image

Oleh: Daniel H.t.

Perselisihan antara aktor Hollywood papan atas, Harrison “Indiana Jones†Ford dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, pada Senin, 9 September 2013,  cukup ramai dibicarakan di dunia maya.

Perselisihan itu terjadi ketika Senin, 9 September 2013, Â Harrison Ford mendatangi kantor Kementerian Kehutanan untuk mewawancarai Zulkifli dalam rangka pembuatan film serial dokumenternya yang berjudul Years of Living Dangerously. Sebuah serial film dokumenter bertemakan lingkungan hidup, khususnya mengenai kerusakan hutan, pemanasan global, efek rumah kaca, meningkatnya emisi karbondioksida, dan spesis langka, serta dampaknya bagi kehidupan manusia di bumi.
Years of Living Dangerously

Film serial dokumenter ini merupakan kolaborasi sejumlah aktor Hollywood papan atas, antara lain Harrison Ford, Arnold Schwarzenegger, Matt Damon, Jessica Alba, Don Cheadle, sejumlah wartawan nasional dan pakar perubahan iklim dari Amerika Serikat, dan sejumlah pemerhati lingkungan hidup, termasuk James Cameron, yang juga adalah sutradara film monumental, Avatar (2009).

Proyek film ini bertujuan untuk membuat masyarakat dunia menyadari tentang betapa berbahayanya dampak perubahan iklim dunia secara ekstrem terhadap kehidupan umat manusia di bumi, sehingga mereka diharapkan menjadi ikut peduli terhadap pencegahan perusakan lingkungan hidup demi masa depan bumi.

Setiap mereka yang berkolaborasi di proyek ini diberi tugas untuk menggali informasi mengenai terjadinya kerusakan/perusakan lingkungan hidup dan dampaknya di beberapa negara, keberadaan spesis langka dan upaya perlindungan terhadapnya, meningkatnya emisi karbondioksida sebagai akibat dari deforestasi, dan kekeringan di beberapa wilayah di negara-negara tertentu. Harrison Ford mendapat tugas ke Indonesia.

Harrison Ford bersama krunya yang berjumlah enam orang dan seorang peneliti lingkungan hidup telah datang ke Indonesia melalui Bandara Halim Perdakusuma, Kemayoran, Jakarta, dengan pesawat jet pribadi, sejak Minggu, 1 September lalu. Mereka sudah ke wilayah Orangutan Center Nyaru Menteng di Kalimantan Tengah untuk mendokumentasikan kehidupan salah satu spesis langka di dunia di sana, yakni Orangutan, dan ke Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang berada di wilayah Kabupaten Palalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau untuk meliput mengenai deforestasi di sana. Untuk melengkapi liputannya, Ford mewawancarai beberapa pihak, pemerhati lingkungan dan pejabat tinggi Indonesia. Dua di antaranya adalah Menteri Kehutanan Zulkifli Lubis dan Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Proyek serial film dokumenter Years of Living Dangerously ini tidak lepas dari peran Ford cs yang juga adalah duta UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change), atau kerangka kerja internasional mengenai perubahan iklim.

UNFCCC bukan merupakan bagian dari PBB. UNFCCC dibentuk pertama kali pada KTT Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brasil, yang berlangsung dari tanggal 3–14 Juni 1992, yang dihadiri oleh perwakilan 172 negara. Di KTT Bumi itu pokok pembicaraannya adalah mengenai lingkungan hidup, termasuk di dalamnya pemanasan global, kerusakan hutan dan spesis langka, serta pengembangan industri yang ramah lingkungan. Dari KTT Bumi itulah lahir antara lain UNFCCC itu.

Jadi, eksistensi UNFCCC itu tak bisa dipandang enteng. Maka itu, tak heran, kalau Ford sebagai bagian dari UNFCCC dengan proyek film serial dokumenternya itu sampai diterima oleh Presiden SBY. Pertemuan Ford dengan Presiden SBY itu telah berlangsung dengan lancar pada Selasa, 10 September 2013, di Istana Negara. Dalam pertemuan yang berdurasi 34 menit itu Ford juga mewawancarai SBY yang berkaitan dengan tema film dokumenter tersebut.

