum penghuni kota Sodom) yang Alloh luluhlantahkan dengan hujan batu.

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (cabul) itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?” (an Naml : 54)

Setelah kejadian semburan batu panas dari Gunung Vesuvius, maka banyak ditemukan mayat – mayat bergelimpangan, dan banyak pula yang mati sedang melakukan maksiat (zina), ada juga yang melakukannya dengan sejenis dan bahkan diketahui ada yang masih berusia belia. Na’udzubiLLahi min dzalik.

Bertaubatlah.. Bertaubatlah yang masih penuh dengan lumpur dosa apalagi dosa zina. Cukuplah kisah-kisah terdahulu ini menjadi pelajara untuk kita hari ini.