“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini, ingin itu, banyak sekali…”

Familiar dengan lagu di atas? Mungkin anda sama seperti saya, tumbuh dan besar dengan cerita-cerita Doraemon, yang memungkinkan daya khayal kita tumbuh tinggi tanpa batas. Zaman saya kecil, komik Doraemon itu salah satu bacaan favorit selain rajin menonton film kartunnya di televisi. Sampai sekarang pun rasanya saya masih menikmati cerita-cerita Doraemon terutama seri Doraemon Petualangan. Hanya di seri Doraemon Petualangan, Nobita tiba-tiba menjadi keren dan berubah jadi sosok pahlawan! Saya pun sering berandai-andai, jika saja pintu ke mana saja itu nyata, alangkah menyenangkan. Tinggal sebut mau ke mana, dalam sekejap mata bisa sampai. Ah, Doraemon…

Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.
Antrian shuttle bus Doraemon Museum di stasiun Noborito.

Kafetaria museum
Kafetaria museum.

Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.
Patung Doraemon, Nobita dan Piisuke.

Kecintaan saya terhadap anime ini membuat saya merasa wajib untuk mengunjungi Fujiko F. Fujio Museum di Jepang. Saya sendiri sebetulnya lebih senang menyebutnya Doraemon Museum, karena sebagian besar isi museum itu menceritakan tentang Doraemon. Kebetulan letaknya juga tidak terlalu jauh dari Tokyo, hanya sekitar 20 menit dari stasiun Shinjuku dengan Odakyu line, jadi masih terjangkau. Tiket masuknya tidak dijual langsung di museum, tetapi hanya bisa dibeli di Lawson yang ada di Jepang. Harga tiketnya 1000 Yen per orang. Jadi jika berniat berkunjung ke museum ini, sesampainya di Jepang sebaiknya langsung menuju Lawson terdekat untuk pemesanan tiket, agar tidak kehabisan. Pihak museum membatasi jumlah tiket setiap jamnya untuk memberikan kenyamanan terhadap pengunjungnya.

Meskipun begitu, saya tidak menyangka animo pencinta Doraemon sedemikian besarnya. Atau mungkin karena saya berkunjung di hari Sabtu. Di saat ujung minggu seperti ini, pengunjung museum sangat padat, kebanyakan adalah keluarga dengan anak-anaknya, jadi saya tidak bisa menghabiskan waktu agak lama di satu objek tertentu karena antrian yang terus berjalan.

Museum ini menyediakan shuttle bus dari stasiun Noborito dengan tarif 200 Yen sekali jalan. Tetapi karena saya punya waktu lebih banyak, saya memutuskan untuk turun di stasiun Mukogaoka Yuen dan menuju museum dengan berjalan kaki. Begitu keluar dari stasiun, saya seperti berada di sebuah kota kecil yang tertata apik. Saya pun memutuskan mengikuti jalan besar seperti yang tertera pada peta, dan menemukan papan petunjuk arah menuju museum. Di tengah jalan, saya bertemu sepasang remaja yang juga menuju museum Doraemon, mengingatkan saya akan Nobita dan Shizuka.

Jalan menuju ke museum
Jalan menuju ke museum.

Gian Soft Cream
Tertarik mencoba “Gian Soft Cream”?

Cinderamata Doraemon
Cinderamata Doraemon.

Sesampainya di museum, ternyata sudah banyak orang yang mengantri. Saya pun segera masuk barisan karena jam sudah menunjukkan lewat pukul 12, yakni jam yang tertera di tiket masuk yang saya beli. Sebelum masuk ke area museum, kita akan dibekali dengan pemandu audio elektronik dengan pilihan bahasa Jepang atau bahasa Inggris. Oh iya, tidak diperbolehkan membawa makanan, minuman ataupun mengambil foto di dalam museum.

Di lantai pertama kita akan disuguhi gambar-gambar asli karya Fujiko F. Fujio, yang aslinya bernama Hiroshi Fujimoto, dan cerita dibalik karya tersebut. Contohnya, ada satu gambar tentang dewi dalam salah satu cerita Doraemon dengan rambut panjang berwarna hijau terang, rupanya warna hijau itu adalah warna yang salah digunakan oleh asisten beliau, namun akhirnya melihat hasilnya yang cukup bagus malah digunakan sebagai warna utama. Ditampilkan juga deretan laci yang dibangun sampai ke atap bangunan dan diberi nomor. Itulah cara beliau menyimpan semua karya aslinya selama ini. Disimpan dalam laci kayu di dalam ruangan dengan temperatur tertentu. Saya takjub melihat laci sebanyak itu!

