580971_146442358848340_1845610763_n

Pasukan Malaysia dengan kekuatan besar dikerahkan untuk melawan sekitar 200 loyalis Sultan Sulu, Filipina. Masing-masing punya alasan kuat. Demi mempertahankan kedaulatan dan kehormatan negeri jiran, di sisi lain, merebut kembali tanah milik nenek moyang: Sabah.

Angkatan bersenjata Malaysia Selasa dini hari kemarin kembali melancarkan serangan melawan Rajah Muda Agbimuddin Kiram, adik Sultan Sulu Jamalul Kiram III, dan pasukannya. Untuk mengakhiri aksi pendudukan di Desa Tanduo, Lahad Datu, Sabah.

Artileri dikerahkan, bom-bom dijatuhkan dari pesawat tempur. Namun, pihak Sulu mengklaim, serangan itu gagal total. Tak ada satupun pasukannya yang menjadi korban.

Alih-alih mengenai target, pesawat pengebom Malaysia diduga justru menjatuhkan dua bom ke pasukannya sendiri. Juru bicara Sulu, Abraham J. Iribani mengatakan, ia sempat berbincang dengan Agbimuddin yang berada di Sabah. Soal serangan udara Malaysia.

Sang raja muda menceritakan, ia melihat jet tempur terbang rendah sekitar pukul 09.30 waktu setempat, agak jauh dari tempat mereka. Pasukan Sulu lantas menyelinap ke tempat aman.

Kepada Idjirani, ia mengklaim, militer Malaysia justru menjatuhkan dua bom di kamp pasukan militer dan polisi Malaysia di Kampung Tanduo, Lahad Datu. Lokasi itu sebelumnya memang tempat bersembunyi para loyalis Sultan Sulu, namun sejak pertempuran Jumat lalu, mereka meninggalkannya.

“Jika benar, itu adalah `campur tangan Ilahi`,” kata Idjirani seperti dimuat Manila Bulletin, Rabu (6/3/2013).

Sebelumnya seorang reporter Malaysia yang tak mau disebut namanya mengatakan, sejumlah ledakan terjadi di Tanduo. “Pemboman dilakukan secara intensif, sekitar setengah jam, lalu diikuti sejumlah ledakan sporadis,”kata dia.

Seorang wartawan AFP di jalan yang ditutup sekitar 30 km dari lokasi pertempuran juga mengaku melihat helikopter militer terbang menuju Tanduo. Enam ambulans juga diperkirakan mengarah ke lokasi.

Belum ada konfirmasi dari pihak Malaysia terkait kabar tersebut.

Sementara, meski mendapat gempuran dari angkatan bersenjata Malaysia — angkatan udara, angkatan laut, dan prajurit yang dilengkapi tank dan pesawat tempur, raja muda Sulu tetap menantang dan bersumpah untuk berjuang. “Apa pun yang mereka lakukan, kami tidak takut karena kami berjuang untuk hak kami,” kata Agbimuddin Kiram.

Pasukannya yang awalnya berjumlah 235 orang kini susut menjadi 215. Sisanya tewas dalam pertempuran. Namun, mereka juga menawan empat perwira Malaysia.

Delapan polisi Malaysia dan 20 warga Filipina dilaporkan tewas dalam bentrokan kekerasan sejak pendukung Sultan Kiram III menduduki Sabah sejak 11 Februari 2012.

Malaysia: Semua Pasukan Selamat

Sementara, tujuh jam setelah jet-jet dikerahkan, Menteri Dalam Negeri Malaysia, Hishammuddin Hussein mengatakan, tak ada korban jatuh dari pihaknya, baik polisi maupun tentara yang menyerbu sebuah rumah di dekat perkebunan kelapa sawit.

“Di sisi musuh, kami harus menunggu kepastiannya karena operasi masih berlangsung. Kami harus berhati-hati,” kata Pak Menteri, menolak menyebut soal dampak serangan pada pasukan lawan.

Sebelumnya, Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak mengatakan, pemerintahnya tidak punya pilihan selain upaya represif untuk mengakhiri salah satu krisis keamanan terburuk Malaysia.

“Semakin lama invasi berlangsung, ini isyarat jelas bagi pihak berwenang bahwa penjajah tidak berniat untuk meninggalkan Sabah,” kata Najib.

Negosiasi telah diupayakan, namun menemui jalan buntu. “Pemerintah harus mengambil tindakan untukmen jaga martabat dan kedaulatan negara seperti yang dikehendaki oleh rakyat.”

SUMBER

72398_533715846651436_59695671_n