Harrison Ford vs Zulkifli Hasan

Kembali ke soal perselisihan yang muncul antara Ford dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, yang disinggung di awal tulisan ini.

Informasi mengenai perselisihan Zulkifli dengan Ford itu disampaikan sendiri oleh Zulkifli kepada wartawan, seusai Ford pergi begitu saja meninggalkan kantornya setelah sesi wawancara berlangsung (Senin, 9 September 2013). Seharusnya, sesuai jadwal, setelah wawancara dengan Zulkifli itu, Ford bersama Menteri Kehutanan itu akan melakukan penanaman pohon bersama di depan kantor Kementerian Kehutanan sebagai simbol kepedulian bersama terhadap kelangsungan hidup hutan di dunia. Lubang untuk keperluan itu telah digali, tetapi, acara itu batal dilakukan, karena rupanya Ford merasa tak senang ketika mewawancarai Zulkifli itu.

Ada apa gerangan?

Menurut keterangan dari Zulkifli Hasan sendiri kepada sejumlah wartawan, termasuk Gatra.com, perselisihannya dengan Ford itu terjadi karena ketidaksepahaman dirinya dengan Ford mengenai kerusakan hutan yang parah yang terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Zulkifli sendiri mengakui bahwa memang telah terjadi kerusakan hutan yang parah di sana.

Ford mengatakan apa yang baru saja disaksikan sendiri di TNTN kepada Zulkifli. Ford menilai kerusakan hutan di sana sudah terlalu parah, dan perambah taman nasional itu tidak ditangkap. Sedangkan restorasi ekosistem yang izinnya belum dikeluarkan. Zulkifli menjawab pertanyaan-pertanyaan Ford itu, tetapi jawaban itu tidak memuaskan Ford. Itulah, menurut Zulkifli yang membuat Ford emosi.

“Saya memahami dan mengerti orang Amerika yang baru pertama datang ke tempat kita, melihat Tesso Nilo, maunya langsung yang melanggar ditangkap. Maunya hari ini juga kerusakan dihentikan,” kata Zulkifi.

“Tidak mudah menjelaskan kepada Harrison, orang Amerika yang datang, emosional karena kecintaan terhadap rain forest dan satwa. Emosinya tinggi,” lanjut Zulkifli.

Zulkifli menambahkan, ia tetap berpikiran positif bahwa aktor Hollywood itu mencintai flora dan fauna Indonesia. Ia berusaha menjelaskan alasan mengapa para pelanggar hutan tidak langsung ditangkap. “Tidak dimengerti dan tidak mudah (menghadapi pertanyaan Harrison).â€

Zulkifli juga bilang, “Dengan Harrison Ford barusan bukan wawancara biasa. Itu kan buat film. Saya tidak terlatih akting, kaku, dan kagok juga. Didandani macam-macam. Biasa wawancara seperti ini saja.”

Dalam penjelasannya itu Zulkifli Hasan juga mengatakan, karena cara merespon Ford yang emosional seperti itu, dia akan mencegah niat Ford untuk mewawancara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Nanti Presiden dipojokkan lagi,” ujarnya ketika itu (Selasa, 9 September 2013) (Tempo.co). Benarkah demikian seperti yang dijelaskan oleh Zulkifli itu? Yang pasti kalau benar ada upaya dia mencegah Ford untuk bertemu dengan SBY, itu merupakan upaya yang paling konyol dan memalukan. Bagaimana bisa hanya berdasarkan alasan penilaian subyektifnya itu dia mau membatalkan jadwal pertemuan Ford dengan SBY? Buktinya, pertemuan itu telah terjadi dengan lancar pada Selasa, 10 September 2013.

SBY pun tak akan berbuat konyol dengan misalnya, membatalkan pertemuannya dengan Ford hanya gara-gara insiden kecil dengan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan itu. Mengingat dia juga adalah penerima Avatar Home Tree International 2010, pada April 2010 lalu.

Penghargaan tersebut diberikan kepada Presiden SBY dalam rangka memperingati Hari Bumi Internasional 2010, karena SBY dinilai berjasa besar dengan program penanaman 1 miliar pohon di Indonesia. SBY dinilai sebagai semacam salah satu pahlawan lingkungan hidup internasional dengan programnya tersebut. Dan, penghargaan itu diberikan oleh James Cameron, salah satu dari produser film serial dokumenter Years of Living Dangerously itu.

