image

Meski hingga kini tidak ada bukti arkeologi, sebagai warga Yahudi percaya di lokasi Masjid Al-Aqsa berdiri saat ini, pernah ada Kuil Sulaiman. Kuil ini dua kali dirusak.

Kuil pertama dibangun pada 832 sebelum Masehi. Usianya hanya 410 tahun. Kuil Suci pertama ini dihancurkan ketika bangsa Babylonia menguasai Yerusalem. Kemudian dibangun Kuil Suci kedua dan diratakan lagi saat kerajaan Romawi berkuasa di sana pada tahun 70 Masehi. Kuil Suci kedua ini hanya bertahan 162 tahun.


Kini sejumlah kalangan Yahudi militan berambisi membangun Kuil Suci ketiga. tentu saja untuk mewujudkan hal itu, mereka mesti menghancurkan Masjid Al-Aqsa. Salah satunya adalah the Temple Institute. Organisasi dipimpin Rabbi Chaim Richman mengkampanyekan pembangunan Kuil Suci Ketiga.

“Tujuan kami adalah melaksanakan perintah, ‘Mereka harus membuat sebuah kuil untuk Aku dan Aku akan tinggal di antara mereka,’” ujar Richman mengutip ayat Exodus, seperti dilansir situs Jewish Telegraphic Agency beberapa waktu lalu. “Dasar dari kehidupan Torah adalah tindakan.”

Setelah kuil kedua dihancurkan pada tahun 70 Masehi, kebanyakan rabbi bersikap seusia hukum Yahudi, yakni melarang pembangunan kuil sebelum kedatangan Sang Juru Selamat.

Namun the Temple Institute mengambil langkah berbeda. “Tidak ada ganjalan hukum bagi orang-orang Yahudi membangun kuil,” tutur Richman. Ganjalan yang ada bersifat politis.

Mengutip the Israeli Army Radio, surat kabar Saudi Gazette melaporkan the Temple Institute mendapat bantuan antara USD 84 ribu hingga USD 196 ribu selama satu dasawarsa terakhir. Anggaran itu berasal dari Kementerian Pendidikan serta Kementerian Kebudayaan dan Olah Raga.

Sepanjang tahun lalu. lembaga ini juga mendapat jatah USD 79 ribu dari Kementerian Pendidikan serta USD 37 ribu dari Kementerian kebudayaan dan Olah Raga.