Taman Lawang Olga

Adegan film “Taman Lawang”. (dok. ist.)

“FILM kayak gitu bisa meledak? Itu rahasia Tuhan.” Itu status Twitter seorang produser, pada 8 November lalu.

Ini berhubungan dengan meledaknya Taman Lawang (TL). Pada hari pertama, TL yang awalnya ditaksir pengamat film Yan Widjaya mengais 10 ribu penonton, di luar dugaan menyedot 30 ribu jiwa. Indikator suksesnya bisa ditilik pada hari ketiga. Film Indonesia biasanya dirilis Kamis.

Sabtu, kita bisa menerawang nasibnya. Jika 50 persen bioskop Jakarta mengurangi jam tayang menjadi dua atau tiga kali show (sehari biasanya lima kali show-red), maka jangan harap bisa meraih 150 ribu penonton. TL sebaliknya. Sabtu (9/11), Cinema 21 Sunter, Arion, Gading, Kalibata XXI, Daan Mogot, Slipi Jaya, dan Blok M Square malah menambah jumlah studio.

Siasat Olga untuk menolak lupa mengingatkan, “Jangan lupa ya, tonton film gue TL di bioskop mulai 7 November.” Sehari, ia nongol setidaknya empat kali di televisi. Acara-acara Olga ditayangkan live. Promosi live mana bisa diedit? Itu didengar ibu-ibu sampai anak-anak.

“Terganggu” dengan promosi layar kaca, fans Olga yang lintas umur itu merangsek masuk ke bioskop. Masalahnya, apa TL bisa ditonton semua umur? Saya iseng menonton bersama teman. Sore itu, seorang ibu duduk di samping kami bersama putranya berumur sekitar 6 tahun. Melihat para waria di layar, dua generasi ini masih bisa tertawa. Sialnya, ketika adegan waria ngamar dengan seorang oom, lalu (maaf) mengoral si Om, anak ini melengos dan memeluk ibunya.

Lebih menyesakkan lagi, ketika dua aktor (meminjam bahasa teman kami) cipokan alias ciuman bibir. Si ibu buru-buru menutup mata anaknya. Pada menit pertama, saat hantu muncul secara close up, ada suara menjerit, “Ayah! Aku takut, Ayah! Ini film hantu. Ayo keluar, Ayah!” pinta seorang anak yang duduk di belakang kami. Mendengar si kecil berteriak, penonton lain di studio 4 itu malah tertawa.

Teknik promosi Olga menimbulkan efek samping. Yang namanya jualan, sah-sah saja produser menjajakan produk di layar kaca. Artinya, ini tidak 100 persen salah produser. LSF semestinya tidak meloloskan adegan ciuman tadi. Atau melabeli film ini 17 tahun atau khusus dewasa.

Jika sudah dilabeli “khusus dewasa”, pengelola bioskop mestinya tak silau laba. Jika ada calon penonton membawa bocah nonton TL, Mbak Penjual Tiket atau Pak Satpam mestinya mengingatkan TL bukan untuk anak di bawah umur. Jujur, bagi saya yang sudah punya banyak umur ini, TL sebenarnya lucu. Empat puluh lima menit pertama, Rama Gumay membangun naskah dengan fondasi kuat.

Waria. Taman Lawang. Razia. Tiga elemen ini dikembangkan dalam nuansa konflik sosial. Pada paruh kedua, akar konflik tadi merembes ke mana-mana. Unsur sadis, aroma sensual nan pekat menodai gagasan awal. Tanpa adegan mata ditusuk gagang sisir atau adegan tindih-menindih di ranjang pun, TL sebenarnya sudah lucu. Waria menjadi subjek sekaligus objek yang membuat kita terhibur, berempati, lalu merenungkan apa yang dicari dari mas-mas bergaun ala diva ini.***

After Show:Jeung, jij cocok jadi anggota TLC!” kata teman yang saya traktir menonton TL. Mendengar itu, saya bungah! Disamakan dengan trio pelantun hit “Waterfalls”.

“Maksud jij, ik jadi pengganti almarhumah Mbak Lisa Lopes, ya bo?” tanya kami.

“Tinta (tidak-red). TLC maksud ik, Taman Lawang Center,” seloroh teman yang tidak tahu berterima kasih ini, menirukan lawakan almarhum Tata Dado di acara Pesta Indosiar sekian tahun lalu.*

Pemain: Olga Syahputra, Angie, Denin Adlan, Bobby Tience, Tarra Budiman, Chand Kelvin
Produser: Olga Syahputra
Sutradara: Hanny Mustofa
Penulis: Rama Gumay
Produksi: Wasita Film Productions
Durasi: 83 menit