Barusan saya dapat Broadcast dari teman tentang seorang pesulap Abu Marlo yang mendadak menjadi ustad, bahkan dia dipercaya mengisi sebuah acara di AnTV bertajuk Cahaya Hati AnTV.  Intinya dalam Broadcoast tersebut adalah mempertanyakan kredibelitas Abu Marlo yang secara basic adalah seorang pesulap tapi tiba2 dipercaya membawakan acara rohani di sebuah stasiun televisi. Dan karena dinilai basic agamanya yang kurang banyak yang menilai bahwa kajiannya tentang Al Qur’an di dalam acara tersebut boleh dibilang ngawur.

Maka saya pun coba search di google dan ternyata sudah banyak artikel yang membahas tentang fenomena Ustad abu Marlo ini, dan saya kumpulkan disini.

Silahkan disimak dan semoga bisa memberikan sedikit pencerahan..

Mendadak Ustadz, Abu Marlo dari Pesulap Menjadi Ahli Tafsir

Bukan Indonesia namanya kalau tidak ada berita yang kontroversial. Lagi-lagi ada seleb yang mendadak jadi ustadz. Abu Marlo namanya, runner up reality show The Master, mentalis dan tukang sulap. Saat ini Abu Marlo aktif mengisi ceramah
Cahaya Hati di Anteve. Ustadz Abu Marlo, demikian orang-orang memanggilnya.

Sebenarnya tidak masalah jika dia mengisi acara di televisi sesuai jobnya. Namun yang bikin ‘masalah’ dia mengisi acara layaknya ulama ahli tafsir Al Quran. Bicara nyaris tanpa ilmu. Penulis sudah menyaksikan langsung di You Tube, acara ustadz
ini di Anteve.

Dalam rekaman tersebut Abu Marlo bertanya pada penonton TV: Mana yang lebih wajib, sholat 5 waktu atau baca al Quran?. Pertanyaan aneh dari orang aneh, lebih aneh lagi dia hanya mengandalkan al Quran yang dibacakan orang lain
dan terjemahannya saja. Sama sekali tanpa rujukan hadits atau ulama lain.

Didalam blognya dia sendiri ada tafsir lagunya Ariel Noah yang berjudul Separuh Aku ditafsiri menggunakan ayat-ayat al Quran, misalnya bait pertama lagu ini, Dan terjadi kisah lama yang terulang kembali ditafsirkan dengan Qur’an surat Al-
Anbiya 104. Lebih lengkapnya ada disini

Nampaknya MUI sudah menyikapi dengan adanya dakwah para ustadz dadakan macam Abu Marlo ini. Semoga cepat mendapat solusi agar tidak terjadi lagi ustadz yang asal njeplak dimedia publik seperti televisi. Sikap tegas dari MUI diharapkan agar dapat meminimalisir pendangkalan aqidah yang muncul ditengah masyarakat.

by. Teguh Suprayogi

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2014/01/08/mendadak-ustadz-abu-marlo-dari-pesulap-menjadi-ahli-tafsir-623291.html

Ajaran Abu Marlo: Mana Yang Lebih Wajib, Sholat 5 Waktu atau Baca Qur’an?

Ajaran agama Islam di Indonesia dibuat semakin bertambah aneh dengan banyaknya orang-orang yang tidak paham agama, namun berani ngomong bak ulama. Salah satunya adalah Abu Marlo. Dia adalah seorang pesulap, mentalis, runner up reality show sulap The Master yang saat ini mendadak jadi Ustadz. Ustadz Abu Marlo, begitulah orang ini sekarang dikenal.

Ustadz Abu Marlo saat ini aktif berceramah dalam acara ceramah Cahaya Hati di ANTV. Televisi yang sama yang dulu pernah menampung ajaran aneh Dicky Zainal Arifin dalam acara ceramah Mutiara Subuh.

