AKSI NEKAT PKL MONAS KEROYOK PETUGAS DAN AKSI BUKA BAJU
——————————————————————————————————
Tak cuma preman yang berulah di Monas. Pedagang Kaki Lima (PKL) ilegal juga tak kenal takut bertindak nekat dengan melawan petugas yang menertibkan mereka.

“Mereka ini adalah PKL minuman yang berdagang di pelataran antrean menuju puncak Monas,” ujar Rini Haryani, Kepala UPT Monas saat dihubungi detikcom, Rabu (19/2/2014).

Entah bagaimana cara mereka memasuki bagian dalam Monas tersebut. Walaupun Monas telah dipagar tinggi, para PKL ini selalu menemukan cara sehingga mereka dapat kembali berjualan ke area terlarang.

“Kita sampai kewalahan mengusir mereka, karena di bagian dalam kan dilarang berjualan. Sudah dipasangi pagar tinggi, tapi mereka tetapi bisa masuk, entah dengan memanjat atau bagaimana,” jelasnya.

Rini mengaku, petugas keamanan selalu berusaha untuk mengusir mereka, namun PKL ini justru bertindak kasar. “Mereka itu sering melawan, lebih galakan dia dari petugas kita. Kalau kita berupaya mengusir, mereka teriak-teriak pakai bahasa kebun binatang,” keluh Rini.

Tak hanya itu, sambil berteriak-teriak histeris, beberapa di antara mereka bahkan nekat membuka bajunya. “Biasanya yang melakukan hal itu adalah PKL perempuan. Sehingga para pengunjung berpikiran kalau petugas kita sadis. Karena kita tidak mau terjadi gesekan, maka kita berusaha untuk mengalah,” paparnya.

Beberapa petugas, bahkan sering mengaku mendapatkan ancaman dari para PKL tersebut. “Ada di antara mereka yang membawa senjata tajam. Sejauh ini belum ada petugas kita yang terluka, tapi mereka sering mendapat ancaman dari PKL ini. “Kalau mereka digalakin, mereka mengancamnya di luar. Kalau petugas kita pulang, mereka keroyok di luar. Mereka kan mainnya keroyokan,” kata Rini.

Untuk mengantisipasi aksi yang lebih nekat dari PKL, sejak Januari 2014 pihak pengelola Monas telah bekerjasama dengan aparat dari Polsek sekitar dan Garnisum. “Kita sudah bekerjasama sejak tahun ini. Mudah-mudahan dengan tambahan pengamanan, PKL ini dapat diusir tanpa menimbulkan kekerasan dan ancaman,” tutupnya.

AKSI PREMAN DI KAWASAN RING 1 MONAS
——————————————————————————————————
Preman beraksi tak pandang tempat. Tengok saja kawasan Monas di seberang Istana dan daerah Ring 1. Para preman itu memeras dan menguras kantong masyarakat yang mencari hiburan murah di Monas.

“Kita akui premanisme masih terjadi, PKL liar. Ada banyak,” jelas Kapolsek Gambir AKBP Agung Marlianto saat ditemui di Monas, Rabu (19/2/2014).

Para pengunjung biasanya bersantai di taman yang luas di Monas. Apalagi malam hari, temaram lampu menghiasi tugu Monas.

“Setahun kemarin ada 143 laporan. Tahun ini sudah ada 14,” lanjut Agung.

Namun Agung menegaskan, polisi tidak akan tinggal diam. Petugas yang menyamar dikerahkan berjaga di 6 pintu masuk. Ada juga yang berpatroli. Kadang ada juga oknum TNI dan polisi nakal yang membekingi aksi premanisme.

“Monas yang aman bukan mustahil,” imbuh dia.

Menurutnya, keamanan Monas menjadi prioriotas. Kawasan wisata ini harus nyaman buat warga, apalagi Monas murah dan mudah dijangkau masyarakat kebanyakan.

“3 Poin permasalahan di Monas, premanisme, PKL liar, dan oknum aparat,” tutupnya.

MODUS PEDAGANG : MASUK JADI PENGUNJUNG DI DALAM DI LEMPAR DAGANGAN
——————————————————————————————————
Pengelola Taman Monas mengaku kewalahan dengan maraknya pedagang ilegal di kawasan yang menjadi ikon ibukota tersebut. Petugas telah dikerahkan di berbagai pintu masuk, namun tetap saja mereka kecolongan.

