Semua orang telah mafhum, agama Kristen adalah agama misi. Tentang hal ini diterangkan dalam kitab Bibel. “Kata Yesus: Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridku doa baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19)

Dalam kitab Bibel itu juga, orang-orang Kristen dihalalkan menempuh berbagai cara seperti menipu, pura-pura, berbohong dan lainnya agar tujuan misi tercapai. “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih sayang karunia menjadi berlimpah-limpah” (Roma 5:20)


Berpegang pada dua dalil itu, tak heran jika umat Kristiani sangat giat menyebarkan misi kristenisasi ke seluruh dunia tak terkecuali Indonesia.

Mereka pun tak sungkan-sungkan menjalankan cara-cara yang keji, curang dan menjijikan kepada umat lain. Meskipun aturan tentang penyebaran agama telah dibuat, namun orang-orang Kristen tak pernah mau tunduk. Bahkan, Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang tata cara penyebaran agama di Indonesia, sering dilanggar.

Untuk itu, tak ada salahnya kita mengetahui cara, strategi dan taktik yang dikembangkan mereka dalam memurtadkan kaum muslimin. Di bawah ini dijelaskan beberapa taktik, strategi dan cara itu.

1. Pemurtadan dengan cara kawinisasi.

Sasaran utama gerakan pemurtadan ini, kebanyakan para muslimah. Untuk menikah, seorang pria Kristen biasanya pura-pura masuk Islam. Setelah menikah, pria itu lalu mengajak pindah ke agama Kristen. Seperti perbuatan yang dilakukan Agus (nama samaran) kepada Dona (nama samaran). Untuk menikahi Dona, Agus, pura-pura masuk agama Islam. Setelah nikah dan dikarunia satu orang anak, Agus memaksa Dona pindah ke agama Kristen. Meskipun sempat tergoncang, namun akhirnya Dona mampu lepas dari jebakan busuk Agus.

2. Pemurtadan dengan cara diculik, dihamili dan dimurtadkan.

Sasaran utama cara ini kebanyakan juga para muslimah. Hampir mirip dengan cara pertama, bedanya cara ini lebih kasar dan keji. Para muslimah langsung diculik, disekap, diperkosa kemudian dibaptis. Selain itu, otak para muslimah itu pun dicuci lantas dijejali doktrin Kristen hingga akhirnya ia membenarkan ketuhanan Yesus. Contohnya kasus penculikan, pemerkosaan dan pemurtadan siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Padang, Khairiyah Anniswah alias Wawah yang sempat membuat heboh kota Padang beberapa waktu lalu. Setelah diculik, Wawah diberi obat perangsang lalu diperkosa oleh seorang aktivis Kristen. Karena tak berdaya, Wawah akhirnya di bawa ke gereja dan dibaptis.

3. Pemurtadan dengan cara menjanjikan pekerjaan, kursus atau beasiswa.

Sasaran tembak mereka biasanya muslim dan muslimah lulusan SMP/SMU yang mengalami kesulitan mencari pekerjaan atau kepada mereka yang tak mampu. Para aktivis gereja biasanya langsung menjanjikan sebuah pekerjaan dan beasiswa secara gratis asal mau pindah agama. Seperti yang dialami Heryanto. Pemuda yang sehari-hari mengajar ngaji anak-anak di Manado itu, ditawari Edi Sapto pekerjaan dan beasiswa kuliah di Jakarta. Sampai di Jakarta, pekerjaan yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung datang. Heryanto malah dipaksa pindah agama Kristen dan diwajibkan mengikuti acara gereja dan kebaktian. Kini Yayasan Dian Kaki Mas yang dijadikan tempat pemurtadan itu, sedang digugat warga dan aparat pemerintah setempat. Karena mereka merasa telah ditipu yayasan Dian Kaki Mas.