Dalam salah satu rekaman acaranya, Ustadz Abu Marlo ini bertanya pada pemirsanya. Mana Yang Lebih Wajib, Sholat 5 Waktu atau Baca Qur’an? Sungguh pertanyaan yang aneh! Dalam acaranya ini, Abu Marlo sedikit pun tidak mengambil rujukan dari para ulama, namun hanya mengandalkan pada ayat Al-Qur’an dan terjemahannya saja.

link youtube abu marlo : http://www.youtube.com/watch?v=ygFSt1xVwWA

Kami belum menemukan informasi lebih detail tentang ajaran Abu Marlo ini. Namun, kami menyarankan beliau untuk diam dan tidak bicara tentang agama, apalagi sok menafsir Qur’an, jika memang tidak tahu ilmunya. Perlu diketahui juga bahwa salah satu kriteria aliran sesat versi MUI adalah menafsirkan agama tanpa mengikuti metode yang benar.

مَنْ أَفْتَى بِغَيْرِ عِلْمٍ لَعَنَتْهُ مَلاَئِكَةُ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ

“Barangsiapa berfatwa tanpa ilmu, maka dilaknat oleh Malaikat langit dan bumi.” (HR. Ibn ‘Asaakir dari ‘Ali r.a, hadits ini sanadnya hasan ditakhrij pula oleh al-Hafizh al-Suyuthi dalam kitab al-Jaami’ al-Shaghiir)

Sumber: http://irfanabunaveed.wordpress.com/2013/05/14/hati-hati-berfatwa-tanpa-ilmu/

Wallahu a’lam

Dan ini ada artikel yang mencoba mencounter apa yang sudah beredar lewat Broadcast tersebut. Silahkan anda nilai sendiri.

Seputar Broadcast Cahaya Hati Abu Marlo

Beberapa waktu lalu beredar broadcast dengan content negatif seputar Abu Marlo, host acara Cahaya Hati di ANTV. Melalui Broadcast yang tersebar lewat Blackberry Messenger ataupun WhatsApp tersebut dikatakan apa yang disampaikan oleh Abu Marlo lewat program Cahaya Hati merupakan ajaran menyimpang, karena menafsirkan Al Qur’an seenaknya sendiri, tidak menggunakan hadist bahkan diakatakan inkarussunnah. Hemat kami yang tidak ingin terlibat lebih jauh sebagai penyebar fitnah atau menjatuhkan vonis tanpa melakukan proses tabayyun, maka kamipun menggali lebih jauh seputar kabar tersebut. Meluasnya kabar ini menyebabkan kami mencoba mendiskusikan bersama beberapa teman dan melibatkan salah satu ustadz pakar tafsir Al Qur’an, diskusi ini kami langsungkan di Jejaring Media Sosial juga. Latar belakang Abu Marlo yang seorang Pesulap dan bukan ustadz murni menjadi salah satu hal yang dipermasalahkan dalam broadcast yang beredar itu, apapun itu melihat persoalan secara berimbang dan mengurangi prasangka buruk menjadi landasan diskusi kami. Berikut ini kami sampaikan penjelasan dari Ustadz Saiful Islam Mubarak seputar metode yang digunakan oleh Abu Marlo dalam menyampaikan kandungan Al Qur’an lewat program Cahaya Hati tersebut.