Selepas ruang pameran, ditampilkan sejarah perjalanan Fujiko F. Fujio bagaimana beliau menjadi seorang seniman manga. Lahir di tahun 1933, beliau memulai debut karya pertamanya di tahun 1951. Doraemon sendiri mulai diciptakan sekitar tahun 1961. Dipamerkan juga barang-barang bersejarah seperti paspor yang dulu beliau pakai dan foto-foto beliau jaman dahulu. Kemudian, yang juga sangat menarik, dipamerkan meja kerja beliau ketika membuat semua karya-karyanya. Bahkan saya juga baru tahu bahwa beliau selalu melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat seri-seri Doraemon Petualangan itu. Ingat cerita Nobita dan Doraemon yang berteman dengan Piisuke, hewan jinak mirip dinosaurus yang dipelihara Nobita? Ternyata ada banyak sekali buku-buku tentang dinosaurus dan patung-patung hewan jaman purba di meja kerja Fujiko F. Fujio!

Naik ke lantai dua, kita akan menjumpai ruang pameran berisi cerita-cerita Doraemon seri petualangan, sembari mendengar penjelasan melalui pemandu audio elektronik. Saya jadi mengingat-ingat seri Doraemon yang sudah pernah saya baca. Di lantai ini pula ada satu bagian yang membuat saya terharu, diceritakan tentang keseharian Fujiko F. Fujio diluar pekerjaannya, yakni keseharian beliau sebagai seorang suami dan ayah. Bagaimana beliau masih menyempatkan diri menyiapkan sarapan untuk putri-putrinya (beliau punya tiga putri), dan bermain bersama mereka. Di satu video, Mrs. Fujimoto (istri Fujiko F. Fujio) mengakui bahwa suaminya betul-betul memisahkan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadinya. Bahkan ketika anak-anaknya masih kecil, mereka tidak mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang seniman manga terkenal. Ada satu surat yang ditulis oleh Mrs. Fujimoto ditujukan kepada suaminya, yang isinya membuat saya hampir menangis. Di surat itu, Mrs. Fujimoto menuliskan kerinduannya terhadap suaminya, (Fujiko F. Fujio meninggal tahun 1996), dan menyatakan bahwa dia yakin spirit suaminya hadir bersama karya-karyanya yang sampai sekarang masih menginspirasi jutaan anak di dunia.

Lapangan bermain Doraemon
Lapangan bermain yang biasa digunakan karakter-karakter di Doraemon.

Pintu Ke Mana Saja
“Pintu Ke Mana Saja”.

Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini
Bangkitkan nostalgia masa kecil di sini.

Tampak depan museum yang modern
Tampak depan museum yang modern.

Nah, di lantai ketiga yang merupakan lantai paling atas, disediakan tempat bermain di bagian atap di mana kita bebas mengambil foto sebanyak-banyaknya dengan ‘Doraemon’. Apabila lapar, terdapat kafe dan makanan makanan untuk dibawa keluar. Selesai makan dan puas berfoto dengan Doraemon, saatnya kembali turun ke lantai dasar dan berbelanja suvenir di toko cinderamata. Di sini tersedia berbagai macam barang dengan karakter buatan Fujiko F. Fujio. Agak terkejut juga melihat banyak barang dengan gambar Giant, ternyata dia populer juga, ya.

Misi tercapai. Selesai sudah kunjungan singkat saya ke museum ini. Sejenak saya seperti kembali ke masa lalu, bernostalgia dengan semua cerita-cerita Doraemon yang dulu sering menemani saya. Menghidupkan kembali mimpi-mimpi semasa kecil dulu. Doraemon merupakan anime terkenal dan abadi. Saya pun kembali menuju stasiun, kali ini menumpang shuttle bus (yang interiornya juga dipenuhi gambar Doraemon!) dan membawa saya menuju stasiun Noborito, sembari berdendang sepanjang jalan.

“La, la, la… Aku sayang sekali… Doraemon…”

Sumber ; http://ranselkecil.com/catatan/museum-fujiko-f-fujio-bernostalgia-dengan-doraemon/