“Modusnya mereka masuk dulu tanpa bawa apa-apa, kemudian temannya ngelempar barang dagangannya dari luar,” ujar Kepala UPT Taman Monas, Mimi Rahmiati saat dihubungi wartawan, Kamis (20/2/2014).

Dengan cara itu, petugas tak mungkin mencegah pengunjung masuk dengan tuduhan hendak berjualan. Karena kesulitan-kesulitan itu, Mimi menggandeng aparat untuk mengatasi pedagang liar yang semakin menjamur tersebut.

“Makanya kita terus kerjasama dengan Satpol PP, Polisi dan TNI agar Monas tetap indah dan semakin nyaman bagi pengunjung,” tuturnya.

Mengenai keberadaan pedagang yang kembali memenuhi Monas, Mimi mengaku masih harus pelan-pelan dalam menindak. Pihaknya bersama aparat terkait sebisa mungkin menindak dengan cara-cara yang manusiawi.

“Kita pelan-pelan dalam menertibkan, tidak bisa langsung brek semua,” tutupnya.

TAK KAPOK RAZIA PEDANGAN DI MONAS KEMBALI JUALAN!
——————————————————————————————————
Pasca penertiban kemarin siang, puluhan pedagang kembali memadati Monas. Mereka dengan santai menggelar lapak dan menjajakan barang dagangannya di dalam kawasan Monas.

Para pedagang ilegal ini terkumpul di dekat pintu gerbang parkir IRTI yang menuju kawasan dalam Monas. Sementara di area lain hanya terlihat beberapa penjual yang berjalan berkeliling.

Beberapa petugas Satpol PP dan petugas keamanan Monas berjaga di dekat pintu masuk Silang Barat Daya Monas. 1 Unit kendaraan Satpol PP dan kendaraan plat merah milik petugas keamanan Monas diparkir tak jauh dari lokasi pedagang ilegal.

Namun para petugas itu membiarkan pedagang berjualan. “Kita kasih toleransi dulu, kita kan hanya menjalakan perintah atasan,” kata petugas keamanan Monas, Andi, di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (20/2/2014).

Sementara para pedagang yang nekat berjualan tersebut mengaku hanya ikut-ikutan. Mereka berani membuka lapak jika kawan-kawan yang lain sepakat.

“Lihat yang lain dagang, saya ikut. Kalau yang lain nggak dagang, saya juga nggak berani,” ujar penjual gantungan kunci, Obet (29).

Obet sengaja tak menggelar semua barang dagangannya. Sebagian gantungan kunci ia simpan di kantong kresek besar warna hitam agar memudahkan ‘pelarian’ jika sewaktu-waktu Satpol PP mengusirnya.

“Biar cepat bungkusinnya, terus bisa cepat lari,” ujarnya.

Obet mengaku biasanya berjualan di dekat pintu masuk monumen. Namun karena saat ini dirasa sebagai waktu rawan razia, dirinya memilih berjualan tak jauh dari pintu gerbang parkir IRTI.

gimana tuh menurut agan semua enaknya diapain itu orang2 sampah masyarakat itu? atau kita bikin organisasi sendiri buat basmi itu hama2.. di jakarta?

FAQ :

PKL kan cari makan gan bukan sampah mereka?
semua org juga nyari makan gan.. tapi ada aturan mainnya ga bisa sembarangan

agan ga tau sih susahnya kerasnya idup PKL..?
mau kerasnya ky apa idup.. tetep ga bisa melanggar aturan dan sembarangan apa lagi merugikan kepentingan umum di area public

pake kekerasan aja gan..?
susah ga bisa maen ky gitu.. kekerasan yg dilakukan oleh instansi resmi pemerintah akan berakibat HAM dan di jadiin senjata sama lawan politik buat nyari suara “tar ada yg belagak jadi pahlawan buat wong cilik..”

(makanya ane bilang bikin organisasi sendiri di luar instansi resmi.. tp di bawah bayangan pemerintah juga untuk pendanaan dan kekuatannya)

 

Sumber ; http://www.kaskus.co.id/thread/5305a6ed41cb17cc4f8b4689