Pertanyaan. Apakah AlQuran dapat diterjemahkan sesuai isinya? Apakah terjemah AlQuran itu firman Allah? Apakah membaca dan memahami terjemah sama dengan membaca dan memahami AlQuran ? Pembahasan. Semangat kaula muda untuk menyebarkan ajaran AlQuran di tanah air kita semakin meningkat. Sungguh hal tersebut patut disembut dengan diberi apresiasi karena dengan semangat yang menggebu pada diri mereka maka para ulama senior tentu akan terbantu dalam penyebaran agama ini. Ini dari satu segi, namun dari satu segi, semangat mereka terlihat diatas ilmu pengetahuan yang mereka miliki, bahkan terkesan ada keterangan-keterangan yang dipaksakan untuk meyakinkan masyarakat luas tanpa dasar yang jelas atau ilmu yang dapat dipertanggung jawabkan. TERJEMAH ALQURANUrgensi terjemah bagi masyarakat non ArabTidak syak lagi bahwa terjemah AlQuran sangat diperlukan bagi kaum muslimin yang tidak memahami bahasa Arab. Namun, perlu diyakini bahwa terjemah tidak dapat mewakili semua apa yang diterjemahkan. hal ini berlaku untuk umum semua karya manusia. Dan untuk AlQuran tentu diatas segalanya, karena AlQuran adalah mukjizat sedangkan terjemah bukan mukjizat. Membaca satu huruf dari AlQuran dengan niat yang ikhlas adalah ibadah yang nilainya berlipat sementara membaca terjemah tidak demikian. Terjemah sangat diperlukan untuk membantu pemahaman terhadap AlQuran, namun masih banyak makna AlQuran yang tidak ditemukan terjemahnya, karena itu tidaklah cukup bagi seorang hamba yang ingin memahami AlQuran hanya dengan mengandalkan terjemah. Terjemah bukan AlQuranTelah berlangsung penerjemahan AlQuran terhadap lebih dari enam puluh bahasa di dunia. Terjemahan-terjemahan tersebut dapat dilihat di Mansjid al Haram Mekan dan Masjid Nabawi di Madinah. Pada cover terjemahan tersebut tertulis القرآن الكريم وترجمة معانيه إلى اللغة الإندونيسية (alquran alkarim dan terjemah maknanya kedalam bahasa Indonesia), demikian pula terjemahan ke dalam bahasa lainnya. Memerhatikan nama tersebut maka dapat diyakini bahwa AlQuran itu sebenarnya tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Yang diterjemahkan bukanlah AlQuran akan tetapi sebagian makna dari AlQuran yang mereka pahami dialihkan kedalam bahasa yang dimaksud. AlQuran adalah mukjizat abadi dalam segala segi meliputi pilihan formulasi kata, susunan kalimat, penempatan ayat, penulisan huruf, hubungan qiroah dengan qiroah lainnya, kandungan berita masa lalu dan masa mendatang, penggunaan kata yang diluar kebiasaan umum masyarakat Arab dan masih banyak lagi yang lainnya. Semua ini tidak akan dapat ditemukan dalam bahasa manusia. Karena itu, ketika ada upaya untuk menerjemahkan AlQuran secara harfiyah sebenarnya bukan terjemah AlQuran akan tetapi terjemah kata-kata dalam AlQuran. Hal itu tidak memberi makna akan hakikat AlQuran melainkan hanya membantu untuk mengetahui makna kata-kata dalam AlQuran. Terjemahan seperti ini tidak dapat dijadikan pegangan untuk memahami AlQuran akan tetapi sangat bermakna bagi orang yang sedang mempelajari bahasa Arab untuk memahami AlQuran. Tentu, cara tersebut tidak mencapai sasaran tanpa di dukung dengan ilmu-ilmu lainnya.Terjemah bukan Tafsir Upaya untuk menerjemahkan AlQuran adalah satu amal yang sangat mulia dan berguna terutama bagi orang-orang yang sedang haus akan ilmu yang digali dari AlQuran. Namun demikian, perlu senantiasa dipahami dan diyakini bahwa terjemah adalah salah satu alat untuk memahami makna yang terkandung dalam AlQuran. Ketika seseorang yang sedang mempelajari AlQuran dengan menggunakan terjemah maka dia sangat dituntut untuk mempelajari kaidah bahasa Arab dan الذوق العربي dzauq arabi yang dipelajari melalui ilmu balaqhah dan karya sastra Arab terutama syair jahiliyah dan syair shadr Islam yaitu karya para penyair yang hidup sebelum turun AlQuran dan karya penyair yang hidup masa generasi pertama. Sungguh banyak karya ulama terdahulu yang menjelaskan tentang makna-makna dan kandungan AlQuran yang disebut dengan tafsir. Terjemah dan dan tafsir adalah dua hal yang berbeda. Keduanya adalah bagian dari ilmu untuk memahami AlQuran. Sekiranya dapat diumpamakan dengan makanan maka terjemah adalah bahan mentah dan daftar menu yang siap untuk dioleh sesuai keinginan seorang ahli masak, sedangkan tafsir adalah laksana hidangan yang siap saji. Bahan mentah dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan sesuai selera. Maka terjemahan AlQuran dapat dipahami dengan berbeda sesuai kondisi pembaca. Sementara tafsir telah mengarahkan pembaca sesuai dengan keinginan dan pemikiran seorang mufassir.Terjemah sebelum tafsir Banyak terjemah ditemukan dengan merujuk kepada tafsir. Jika hal itu merupakan proses yang ditempuh para penerjemah untuk memahami AlQuran tentu sangat diperlukan, namun bukan tafsir dijadikan landasan untuk terjemah. Sebab tafsir adalah pendalaman makna tertentu sementara terjemah merupakan langkah awal untuk menafsirkan. Jika diumpamakan dengan satu bangunan maka terjemah adalah apa yang terlihat dari luar, semetara tafsir adalah sudah masuk