Lagi iseng-iseng ane cari artikel tentang Banyumas di Internet, eh nemu artikel kayak ginian yang menurut ane sebagai warga Banyumas agak miris juga sih… Di dalam artikel ini seolah-olah mayoritas warga Banyumas itu doyan sama yang namanya minum Ciu .. Padahal kan ga semua orang Banyumas minum ciu, karena menurut ane alkohol mau bagaimanapun bentuk entah yang berlabel mau tidak, entah yang import ataupun lokal tetap aja itu ga dibenarkan oleh agama dan negara. . .
Tapi di artikel ini seakan-akan sebagai pembenaran atau pewajaran orang untuk minum ciu ( alkohol ) .. Dan mirisnya ini udah bawa2 nama daerah yang imbasnya pastinya masyarakat yang baca artikel ini jadi berpikiran kalau Banyumas itu tempatnya Ciu ..
Maksud dari menuliskan atau memposting hal seperti ini dengan tujuan apa?? dan ane sangat heran, sudah jelas-jelas warga Banyumas di desa W**har menyembunyikan identitas mereka kepada orang lain, bahkan saking takut nya mereka sampai ada yang meninggalkan dapur nya yang kedatangan orang tak dikenal. tapi di artikel ini malah terang-terang an memberitahukan lokasi, serta nama bahkan penghasilan mereka??
Mencoba Wisata Ciu di Banyumas

Bahan pembuat minuman keras oplosan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

TEMPO.CO, Purwokerto – Pada tegukan pertama, rasanya cukup pahit. Di tenggorokan terasa panas. Menjalar hingga rongga dada. Tak sampai lima menit, kepala terasa melayang. Langit seakan berputar.

Ciu Banyumas selama ini dikenal sebagai minuman keras lokal yang cukup populer di daerah itu. Meski dijual sembunyi-sembunyi, peredarannya cukup luas bahkan hingga kalangan mahasiswa yang berkantong cekak. “Ciu merupakan minuman segala umat,” ujar Wahyu, salah seorang penggemar Ciu Banyumas, Jumat (17/1).

Bagi dia, ciu merupakan “jamu” yang cocok diminum saat berkumpul dengan teman-temannya. Terutama saat musim penghujan, ciu bisa dijadikan minuman penghangat badan.

Dari sisi ideologis, kata Wahyu, menenggak ciu bukan hanya sekedar gaya hidup. “Tapi ini perlawanan terhadap hegemoni Barat atas maraknya produk minuman keras yang beredar di Indonesia,” katanya.

Menurut dia, minuman keras lokal seperti Ciu Bekonang, Ciu Banyumas dan Arak Bali merupakan tradisi bangsa yang harus dilestarikan. Budaya minum ciu, kata dia, bukan sekedar untuk hura-hura dan mabuk-mabukan, tapi untuk meningkatkan solidaritas.

Di kalangan mahasiswa, ciu merupakan minuman yang cukup digemari. Mahalnya minuman keras berlabel, menjadi salah satu pemicunya. Merasa tak mampu masuk ke pub yang menjual minuman keras, mereka lebih memilih ciu yang harganya cukup terjangkau. “Biasanya malam minggu, kalau sedang ngumpul bersama teman-teman,” kata Febri, salah satu mahasiswa perguruan tinggi di Purwokerto.

Ia biasa mendapatkan ciu dari salah satu penjual yang biasa beroperasi di dekat kampusnya. Dibandingkan dengan membeli minuman beralkohol impor, ia lebih memilih ciu karena kualitasnya tidak jauh beda.

Ciu Banyumas selama ini banyak diproduksi di Desa Cikakak, Windunegara dan Wlahar Kecamatan Wangon Banyumas. Di dua desa tersebut, ciu merupakan suguhan bagi tetamu. “Setengah gelas saja sudah cukup, tak perlu banyak-banyak,” kata Jasmin, Kepala Desa Wlahar.

Bagi warga setempat, minuman itu merupakan jamu untuk penyehat badan. Tak jarang ditemui, penderes kelapa yang sehari-hari harus memanjat pohon kelapa, harus meminum barang segelas sebelum melakukan aktivitasnya.

Untuk melihat proses pembuatan minuman ini tidaklah mudah. Perajin ciu di desa itu selalu curiga jika ada orang lain datang hanya sekedar untuk melihat prosesnya. Mereka takut, usahanya itu akan diketahui polisi.

