Jendela masjid.
 
Sebuah ajaran sesat berkembang di Tarakan, Kalimantan Utara. Ajaran yang menyimpang dari Islam ini melarang pengikutnya salat lima waktu, cukup salat tahajud pada malam hari. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun menginvestigasi dan mengumpulkan bukti soal aliran sesat tersebut.

Salah seorang warga Tarakan, Muhammad Sidiq, pernah diajak masuk aliran ini. Sidiq menceritakan, Rabu 10 Juli 2013, orang yang mengajaknya bergabung dengan aliran itu mengatakan bahwa dia tidak perlu melaksanakan salat lima waktu seperti yang diwajibkan dalam Islam. Sidiq pun kaget dan tak mau mengikuti ajaran itu.

Tapi adik ipar Sidiq justru tertarik dan akhirnya menjadi pengikut aliran itu. “Saya pernah menyuruh adik ipar saya itu untuk membawa gurunya ke masjid untuk berceramah. Tapi kata dia, gurunya itu menolak karena di dalam ajarannya, mereka yang datang ke masjid dianggap kafir,” kata Sidiq.

Menurutnya, sang guru yang menyebarkan aliran itu di Tarakan dulu menganut agama Islam. Namun perilakunya berubah sepulang dari Malaysia. Guru itu menyebarkan kitab Alquran karangannya sendiri. “Dua tahun lalu saya pernah ketemu dia. Waktu itu dia bilang, buat apa ke masjid. Sekarang pengikutnya mungkin sudah banyak,” ujar Sidiq tanpa mau menyebutkan siapa nama sang guru.

Sidiq yang khawatir dengan meluasnya ajaran itu kemudian mengajak adik iparnya menemui Ketua MUI Tarakan, Zainuddin Djalila, untuk berdialog. Kepada Zainuddin, Sidiq mengatakan aliran itu juga mengubah lafal dua kalimat syahadat.

Zainuddin mengatakan sesungguhnya dia sudah cukup lama mendengar desas-desus mengenai ajaran sesat di Tarakan itu. MUI Tarakan bahkan sudah memanggil guru yang menyebarkan ajaran tersebut. “Orangnya sudah berjanji tidak akan menyebarkan ajaran itu. Tapi kok sekarang muncul lagi,” kata dia.