ke bagian-bagian bangunan. Karena itu, pada saat penerjemahan sangat diperlukan menerangkan apa yang terlihat untuk menarik perhatian yang mengantarkan dari mana harus masuk untuk mengetahui hakikat isinya. Etika menerjemahkan1. Memerhatikan keaslian bahasaBahasa AlQuran tidak sama dengan bahasa Arab yang biasa digunakan masyarakat Arab. Disamping itu penulisan AlQuran tidak sama dengan penulisan hadits. Masing-masing menuntut para penerjemah untuk memelihara keasliannya. Sebab dengan terjemah tanpa memerhatikan keistimewaan sangat dikhawatirkan mukjizat AlQuran akan tertutup. Atau dikhawatirkan akan terjadi pembatasan makna mukjizat hanya pada AlQuran tanpa menyentuh mukjizat AlKitab. Padahal dibalik tulisan yang tidak selalu terbaca serta dibalik bacaan yang tidak selalu tertulis pasti terdapat mukjizat yang tidak akan tuntas dibahas karena AlQuran mukjizat abadi memiliki aturan tulisan yang penuh dengan mukjizat pula. Dari mana dapat dikatakan bahwa AlQuran dan AlKitab itu adalah sama-sama mukjizat abadi? Banyak ayat yang menjelaskan hakikat mukjizat ini antara lain firman Allah: {وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صدِقِينَ } [البقرة: 23]Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), datangkanlah satu surat (saja) yang semisalnya (Alkitab) itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.{أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صدِقِينَ} [هود: 13]Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah merekayasanya (AlKitab) itu”, Katakanlah: “(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar”.Kedua ayat diatas diawali dengan panggilan yang ditujukan kepada umat Nabi Muhammad sejak generasi pertama hingga saat ini dan masa mendatang. Surat AlBaqarah dan Surat Hud sama-sama diawali dengan menampilkan lafal kitab. Allah berfirman: ذلك الكتب لا ريب فيه هدى للمتقين Itulah alKitab, tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, المر كتب أحكمت أيته ثم فصلت من لدن حكيم خبيرAlif Laam Raa, satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, Dua ayat yang menantang manusia untuk mendatangkan tandingan surat, ternyata sangat berhubungan erat dengan AlKitab karena surat AlBaqarah diawali dengan lafal AlKitab demikian pula Surat Hud. Dan dari awal surat hingga ayat yang mengandung tanantangan tersebut tidak mengandung lafal “alquran”, malainkan hanya mengandung lafal “alkitab”. Dari sini maka semakin jelas pentingnya menggali mukjizat wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui kajian alkitab atau dengan memerhatikan berbagai qiraat yang terlihat pada mushaf rasm utsmani atau yang sering disebut juga dengan mushaful imam. Kendatipun tinjauan sejarah mushaf ini adalah dihubungan dengan Khalifah Utsman akan tetapi anggota tim penulis mushaf ini adalah para penulis yang bertugas sejak pada zaman Rasulullah Saw. mereka adalah menulis mushaf sesuai dengan yang mereka terima dari Rasulullah Saw. dan realita membuktikan bahwa Allah memelihara wahyu ini melalui quran, kitab, dzikr dan furqan.Ketika Allah berkehendak untuk menerangkan tentang mukjizat AlQuran maka kita pun menemukan pula ayat yang mengandung tantangan dengan menyebut nama AlQuran secara langsung yaitu dalam firman Allah:{قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا} [الإسراء: 88]Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.2. Memerhatikan penulisan dan memerhatikan berbagai qiraatWahyu terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad terpelihara dengan lisan dan tulisan. Pemeliharaan ilahi secara lisan terbukti adanya bacaan yang sangat teratur dan dihafal secara keseluruhan dengan jumlah penghafal (hafizh) yang terus bertambah setiap generasi. Pemeliharaan secara tulisan terbukti dengan adanya aturan penulisan yang di luar kebiasaan yang diberi nama dengan rasm utsmani. Dan penulisan khusus ini mengandung penuh arti sebagaimana banyaknya qiraat juga penuh makna. Karena itu, pada saat berlangsung penerjemahan yang dilakukan para aktivis dan para pengkaji secara lisan sangat tepat sekiranya mereka memerhatikan berbagai qiraat, karena antar qiroah dengan qiroah lainnya saling melengkapi makna. Dan tanpa memerhatikan berbagai qiraat tentu banyak makna masih tersembunyai dan yang tidak terungkap. Demikian pula halnya dengan penerjemahan secara tertulis, sangat tepat jika para penerjemah memerhatikan keistimewaan cara penulisan wahyu ini yang membedakan dari cara penulisan biasa. Perhatian tersebut jika tidak sampai kepada pendalaman makna yang berhubungan dengan qiraat, paling tidak, ada keterangan yang berkaitan dengan keistimewaan penulisan tersebut. TAFSIRTidak diragukan bahwa kitab-kitab tafsir yang jumlahnya sudah sulit dihitung sangat berhubungan dengan disiplin ilmu para mufassir. Dan AlQuran adalah pedoman hidup semua manusia dan solusi problem yang mereka hadapi di mana pun mereka berada. Karya para ulama yang telah memenuhi perpustakaan dunia, tidak lepas dari hasil-hasil pemikiran mereka yang berhubungan dengan masalah yang mereka temukan dari:

