Alexander Yablontsev, pilot Sukhoi Superjet 100 pernah mengikuti pelatihan kosmonot (REUTERS/sergeydolya.livejournal.com/Handout)
 
Sesosok jenazah ditemukan tim Komando Pasukan Khusus (Kopassus) di Curug Nangka, 5 kilometer dari titik jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100, Sabtu 12 Mei 2012. Kondisinya mengenaskan, tersangkut di atas pohon.

Ada benda mirip parasut di dekatnya. Diduga kuat, sosok tak bernyawa itu adalah pilot pesawat Sukhoi Superjet 100, Alexandr Yablontsev.

Anggota Tim Charlie, Sersan Satu Abdul Haris yang menemukan jasad tersebut mengungkapkan, selain rambut dan warna kulitnya yang putih, dugaan bahwa itu adalah jenazah sang pilot diketahui dari identitas dalam dompet di saku korban: atas nama Alexandr Yablontsev.

Namun, Kepala Bidang Penerangan Umum Mabes Polri, Komisaris Besar Polisi Boy Rafli Amar, mengatakan jasad pilot tak termasuk dalam 18 kantong yang diterima RS Polri.  “Tim DVI menyimpulkan jenazah yang dibawa ke RS Polri, adalah bukan jenazah pilot pesawat Sukhoi SSJ 100,” kata dia, Minggu 13 Mei 2012.

Meski akhirnya berakhir tragis, pesawat menabrak tebing sekitar 20 menit setelah tinggal landas, Presiden United Aircraft Corporation, Mikhail Pogosyan menyebut, Aleksandr Yablontsev adalah salah satu pilot terbaik di Rusia.

“Saya kenal dan tahu banyak pilot Superjet 100 ini. Sebagai penerbang Bapak Aleksandr salah satu yang terbaik,” kata Mikhail, di Jakarta, Jumat 11 Mei 2012.

Mikhail kemudian mengisahkan bahwa Aleksandr menjadi pilot pesawat Sukhoi ini dari awal hingga mendapatkan sertifikat dari Russian Certification Authority. Pilot tersebut telah menerbangkan 221 jenis pesawat dan mengantongi lebih dari 14 ribu jam terbang. Sebanyak 1.300 jam terbang didapat Yablonstsev bersama Sukhoi Superjet-100.

Encyclopedia Astronautica mencatat nama Aleksandr Nikolaevich Yablontsev sebagai kosmonot, dalam posisi pilot tes dari tahun 1989-1996.

Pria kelahiran Warsawa, 3 April 1955 itu adalah lulusan Sekolah Pilot Militer, Higher Military Pilot School, Armavi tahun 1976. Kemudian lulus dari Sekolah Pilot Tes Angkatan Udara Uni Soviet di Akhtubinsk tahun 1985, dan dari Moscow Aviation Institute tahun 1989.

Alexandr Yablontsev juga pernah mengikuti pelatihan menjadi kosmonot pada Maret 1989 hingga April 1991, diproyeksikan sebagai penerbang pesawat ulang-alik Buran.

Buran adalah pesawat luar angkasa analog milik Uni Soviet. Buran hanya sempat menyelesaikan satu penerbangan luar angkasa tanpa awak pada 1988, sebelum programnya dibatalkan pada tahun 1993.

Sayangnya, ia tak sampai ke luar angkasa. Setelah itu ia kembali ke sekolah penerbang Akhtubinsk.

Pada tahun 1997, Yablontsev berhenti dari tugas kemiliteran. Pada tahun 1998 sampai 1999, ia bekerja sebagai pilot di maskapai Transaero-Airline, kemudian di Transevropskiye Avialiniy Airline.

Berbagai Dugaan

Meski belum jelas apa yang terjadi di detik-detik menentukan sebelum pesawat menabrak Gunung Salak, muncul dugaan Aleksandr Yablontsev dan kopilot Aleksandr Kochetkov tak mengenal medan saat menghindar awan gelap. Ada lagi dugaan, saat itu ia sedang bermanuver.

Percakapan pilot dengan air traffic centre (ATC) Bandara Soekarno-Hatta, saat minta izin turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki, sampai saat ini masih jadi pertanyaan besar.

Belum-belum, Pemerintah Rusia bahkan mengatakan, pesawat Sukhoi Superjet-100 yang jatuh di lereng Gunung Salak, Jawa Barat, dalam kondisi baik. Menurut mereka, kecelakaan itu kemungkinan besar diakibatkan oleh faktor manusia.

“Para ahli bilang semua perlengkapan berfungsi dengan baik,” kata Wakil Perdana Menteri Rusia, Dmitry Rogozin, bagaimana dikutip Ria Novosti, Kamis 10 Mei 2012. “Dengan kata lain, ini disebabkan oleh kesalahan manusia.”

Namun, Presiden United Aircraft Corporation, Mikhail Pogosyan berpendapat lain. “Masih terlalu dini untuk menyatakan kecelakan itu disebabkan kesalahan pilot,” kata dia seperti dikabarkan Ria Novosti.