Andi M Guntur, memulai debutnya dengan menyakitkan (c) AP

Kekalahan telak Timnas Indonesia semalam dengan Bahrain 10-0 membuat kita terhenyak dan pastinya kesal. Apalagi ditambah informasi bahwa ini kekalahan terburuk sejak tahun 1974 dan juga kekalahan terbesar pra piala dunia 2014 zona Asia.

Berbagai hujatan muncul di jejaring sosial twitter, facebook, kaskus dll. Saya kebetulan fans fanatik PSSI dan selalu mengikuti perkembangan dan menunggu hasil-hasil pertandingan PSSI,bahkan kalau memang PSSI main di Stadion Gelora Bung Karno saya juga berusaha untuk hadir.


Suporter Merah Putih juga terluka dengan kekalahan ini (c) AFP

Buat saya dan jutaan pencinta Merah Putih pasti kekalahan telak 10-0 sepanjang sejarah perjalanan sepak bola Indonesia merupakan pukulan tersendiri. Pikiran dan aktivitas pagi saya hanya diisi untuk membaca tulisan seputar kekalahan tersebut.

Buat saya mungkin tidak terlalu sulit untuk segera melupakan hal ini, apalagi aktivitas saya sehari-hari tidak berhubungan dengan masalah sepakbola. Tetapi jelas berbeda dengan kondisi pemain muda kita yang baru saja menjalani pertandingan semalam.

Qatar sudah protes kepada PSSI saat akan mengirim pemain U-23 dan dijawab oleh pengurus untuk memberikan pengalaman Internasional bagi pemain-pemain muda kita. Tetapi hasil semalam malah justru sebaliknya kekalahan telak yang menyakitkan dan terburuk sepanjang masa akan membuat trauma yang berkepanjangan.

Kegagalan seperti ini bisa menjadi trauma dan stres buat para pemain muda. Kondisi ini akan membuat mereka sulit tidur dan tidak nafsu makan. Gol-gol Bahrain, suasana di lapangan dan ketidak berdayaan untuk bisa melakukan perlawanan akan selalu menjadi mimpi buruk buat para pemain muda kita.

Kondisi stres ini akan menimbulkan stres lain yang mungkin sudah ada sebelumnya.  Apalagi jejaring sosial, media cetak dan media elektronik menghujat kekalahan ini. Nasi sudah menjadi bubur.

Faktor psikologi para pemain muda yang habis mengalami kekalahan tersebut harus menjadi perhatian pengurus. Jelas trauma kekalahan yang memalukan ini bisa menjadi stres yang akan memengaruhi masa depan mereka.

Psikolog atau bahkan psikiater harus segera mendampingi mereka. Tentu kita masih berharap mereka memberikan yang terbaik untuk PSSI di masa depan. Oleh karena masalah psikologi para pemain muda harus menjadi perhatian, mereka harus segera didampingi agar kondisi mental mereka dapat cepat bangkit dan bisa memberikan terbaik buat Indonesia di masa depan.

http://www.bola.net/editorial/pembantaian-bahrain-dan-luka-mendalam-skuad-garuda.html