  • peristiwa yang sudah terjadi sebelumnya
  • peristiwa yang mereka saksikan pada saat mereka masih hidup
  • peristiwa yang terulang terus setiap generasi hingga saat ini

Betapapun para ulama tafsir terdahulu memiliki pengetahuan dan wawasan yang sangat luas, namun mereka tidak dapat mengetahui masalah gaib. Yaitu masalah yang terjadi sesudah mereka tiada termasuk yang terjadi saat ini. Padahal banyak sekali masalah yang kini kita hadapi menunggu solusi yang pasti sudah tersedia dalam AlQuran. AlQuran dapat dipahami oleh semua lapisan masyarakat dan dapat diyakini sebagai solusi manakala penafsiran sangat berhubungan dengan kehidupan yang sedang mereka hadapi. Banyak ditemukan dalam AlQuran panggilan ilahi yang ditujukan kepada kelompok tertentu, namun demikian tidak berarti bahwa pembaca tidak terlibat. Karena AlQuran adalah bimbingan bagi para pembacanya menuju keadilan, kebenaran, kebahagiaan yang hakiki. Beberapa ayat tentang munafiq, yahudi, musyrikin yang ditemukan para pembaca, manakala sudah ditafsirkan hendaklah tafsiran tersebut dirasakan dan dipahami sebagai taujih ilahi yang ditujukan kepada dirinya masing-masing. Ketika seseorang membaca tafsir ayat-ayat tentang yahudi dan tidak dia pahami sebagai hudan bagi dirinya maka tafsiran tersebut belum mencapi sasaran. Namun, sebaliknya ketika dia membaca tafsir ayat-ayat tersebut tidak menyentuh makna yang berkitan dengan orang lain maka tafsir tersebut sangat memerhatikan sasaran namun lupa jalan yang ditempuhnya hingga ayat tersebut seakan-akan khusus untuk dirinya. Hal ini akan mempersempit makna yang sebenarnya sangat luas. Karena itu tafsir yang sebenarnya adalah tafsir ilmi dan amali yang dilakukan seorang sahabat AlQuran atau generasi qurani, yang dimanapun mereka berada manjadi teladan bagi umat. Jika tafsir yang sempurna seperti Rasulullah tidak akan ditemukan, maka kita berupaya untuk melakukannya secara kolektif sesuai kemampuan. Tentu hal ini sangat sulit untuk dicapai baik secara pribadi atau secara kelompok, namun bukan sesuatu yang mustahil karena Allah Mahakuasa dan akan tetap memelihara hakikat AlQuran di muka bumi ini hingga kiamat terjadi. Maka sejak sekarang marilah kita berjuang untuk menjadi tafsir yang diyakini, dipahami dan dirasakan umat yang bertemu dengan kita di mana pun kita berada.ETIKA MENAFSIRKAN ALQURAN BAGI MASYARAKAT NON ARAB 1. memperhatikan bahasa aslinyaTafsir artinya menjelaskan. Tafsir AlQuran adalah upaya ulama untuk menjelaskan apa yang mereka pahami dari AlQuran kepada umat, baik secara lisan atau pun secar tulisan. Keaslian AlQuran senantiasa perlu terpelihara meski sudah ditafsirkan dengan menggunakan berbagai bahasa agar tetap diyakini bahwa AlQuran adalah satu-satunya kitab suci yang terpelihara kesuciannya dalam berbagai segi termasuk bahasanya, bacaannya dan penulisannya. Selain AlQuran, tiada satu kitab yang dinyatakan suci para penganutnya yang memiliki kesatuan bahasa dan kesatuan bacaan serta kesatuan cara penulisan yang tersebar di seluruh dunia. Inilah AlQuran satu-satunya kitab suci yang terpelihara keasliannya. Karena itu, pada saat penafsiran AlQuran berlangsun sangat penting untuk memerhatikan bahasanya yang asli. Umpamanya dalam menafsirkan firman Allah dua ayat terakhir dari surat AlFatihah. Allah berfirman: {اهْدِنَا الصَّرطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7) } [الفاتحة: 6، 7]Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Makna jalan yang lurus tidak dapat diganti menjadi Islam akan tetapi digunakan untuk menjelaskan tentang sifat-sifat