4. Pemurtadan berkedok kemanusiaan di desa-desa terpencil.

Cara pemurtadan seperti ini dilakukan kepada orang-orang tak mampu sambil memberi sejumlah makanan pokok dan keperluan sehari-hari seperti beras, mie instant, gula, minyak, pakaian, obat-obatan dan lainnya. Bantuan itu terus dilakukan, sampai mereka merasa tergantung. Setelah orang-orang tergantung, mereka baru mengatakan bahwa bantuan ini datang dari Tuhan Yesus, kalau mau terus mendapatkan bantuan, mereka harus pindah ke agama Kristen. Pemurtadan seperti ini banyak dijumpai di daerah-daerah terpencil dan miskin seperti Gunung Kidul Yogyakarta, Klaten, Kalimantan dan lainnya.

5. Pemurtadan berkedok ulama atau keluarga ulama.

Modusnya, seorang aktivis Kristen mengaku-ngaku sebagai mantan ustad atau keluarga ulama terpandang yang kemudian murtad. Tujuannya, untuk meragukan keyakinan umat terhadap Islam dan selanjutnya membenarkan doktrin Kristen. Kasus ini pernah terjadi di Padang beberapa waktu lalu. Pendeta Willy Abdul Wadud Karim Amrullah mengaku-ngaku sebagai adik kandung Buya Hamka. Karena ulah pendeta Willy, tak sedikit yang percaya dengan kesaksiannya. Namun, setelah diteliti, ternyata Pendeta Willy bohong besar. Salah seorang putra Hamka menyatakan sepanjang hayatnya, ia tak pernah mempunyai paman yang bernama Willy Abdul Wadud Karim Amrullah.

6. Pemurtadan dengan cara penyebaran narkoba.

Narkoba dan obat-obat terlarang lainnya disebar mereka ke para pemuda baik ke anak SD, SMP, SMU bahkan sampai mahasiswa. Mereka terus

menjejali obat haram tersebut hingga para pemuda harapan bangsa ini menjadi tergantung dengan obat-obatan itu. Kalau sudah demikian, para pemuda itu dimasukkan ke tempat rehabilitasi untuk disembuhkan dari ketergantungan obat. Di tempat rehabilitasi itulah, para pemuda yang kecanduan obat itu dicuci otaknya, dimasukkan doktrin-doktrin Kristen.

7. Kristenisasi terselubung dengan mendirikan sekolah-sekolah teologi.

Sekilas lalu, sekolah-sekolah teologi ini memang tak ada masalah. Kegiatan belajar-mengajar tak jauh beda dengan sekolah-sekolah tinggi lainnya. Tapi, sejumlah pihak menyakini kristenisasi dijalankan secara terselubung. Mereka mencontohkan Sekolah Tinggi Apostolos. Namun, pengurus STT itu sendiri membantah adanya program kristenisasi. Tapi, kalau dicermati lebih mendalam, dugaan adanya kristenisasi terselubung itu ada. Konsentrasi STT Apostolos, pada studi islamologi dengan jumlah mata kuliah sebanyak 36 SKS. Meliputi mata kuliah Pengantar Studi Islam, Studi al Qur’an, Studi al Hadits, Filsafat Islam dan lainnya. Bahkan, mereka juga mengundang sejumlah dosen berbagai perguruan tinggi agama Islam. Seiring tujuan STT Apostolos untuk mencetak pemimpin gereja masa depan yang mampu berdialog dengan dunia Islam, sejumlah pihak menilai ada upaya lain untuk mengorek kelemahan Islam terutama al Qur’an dan al Hadits.