Mengenai SBY dengan Avatar Home Tree International 2010 ini, pernah saya tulis di Kompasiana dengan judul Gunawan Muhammad, SBY, dan Avatar.

Kebenaran di Balik Pernyataan Zulkifli Menurut sumber Tempo.co, apa yang disebut oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan bahwa dia didandani secara berlebihan sehingga membuatnya kikuk dalam wawancara “yang tidak biasa†itu, adalah tidak benar.

Menurut sumber Tempo.co itu, wawancara itu berlangsung dengan normal-normal saja. Tidak ada yang berlebihan. Menteri Zulkifli sebenarnya tak didandani secara berlebihan. Ia bahkan tetap mengenakan seragam Kementerian Kehutanan yang berwarna coklat muda. Hanya saja, beberapa kru memang mengaplikasikan make up agar muka sang menteri tak berminyak. Selain itu, beberapa alat perekam juga dipasangkan ke tubuhnya. Sesuatu yang wajar-wajar saja. Lalu, kenapa Zulkifli membuat pernyataan seperti itu?

Diduga kuat karena Zulkifli tidak siap dengan pertanyaan-pertanyaan Harrison Ford yang tajam dan sesuai dengan fakta yang baru saja dilihat Ford dengan mata kepalanya sendiri di Taman Nasional Tesso Nilo itu, maka yang bisa dilakukan Zulkifli yang mungkin ke sana saja belum pernah, hanyalah menjawab secara defensif, memutar-mutar, sekenanya.

Karena itu Ford tidak bisa menerima penjelasan ala birokrat Indonesia dari Zulkifli yang dianggapnya berbicara tidak sesuai dengan fakta, berputar-putar dan seolah-olah ingin membodohinya, maka itu Ford merasa tidak ada gunanya mewawancarai Zulkifli lagi. Apalagi pakai acara menanam pohon segala sebagai simbol kepedulian bersama terhadap kelangsungan hidup hutan di dunia itu. Seremoni itu hanya bentuk dari kemunafikan yang tidak sesuai dengan fakta. Dia merasa sangat kecewa dengan tingkat keseriusan Zulkifli Hasan sebagai seorang Menteri Kehutanan dalam melestarikan hutan di TNTN itu.

Ford memang adalah seorang aktor kawakan yang kualitas aktingnya tak perlu lagi diragukan, tetapi dia tak sudi berakting mengikuti gaya Zulkifli yang seolah-olah peduli dan terhadap kelangsungan hutan di Tesso Nilo itu.

TNTN ditetapkan pada tanggal 19 Juli 2004 oleh Menteri Kehutanan pada waktu itu melalui KepMenHut No. 225/Menhut-II/2004. Maksud dan tujuannya adalah mencegah kerusakan hutan yang lebih parah akibat perambahan dan pemalakan liar (ilegal logging) di sana. Tetapi, faktanya, kerusakan hutan akibat deforestasi masih terus terjadi dan semakin parah, akibat dari pemalakan liar, baik oleh penduduk sekitar, maupun oleh pengusaha HPH yang banyak menguasai lahan di sana. Dampak dari ulah para pemalakan liar ini juga menyebabkan terjadinya kebakaran hutan di sana belum lama ini, yang menyebabkan negara tetangga, Singapura dan Malaysia pun ikut merasakan kabut asapnya selama berminggu-minggu.

Plantations around Riau, owned by the two giant pulp and paper producers, Asia Pacific Resources International Holdings Ltd. (APRIL) and Asia Pulp and Paper (APP). Popular species for pulp, Acacia Mangium, plantations are susceptible to forest fires. The government has stipulated that it is now a crime to clear land by burning. Sejak 2009, berdasarkan SK No. 663/Menhut-II/2009, TNTN itu dikelola secara kolaboratif bersama sebuah LSM asing asal Swiss, WWF (World Wide Fund for Nature). Ketika itu luas TNTN mencapai 83.068 hektare. Namun berdasarkan analisis citra satelit saat ini, luas hutan alam di sana hilang hingga 64 persen. Sedangkan pada areal perluasan, hutan alam yang hancur telah mencapai 83 persen.