Islam. Jika seorang mufassir dihadapan orang yang tidak mengetahui bahasa Arab berkata bahwa الصَّرطَ الْمُسْتَقِيمَ adalah Islam mungkin akan kebingungan, bahkan mungkin menimbulkan pertanyaan dalam benak mereka dengan mengatakan: bahasa apakah istilah “islam” itu? Demikian pula dengan lafal الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ , tentu tidak dapat diterjemahkan dengan kata dengan yahudi, dan lafal الضَّالِّينَ diartika dengan nashrani, sebab hal itu mungkin akan menimbulkan pertanyaan: kalau yang dimaksud dengan lafal ini adalah yahudi dan nashrani, mengapa tidak langsung saja disebut dengan jelas? Dan apa hubungannya dengan kita yang tinggal di tempat yang jauh dari Yahudi? Kita tidak kenal yahudi dan di lingkungan kita tidak ditemukan ada orang yang mengaku yahudi? Memasukkan kata Yahudi kedalam tafsir الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ adalah merupakan bagian makna dari lafal tersebut. Adapun makna yang sebenarnya adalah lebih luas meliputi semua yang dimurkai meliputi musyrikin, yahudi, nashrani, atheis bahkan kelompok yang mengakhu beragam Islam namun kehidupan jauh dari ajaran AlQuran dan Sunnah. 2. memperhatikan penulisannyaSetiap kali umat Islam membaca AlQuran dengan memerhatikan mushaf yang asli pasti melihat banyak huruf tertulis namun tidak dibaca, dan menemukan bacaan huruf yang tidak tertulis. Bagi mufassir yang terpanggil untuk membuktikan mukjizat AlQuran dalam berbagai segi tentu penulisan tersebut tidak mungkin dibiarkan berlalu tanpa ada upaya untuk maknanya dan menerangkannya untuk orang lain. Jika tidak sampai kepada rahasia makna dibalik penulisan, paling tidak, ada keterangan secara umum bahwa penulisan AlQuran adalah tauqifiy dari Allah Swt. Maka tidak diperkenankan bagi satu penerbit mencetak mushaf tanpa memerhatikan huruf-huruf AlQuran yang sesuai dengan yang beredar sejak zaman Rasul hingga saat ini sebagaimana yang tersebar di dunia Islam melalui para jamaah haji dan umroh dari terbtian mujammah mushaf Madinah. Telah ditemukan kesalahpahaman terhadap istilah mad badal dalam bahasan ilmu tajwid yang sangat berpengaruh bagi keaslian AlQuran. Umpamanya bacaan panjang dalam ayat yang tercantum diatas, pada bacaan lafal الصراط tertulis الصرط maka tanda baca kecil ini dipandang sebagai pengganti dari alif. Padahal tiada pebahasan dalam studi kebahasaan bahwa lafal الصرط berasal dari الصراط lalu diganti dengan alif kecil diatas. Tanda tersebut bukanlah pengganti akan tetapi hanya sekedar tanda baca diberikan belakangan sementara pada zaman dahulu tidak ada. Tanda baca tersebut sangat berguna untuk memberi kemudahan bagi masyarakat awam terhadap hakikat kitab suci ini. Pada saat mufassir menerangkan maknaالصرط sangat penting baginya untuk menerangkan bahwa inilah cara penulisan aslinya. Tentu dalam penulisan tersebut mengandung makna meski belum ditemukan penjelasannya dari para ulama terdahulu.TAFSIR ALQURAN DAN METODOLOGINYA Sejak dahulu ada dua istilah yang dikenal dalam ilmu tafsir yaitu tafsir bilmaktsur dan tafsir birrakyi. Kedua istilah ini adalah murni dari hasil pemikiran para ulama yang telah terbukti karya mereka sangat bermanfaat bagi kepentingan umat dalam memahami AlQuran. Hampir sepakat para ulama menyatakan bahwa tafsir bilmaktsur lebih terjamin kebenarannya diatas tafsir berrakyi, bahkan sebagian dari mereka ada yang menjauh dari tafsir birrakyi karena kekhawatiran terjadi penyimpangan. Kita semua meyakini bahwa AlQuran adalah mukjizat abadi dan solusi bagi semua problem yang dihadapi semua umat sepanjang zaman. Hal ini memberi makna bahwa tafsir birrakyi tidak kalah pentingnya untuk diposisikan sebagai bukti kebenaran AlQuran. Belakangan muncul istilah tafsir birriwayah dan tafsir biddirayah. Tafsir birriwayah merupakan lanjutan dari tafsir bil maktsur. Sementara tafsir biddirayah merupakan isitilah lain dari tafsir bil rakyi. 