Malaysia Allah Ban
SULTAN Selangor mengeluarkan keputusan, hanya orang Islam yang boleh menggunakan asma “Allah”, dan melarang masyarakat non Muslim menggunakan nama “Allah”.

Langkah ini ibarat menyiram minyak ke bara api dan bakal menyulut kontroversi karena sebagian warga negara Malaysia menganut agama Kristen (9,2 persen) yang juga menyebut Tuhan sebagai Allah. Kaum Muslimin memang mayoritas (61,3 persen) dari 28 juta populasi Malaysia, selain Budha (19,8 persen), Hindu (6,3 persen) dan agama lainnya (3,4 persen).

“Sultan Shafaruddin Idris Shah membuat keputusan dan mengeluarkan dekrit bahwa kata ‘Allah’ adalah kata suci bagi umat Islam dan dilarang digunakan kalangan non-Muslim di Selangor,” ujar Majelis Urusan Islam (MUI) negara bagian Selangor, Selasa (8/1), seperti ditulis The Star Online.

MUI Selangor akan melakukan “tindakan keras” bagi barang siapa yang mempertanyakan fatwa baru ini, namun lembaga itu tak merinci penjelasannya. Padahal Sultan negara bagian Penang, Mufti (ketua) MUI Penang, dan Menteri Besar Penang sudah bersidang dan mendesak pemerintah federal Malaysia membolehkan penggunaan asma “Allah” dalam penerjemahan Kitab Injil. Umat Islam memang menggunakan asma “Allah” untuk menyebut Tuhan dan masyarakat Kristen di Malaysia kemudian juga menggunakan nama itu. Penyebutan Tuhan dalam bahasa Melayu (termasuk bahasa Indonesia sekarang) di dalam Kitab Injil pada abad 16 dan 17, adalah dengan menerjemahkan bahasa Ibrani “Elohim” (atau ‘God’ dalam khasanah Injil berbahasa Inggris) sebagai “Allah”.

Namun pada tahun 2007 silam pemerintah pusat (federal) Malaysia memutuskan menyudahi penyebutan asma Allah hanya terbatas bagi umat Islam. Keputusan ini kemudian dicabut Pengadilan Tinggi Malaysia dua tahun kemudian, karena, menurut para hakim tinggi, keputusan pemerintah federal pada tahun 2007 tersebut dinilai inkonstitusional. Lalu pemerintah Malaysia mengajukan banding sehingga keputusan pengadilan tinggi tersebut hanya berumur sebentar. Dan pada tahun 2009 keputusan tersebut dibatalkan untuk waktu yang belum ditentukan.

Implikasi

Dekrit Sultan Shafaruddin bisa berimplikasi terhadap sikap politik partai-partai di Malaysia. Kubu oposisi Pakatan Rakyat dipimpin tokoh flamboyan Anwar Ibrahim yang merupakan koalisi gabungan Partai Islam SeMalaysia (PAS), Parti Keadilan Rakyat dan Parti Tindakan Demokratik — sepakat bahwa asma “Allah” boleh digunakan semua kelompok agama, termasuk bagi non-Muslim.

Beberapa menit setelah dekrit Sultan Selangor keluar, ucapan Pemimpin PAS yang diamini oleh partai-partai koalisi Pakatan Rakyat, menyatakan sikap tegas. “Allah bukanlah arti yang asli Al Qur’an bagi ‘Tiada Tuhan Selain Allah’ dan asma ini bisa disalahgunakan oleh orang lain melawan komunitas muslimin supaya timbul kerancuan,” ujar Presiden PAS Datuk Seri Abdul Hadi Awang. “Namun demikian, Islam tidak menghentikan para pengikut agama lainnya untuk menggunakan kata ‘Allah’ dalam mempraktikkan kepercayaan mereka, meskipun mungkin penyebutan tersebut tak tepat terhadap arti sebenarnya dari kata orisinal bahasa Al Qur’an,” tambah Abdul Hadi Awang.

Sementara itu, Dewan Gereja Malaysia mengatakan akan tetap menggunakan kata “Allah” dalam Injil berbahasa Melayu. “Banyak komunitas asli bangsa Malaysia sudah lazim menggunakan kata ini dalam bahasa sehari-hari. Kalau dipermasalahkan, kami akan terus menggunakannya, dan meminta pihak-pihak lain untuk menghormati hak dasar warga negara,” tulis Dewan Gereja Malaysia. Konstitusi Federasi Malaysia pada Ayat 11 menjamin kebebasan beragama.