Oleh karena itu kalangan DPR beberapa kali mendesak pemerintah untuk menghentikan kerja samanya dengan WWF, karena mereka menilai kerja sama itu telah gagal. Malah membuat kerusakan hutan semakin parah di sana (antaranews.com)

Direktur Konservasi WWF Indonesia, Nazier Fuad membantah tuduhan sebagai penyebab TNTN, Riau, karena LSM lingkungan ini tidak mengelola kawasan taman.

Menurut Nazier, WWF Indonesia bukan pengelola Taman Nasional tersebut. Taman Nasional berada dalam kewenangan Kementerian Kehutanan, khususnya Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi alam, dan pengelolaannya di lapangan berada di Balai Taman Nasional. Dalam kaitannya dengan Taman Nasional Tessa Nilo, di Riau, WWF Indonesia bekerja di kawasan tersebut dalam konteks mendukung Kementerian Kehutanan dalam upaya melindung keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan di kawasan itu (antaranews.com)

Siapa yang benar, siapa yang salah? Yang terpenting, dalam kunjungan langsungnya selama tiga hari di TNTN, dengan menempuh medan yang berat, Harrison Ford telah menyaksikan sendiri kerusakan hutan yang sedemikian parah di sana. Kisah mengenai perjalanan Ford di sana, dapat dibaca di sini. Tidak heran, jika menghadapi sikap dan jawaban berbelit cenderung defensif dari Menteri kehutanan Zulkifli Hasan itu, memancing emosi Harrison Ford.

Andi Arief: “Deportasikan Harrison Ford!â€

Perselisihan yang sempat terjadi antara Ford dengan Zulkifli tersebut di atas diperparah dengan pernyataan yang sangat konyol dari Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arief. Selain konyol, pernyataan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai pembohongan publik menjurus pada fitnah kepada Ford. Sudah beberapa kali Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam ini terbukti tidak punya prestasi, tetapi malah menciptakan â €œbencana†bagi reputasi dan kualitas staf khusus yang dimiliki Presiden SBY. Tetapi, seperti biasa, dipelihara terus oleh SBY.

Kepada wartawan, Andi Arief mengecam sikap Ford dikatakan tidak tahu sopan-santun, dan mempertanyakan etika Ford dalam melakukan wawancara dengan Menteri Kehutanan tersebut.

Andi mengatakan melalui rekaman CCTV terlihat Harrison Ford marah-marah sambil naik di atas meja ruang tamu dan meloncat-loncat beberapa kali di atasnya. Atas perilaku Ford itu, Andi mengharapkan pihak berwenang (imigrasi) segera mengdeportasi Harrison Ford!

Ketika dikonfirmasi langsung kepada Zulkifli Hasan, Menteri Kehutanan itu membantah bahwa Ford sampai marah-marah seperti yang dikatakan Andi itu. Di berita sore Metro TV, Selasa, 10/09/2013, Zulkifli juga membantah tuduhan Andi Arief kepada Harrison Ford itu. Dia bilang, memang terjadi selisih paham antara dia dengan Ford, tetapi, Ford tidak sampai berperilaku tidak sopan, apalagi sampai meloncat-loncat di atas meja.

Saya yang membaca pernyataan Andi Arief itu juga tak percaya, masa iya Ford, seorang aktor besar Hollywood, duta dari UNFCCC, dengan usia yang sudah 71 tahun itu bisa melakukan sesuatu yang begitu kekanak-kanakan dan memalukan, meloncat-loncat di atas meja orang di tempat umum seperti itu?!

Kenapa Andi Arief membuat pernyataan konyol dan menyerang seperti itu, bahkan sampai mau mendeportasikan Harrison Ford? Jangan-jangan, karena sebenarnya kedatangan Ford yang telanjur sudah menyaksikan langsung apa yang terjadi di TNTN itu tidak dikehendaki pemerintah (Presiden SBY). Andi juga khawatir kesaksian Ford di TNTN yang juga akan merupakan bagian dari serial film dokumenter itu, mengungkapkan ketidakseriusan pemerintah RI dalam mengatasi problem besar hutannya, sehingga berperan besar dalam merusak ekosistem planet bumi.