1. TAFSIR BIL MAKTSUR التفسير بالمأثورIstilah tafsir bilmaktsur yang telah diakui oleh para ulama salaf telah mengalami perkembangan makna. Semula kata maktsur (diambil dari kata atsar) bermakna tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits dan tafsir ayat dengan atsar shahabi. Setelah Rasul wafat maka tafsir bilmaktsur masih dapat berkembangan dengan pernyataan shahabat yang menjadi pelaku sejarah turunnya AlQuran. Setelah semua shahabat kembali menghadap yang Mahakuasa maka tafsir alQuran dapat diambil dari para tabi’in, yaiut metode penafsiran yang diakui ulama sunni. Lain halnya dengan ulama syiah, tafsiran yang mereka jadikan pegangan adalah berlandaskan kepada ungakapan tokoh-tokoh yang mereka sebut dengan imam. Apa pun yang mereka terima tentang AlQuran akan mereka terima selama beritanya dinisbatkan kepada para imam. Ketikan ulama modern menggunakan istilah tafsir birriwayah dan tafsir biddirayah maka istilah ini sangat relevan dengan fenomena yang saat ini terjadi dan di kedua aliran (syiah dan sunni).Masing-masing dari ulama syiah dan sunni memiliki cara dalam penafsiran birriwayah. Kata “riwayat” menuntut kaum muslimin untuk memiliki kepekaaan dan jiwa kritis. Karena telah sering ditemukan kata “riwayat” yang bersisi dongeng. Karena itu penafsirah birriwayah atau bilmaktsur hasil ulama syiah yang dijadikan pegangan umat syiah telah mendapat banyak sorotan dari ulama sunni, demikian pula halnya dengan hasil penafsiran ulama sunni yang telah menjadi keyakinan bagi umat sunni telah banyak mendapat sorotan dari ulama syiah. Perbedaan penafsiran tersebut tidak lepas dari pengaruh riwayat dan sejarah yang tidak pernah dapat bertemu. Karena riwayat atau sejarah syiah berbeda dengan riwayat dan sejarah sunni. Oleh karena itu, selama masing-masing bersikukuh dengan berpegang kepada sejarah masing-masing maka titik temu syiah-sunni tidak akan tercapai. Langkah apakah yang mesti ditempuh untuk mencapai titik temu? Apakah dengan tafsir birriwayah dapat diharapkan syiah dan sunni akan bertemu? 2. TAFSIR BIRRAKYI التفسير بالرأيJika alQuran yang ada pada tangan masing-masing adalah sama, tidakkah sebaiknya semua pihak berupaya untuk mengutamakan AlQuran dengan penafsiran yang tidak keluar dari kandungan yang tidak jauh dari lafalnya. Adapun penafsiran alQuran secara historis dapat diposisikan pada langkah berikutnya sesuai keperluan bersama. Bahkan, manakala ditemukan ada tafsir historis itu menimbulkan perpecahan umat sebaiknya ditangguhkan dulu untuk sementara. Karena makna AlQuran sangat luas dan sangat dalam, tanpa menggunakan tafsir historis pun masih banyak kandungan makna yang mesti digali dan pasti bermakna bagi kehidupan umat secara menyeluruh. Peristiwa yang terjadi masa lalu menjadi isi lembaran buku sejarah yang dibaca saat ini. Dan peristiwa yang disaksikan saat ini akan memenuhi lembaran sejarah yang akan dibaca masa mendatang. Apakah yang terungkap dalam berita saat ini selalu sesuai dengan kenyataan? Jika tidak, demikian pula apa yang terungkap di masa lalu tidak semuanya sesuai dengan kenyataan. (kelanjutan dari artikel ini akan ditemukan dalam buku yang sebentar lagi beredar yaitu “MENCARI TITIK TEMU SYIAH SUNNI)SIMPULAN