Pun ketika Tempo melihat dapur pembuatan ciu, perajinnya justru kabur entah kemana. Dapur itu dibiarkan begitu saja, meskipun api di tungku pembuatan masih menyala. Beruntung, Tempo bisa menemui salah satu perajin yang mau menerangkan cara pembuatan ciu, minuman penghangat suasana. “Kami sudah membuatnya sejak zaman Belanda,” kata Siyem, 40 tahun.

Ia mengatakan, perajin ciu rata-rata merupakan ibu rumah tangga. Kaum lelaki, kata dia, bertugas untuk mencari bahan baku dan menjual ciu ke beberapa tempat. Praktis, semua urusan di dapur pembuatan ciu dilakukan oleh kaum perempuan.

Dapur ciu rata-rata terletak di belakang rumah. Bangunannya setengah terbuka dengan pagar dari anyaman bambu. Di dalam dapur ada tungku untuk memasak bahan baku ciu, semacam alat destilasi. Tong besar dengan volume 130 liter digunakan untuk mencampur gula merah, tape, air dan bibit ciu.

Abas Supriyadi, Kepala Dusun 3 Desa Wlahar yang mengaku penggemar berat ciu menuturkan, ciu Banyumas hampir sama dengan ciu Bekonang di Solo. “Kadar alkoholnya bervariasi, mulai dari 20 persen hingga 70 persen,” katanya.

Ia mengatakan, setiap harinya, satu instalasi penyulingan memerlukan bahan baku 30 kilogram gula merah, 50 liter omplong semacam sisa fermentasi pada proses sebelumnya, 2 kilogram tape singkong, dan 50 liter air.

Bahan-bahan itu disimpan selama satu minggu. Adonan yang dimasukkan ke dalam tong itu, harus diaduk. Setelahnya baru masuk proses penyulingan. Adonan dimasukkan ke panci alumunium, dipanaskan tanpa boleh mendidih dengan tungku kayu, dan uap airnya disalurkan melalui pipa tembaga. Setetes demi setetes hasil penyulingan ditampung dalam toples isi 3 liter yang akan penuh setiap 4 jam.

Di pasaran, harga ciu bervariasi tergantung dari tinggi rendahnya kadar alkohol. Ciu dengan alkohol berkadar 20 persen, dijual dengan harga Rp 15 ribu. Sementara untuk ciu dengan kadar alkohol 50 persen, dijual Rp 20 ribu dan kadar 70 persen dijual Rp 35 ribu per liter.

Untuk menjualnya, mereka menggunakan sel tertutup. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjual ciu di daerah Banyumas dan daerah tetangga lainnya. Seringkali, penjual harus balik kanan tak jadi menjual ciu gara-gara takut ditangkap polisi.

Madari, 60 tahun, mengatakan ia sudah puluhan tahun, menggeluti pekerjaan sebagai perajin ciu tradisional. Bahkan, katanya, kakeknya dulu pun menjadi perajin tersebut dan telah memulainya sejak zaman penjajahan Belanda. “Umur kerajinan ciu di sini, lebih tua dibandingkan dengan usia saya sekarang,” ujarnya.

Baginya, meski sembunyi-sembunyi, hasil kerajinan itulah yang nyata-nyata memberikan penghasilan. Ciu hasil dari Desa Wlahar masih tetap diminati oleh pembeli, meski dia mengaku tidak tahu pembeli yang datang ke tempatnya menjual ke mana. “Biasanya pembeli yang datang ke sini sudah saling kenal. Begitu datang, langsung masuk dan tidak berapa lama pergi lagi. Yang penting tidak diminum di sini, itu syarat utamanya. Jangan sampai kami juga kena masalah,” katanya.

Dalam sehari, dia mampu membuat ciu sebanyak 30-40 liter dengan kadar alkohol sekitar 40-50 persen. Dengan menggeluti pembuatan ciu tersebut, dia mendapatkan hasil Rp 400 ribu per hari. Sebuah hasil yang sangat menggiurkan bagi warga desa Wlahar.

Kepala Desa Wlahar, Jasmin mengatakan, perajin ciu di desanya mencapai 400 orang dari 1.000 kepala keluarga. “Hampir semua warga di sini merupakan perajin ciu,” katanya.

Selain Desa Wlahar, desa lainnya yang juga membuat ciu yakni Windunegara dan Cikakak. Ketiga desa tersebut dikenal dengan istilah segitiga emas produsen ciu.

ARIS ANDRIANTO