BANYUMAS memiliki tempat yang lebih menggetarkan hati ketimbang suasana feodal Kota Valencia di Roma, Italia. Kota tempat Romeo dan Juliet memadu kasih itu, kalah indah dengan tempat dimana Raden Ranusentika menjalin kisah asmara dengan Dewi Mas Inten. Tidak percaya? Berkunjunglah ke Curug Cipendok.

Banyak kata yang digunakan Shakespeare, pengarang kisah Romeo-Juliet, untuk menciptakan kota khayalan Valencia. Sebaliknya,pesona yang bisa dihadirkan kawasan yang masuk wilayah Kecamatan Cilongok itu justru sukar digambarkan dengan kata. Simponi musik yang dihadirkan lewat dentuman air terjun, gemericik sungai, kicau burung, desau angin di rimbunan hutan, dan sesekali celoteh kera liar, membuat kata-kata terasa tidak lagi memadai.

Bila sedang mujur, pelancong bisa menyaksikan “penampakan” salah satu hewan langka di dunia yaitu kera berdada abu-abu. Sementara di langit di atas hutan, sesekali burung elang Jawa melintasi udara dengan anggun. Kalau cukup bernyali, di sekitar kawasan Telaga Pucung masih ada harimau pemalu yang enggan memperlihatkan diri.

Mancing Macan

Pengelola WWH Curug Cipendok, Krusharto, belum lama ini menuturkan, kera berdada abu-abu dan macan bisa diajak untuk keluar dari persembunyian mereka lewat jasa pawang.

“Kalau mau melihat harimau, kita bisa “mancing” macan, itu istilah setempat,” katanya.

Potensi itulah yang kini dikembangkan untuk menjadi kawasan wisata terbatas bernama “Kampoeng Panginyongan”. Selain suasana asli, kelak kebun stroberi yang akan dirintis juga bisa dinikmati langsung oleh pelancong. Wisata budaya yang tersedia, selain beragam kesenian khas Banyumas, juga sendratari.

Budayawan Banyumas, Yatman S melihat jika Legenda Curug Cipendok yang saat ini sedang dikumpulkan dari warga setempat, bisa diangkat menjadi pertunjukkan. Legenda yang berpusat pada kisah asmara Raden Ranusentika dan Dewi Mas Inten tentu bakal tidak kalah menarik dengan kisah cinta populer, Romeo-Juliet.

Ya, Raden Ranusentika dan Dewi Mas Inten juga meninggalkan situs yang dipercaya bakal melanggengkan hubungan asmara. Bertolak belakang dengan sejumlah kawasan di Baturraden yang dimitoskan bisa membuat hubungan sepasang insan putus di tengah jalan, situs di Curug Cipendok justru dipercaya bisa melanggengkan kisah cinta sepasang kekasih.

Situs peninggalan Raden Ranusentika bernama “watu kunci” dan Dewi Mas Inten dinamai “watu gembok”. Dewi Mas Inten yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai siluman kera, kala itu membantu ritual babad alas mantan wedana Ajibarang, Raden Ranusentika. Keduanya berpisah ketika Ranusentika, atas keberhasilan membabat hutan, diangkat menjadi Bupati Purbalingga oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

“Sampai sekarang, jika ada orang yang bisa mencapai situs tadi, masyarakat percaya hubungan asmaranya bisa langgeng,” katanya. (Sigit Harsanto-36)

Sumber ; http://www.suaramerdeka.com/harian/0612/27/ban07.htm