  • Siapapun yang membaca terjemah AlQuran tidak termasuk membaca AlQuran.
  • Siapapun yang memahami terjemah AlQuran belum dapat dikatakan memahami AlQuran hingga dia dapat memahami bahasa aslinya
  • Siapapun yang menafsirkan terjemah AlQuran belum dapat dikatakan menafsirkan AlQuran hingga dia mengetahui ilmu tafsir yang berhubungan dengan mukjizat AlQuran
  • Tilawah AlQuran memberi tambahan iman kepada kaum mukminin. Yang dimaksud dengan tilawah disini hanyalah tilawah pada bahasa aslinya. Adapun membaca terjemah tidak termasuk tilawah ayat alQuran

Demikian penjelasan dari kami semoga memberikan kefahaman dalam menyikapi kabar yang beredar dimasyarakat. Bersikap hati-hati dan tidak isti’jal (terburu-buru) memvonis hendaknya kita lakukan untuk menghindari fitnah yang muncul,  menjaga kemaslahatan bersama dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sekali lagi tulisan ini merupakan salah satu bentuk tabayyun (klarifikasi) kepada pakar tafsir terkait kabar yang beredar seputar tayangan Cahaya Hati yang diisi oleh Abu Marlo. Wallahu’alam bishowab.*) Penulis adalah Pegiat Sosial Kemasyarakatan, tinggal di Tangerang Selatan.

Berikut salah satu video acara Cahaya Hati AnTV yang mengundang kontrovesi.