Bayi di China (ilustrasi)
Kebijakan satu anak di China membuat susah rakyatnya. Mereka yang “kebobolan” dan memiliki anak kedua harus membayar denda, atau mengaborsi anak mereka. Inilah ide mendasari dibangunnya sebuah pondok “pembuangan” bayi di provinsi Nanjing, China sebelah timur.
Diberitakan Daily Mail pekan ini, pondok pembuangan bayi ini dibuat untuk orangtua yang tidak menginginkan anak mereka, lantaran kebijakan satu anak atau sebab lainnya. Di pondok kecil ini, orangtua bisa meninggalkan jabang bayi mereka begitu saja.Bukan pondok kecil biasa. Di dalamnya disediakan berbagai keperluan bayi saat mereka diletakkan orangtua mereka. Ada pendingin udara dengan alat monitor kelembaban. Dilengkapi juga dengan inkubator, tempat tidur dan termometer.

Pondok ini tidak dihuni siapapun. Namun ada alarm yang memberitahukan bila ada seseorang yang meletakkan bayi mereka.

Dari jarak selemparan batu, ada Rumah Pemeliharaan Nanjing, petugasnya akan datang jika alarm berbunyi untuk mengambil bayi malang itu. Kemudian, anak itu akan ada dalam pemeliharaan mereka.

Tidak ada CCTV di pondok tersebut. Jadi para orangtua tidak akan takut ketahuan identitasnya.

Menurut juru bicara rumah pemeliharaan Nanjing, Zhu Hong, cara ini lebih baik ketimbang membiarkan bayi-bayi itu mati karena ditinggal ibunya di sembarang tempat. Tidak jarang, bayi mati kedinginan karena diletakkan di jalan.

“Para orangtua mungkin akan mengabaikan mereka dengan alasan yang tidak terpikirkan. Tapi anak-anak ini tidak berdosa dan perlu dilindungi,” kata Zhu.

Sepanjang tahun ini, pondok yang disebut “Kotak Bayi” oleh media lokal ini telah menerima 160 bayi dari orang-orang tidak dikenal.

Kebijakan satu anak telah diterapkan di China sejak tahun 1979. Mereka yang kedapatan mengandung anak kedua harus mengaborsi anak mereka. Awalnya, kebijakan ini untuk mengatur jumlah populasi. Namun belakangan, banyak masalah timbul akibat kebijakan ini.

Salah satunya adalah ketidakseimbangan gender di China. Biasanya, warga memilih untuk mengaborsi anak wanita ketimbang pria, akhirnya memicu ketimpangan. Tahun lalu, ada 118 bayi lelaki yang lahir untuk setiap 100 bayi perempuan.