Muslim Rohingya, jadi pengungsi di negeri sendiri.
Muslim Rohingya, jadi pengungsi di negeri sendiri.
 Kekerasan sektarian berbasis agama masih saja terjadi di Myanmar. Walau tentara pemerintah telah berusaha menjawab kekhawatiran dunia internasional dengan menjamin keamanan bagi minoritas Muslim di negara itu.
Namun media internasional mengungkap, ada potensi baru yang sangat mungkin menjadi penyebab baru eskalasi konflik semakin parah di sana. Dilansir dari situs berita Farsnews, Kamis (2/1), di mana situs berita Vice melaporkan bahwa puluhan perempuan Muslim telah ditahan sebagai budak seks di sebuah pangkalan militer tentara Myanmar.Menurut situs tersebut, tentara Myanmar yang seharusnya menjawab kritik dunia internasional dengan menjaga keamanaman dalam negerinya, dianggap telah gagal. Hal itu dikarenakan tuduhan serius yang telah menjadikan wanita muslimah sebagai budak seks.

Seorang Jurnalis media Inggris yang dikenal dengan nama Baig pergi ke Sittwe menjelaskan fakta tersebut. Ia mengungkapkan, di beberapa tempat banyak kamp pengungsi yang didirikan untuk etnis minoritas Rohingya. Sebagian besar mereka umat Islam yang melarikan diri dari kampung halaman mereka setelah rumah mereka terbakar habis dalam serangan yang dipimpin oleh seorang Biksu Buddha, Saydaw Wirathu.

Baig mengungkapkan informasi dari penduduk setempat bahwa tentara mengumpulkan banyak wanita Muslim di sebuah pangkalan militer Myanmar. “Sebagian dari mereka digunakan sebagai budak seks. Beberapa wanita hamil,” ungkap beberapa para saksi mata kepada Baig.

Pemerintah Myanmar belum mengeluarkan pernyataan tentang tuduhan sejauh ini. Insiden terbaru ini kemungkinan besar menambah suasana konflik di tanah di Myanmar. Dalam beberapa tahun ini, ribuan muslim Rohingya tewas dan ratusan ribu lainnya harus mengungsi dari negara bagian Arakhan.

Muslim Rohingya di Myanmar merupakan salah satu etnis minortas yang ada di Myanmar. Jumlah mereka sekitar lima persen dari populasi negara itu hampir 60 juta. Etnis Rohingya hingga saat ini terus mengalami penindasan, dianiaya dan menghadapi penyiksaan oleh etnis mayoritas Burma, sejak kemerdekaan negara itu pada tahun 1948.