8. Pemurtadan melalui surat-surat atau korespondensi.

Kristenisasi ini dilakukan melalui surat-menyurat. Surat itu berisi sebuah buletin, mirip seperti buletin Islam yang sering dibagikan setiap shalat Jum’at. Isinya membahas masalah perbandingan agama dengan menitikberatkan pada pemutarbalikan tafsir al Qur’an dan al Hadits. Dari ulasannya terkesan sekali mendukung doktrin ketuhanan Yesus. Biasanya, surat itu hanya mencantumkan kotak pos. Menurut Sekjen FAKTA, Abu Deedat, kristenisasi dengan gaya korespondensi ini bertujuan mendangkalkan akidah umat Islam. Contohnya buletin “Habari Lo Ilomata”. Setiap terbit, buletin ini mencoba mengaburkan keyakinan umat Islam dengan cara membuat pertanyaan-pertanyaan yang menggiring untuk mendukung ketuhanan Yesus. Pada terbitan Ilomata edisi nomor 11 tahun 2001, dikutip ayat al Qur’an Surah an Nur ayat 34, “Dan sungguh kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang menerangkan dan sebagai perumpamaan dari mereka yang terdahulu sebelum kamu .”, dari situ dibuatlah pertanyaan-pertanyaan yang menggiring umat untuk mengakui kebenaran Yesus. Pertanyaan itu, antara lain, kitab suci mana yang dimaksud, yang menerangkan tentang orang-orang terdahulu sebelum Nabi Muhammad Saw? Kemudian bagi mereka yang berhasil menjawab benar, akan disediakan hadiah berupa Kitab Suci Injil. Tak hanya buletin Ilomata, buletin serupa yang banyak beredar di tengah-tengah masyarakat misalnya brosur “Rahasia Jalan ke Surga”, “Membina Kerukunan Umat Beragama”, atau brosur-brosur Shirathal Mustaqim seperti “Keselamatan”, “Siapakah yang Bernama Allah”, “Stop”, “Injil Barnabas”.

9. Pemurtadan dengan cara menerbitkan buku-buku Kristen tapi berkedok Islam.

Menurut Tim Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan (FAKTA), ada dua target yang akan dicapai dari penerbitan ini. Pertama, target ke dalam, untuk meneguhkan ajaran Kristen seolah-olah ajaran kristenlah yang paling benar. Kedua, target ke luar, untuk mengelabui umat yang masih dangkal pemahaman agamanya agar mau membaca buku-buku itu kemudian membenarkan ketuhanan Yesus. Mereka menyakini, umat Islam tak terlalu curiga terhadap misi mereka. Pendeta-pendeta Kristen sangat produktif membuat buku-buku seperti ini. Puluhan bahkan ratusan buku saat ini disinyalir beredar ke tengah-tengah masyarakat seperti buku karya H Amos alias Poernama Winangun “Upacara Ibadah Haji”, “Isa as dalam Pandangan Islam”, “Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan nabi Muhammad Saw”, atau karya Danu Kholil Dinata seperti “Kristus dan Kristen di Dalam al Qur’an”. Dan “Jawaban Atas Buku Bibel, Qur’an dan Science”, Dialog Tertulis Islam-Kristen” karya Hamran Amrie.

10. Pemurtadan dengan meniru dan memakai idiom atau atribut Islam.

Pemurtadan dengan memakai atribut, dan idiom Islam tak asing lagi di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Jakarta, Minang, Sunda dan lainnya. Tujuannya, agar kaum muslimin meragukan ajaran Islam dan mau mengakui kebenaran doktrin Kristen. Di Kampung Sawah misalnya orang-orang Kristen sudah terbiasa memakai atribut Betawi yang identik dengan Islam. Laki-lakinya mengenakan kopiah dan sarung seperti orang Betawi saat menjalankan shalat. Begitu juga yang perempuan, memakai kerudung mirip none betawi habis pulang ngaji. Lain lagi di daerah jawa tengah, mereka meniru adat kebiasan Islam seperti tahlilan, mengucapkan assalamu’alaikum, pakai kopiah dan lainnya.

nah sudahkah lingkungsn kita menjadi korban…? lingkungan keluarga kita…? atau teman teman kita…?

atau bahkan mungkin kita sendiri pernah atau masih menjadi korban…? akan tetapi kita terlalu asik untuk “cuek” atau “masa’ bodo’ ” dengan apa yang sedang kita alami……?

jadilah manusia yang pintar, jangan jual aqidah mu demi sesuatu yang bersifat sementara, bersikap, dan berfikirlah dewasa, jadilah bijak dalam mengambil keputusan. semoga Allah senantiasa melindungi kita, amin

 

SUMBER