Andi juga khawatir kesaksian Ford lewat filmnya itu akan memperlihatkan betapa tak becusnya seorang Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, ketika terjadi bencana kebakaran hutan sampai beberapa kali di TNTN. Terutama kebakaran hutan di sana yang baru terjadi pada Juni 2013 lalu, yang berlangsung sampai berminggu-minggu. Asapnya sampai memasuki wilayah Singapura dan Malaysia, mengganggu kehidupan dan aktivitas penduduk di sana. Â Tentu bekas-bekasnya masih sangat kentara ketika Ford bersama krunya itu melakukan syuting di kawasan TNTN itu.

Janji SBY

Ketika diwawancara oleh Ford, Presiden SBY antara lain menyatakan bahwa deforestasi sudah lama terjadi di Indonesia. Setidaknya 3,5 juta hentare hutan di Indonesia mengalami deforestasi. “Saya berjanji akan terus mengurangi (deforestasi),†tegas SBY (Jawa Pos).

Seperti biasa, saya tidak yakin bahwa SBY akan menepati janjinya itu. Sebab salah satu ciri khas Presiden kita ini adalah terbukti sangat gampang membuat janji, tetapi sangat sulit mewujudkannya. Buktinya, selama memerintah dalam dua periode ini, kerusakan hutan masih terus bertambah.

Salah satu contoh/bukti yang telah dilihat sendiri oleh Ford adalah kerusakan hutan yang semakin parah di TNTN. Ford tentu punya data bahwa sejak 2004, ketika kawasan hutan di sana dijadikan Taman Nasional guna mencegah terjadinya deforestasi, sampai sekarang, yang terjadi malah deforestasi yang semakin merajalela.

Siti Maemunah dari Jaringan Advokasi Tambah pernah menulis sebuah artikel di Harian Kompas, Kamis 29 April 2010, dengan judul Avatar, Papua, dan SBY. Di artikel itu dia antara lain mengatakan bahwa dalam masa pemerintahan Presiden SBY sejak 2004-2010 saja SBY telah “sukses†memusnahkan 10 miliar pohon di Indonesia. Oleh karena itu, dia menilai, SBY sungguh tidak layak menerima penghargaan Avatar Home Tree International 2010 dari James Cameron. Penghargaan tersebut telah diterima SBY pada April 2010.

Di artikel itu, Maemunah antara lain menulis: Jika saja James Cameron bertemu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), pasti ia akan berpikir seribu kali sebelum memberi SBY penghargaan. Sebab, deforestasi pada masa kepemimpinannya—merujuk data Walhiâ €”angkanya luar biasa besar. Sepanjang 2006-2007, deforestasi mencapai 2,07 juta hektar. Jika di setiap hektar hutan alam hidup sekitar 2.500 pohon dengan diameter beragam, maka ada 5,17 miliar pohon yang musnah. Angka pemerintah sekalipun, deforestasi tahun lalu mencapai 1,07 juta hektar. Artinya ada 2,6 miliar pohon musnah.

Dan, sampai sekarang tidak terdengar bahwa deforestasi yang terjadi di Indonesia bisa dikurangi oleh Pemerintah RI. Justru hal sebaliklah yang terjadi.

Entah apa bentuk tayangan yang akan dibuat Ford, dan apa narasi yang akan dipakai dalam film serial dokumenter, Years of Living Dangerously itu, untuk kondisi hutan di Indonesia, khususnya mengenai TNTN yang menimbulkan perselisihan Ford dengan Menteri kehutanan Zulkifli Hasan itu. Tentu, pernyataan-pernyataan normatif, defensif, yang memutar-mutar dari Zulkifli itu akan ada di film itu, sekaligus memperlihatkan bagaimana tidak keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani permasalahan hutannya. Demikian sama halnya dengan pernyataan-pernyataan SBY ketika diwawancarai Ford itu, Apa yang dinyatakan itu, tak akan pernah diwujudkan. Kelak Ford akan menyadari hal ini.

***

Sumber bahan: 1, 2, 3

Kompasiana