Di saat aktivitas Gunung Dieng, Jawa Tengah sedang siaga dan kekhawatiran gempa makin memberi tekanan serta gas beracun yang keluar makin banyak, ada saja tangan-tangan nakal yang beraksi.

Alat pemantau gempa Dieng raib. “Dicuri dengan sukses, ketahuan Jumat pagi pukul 06.00 WIB,” kata Kepala Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono saat dihubungi VIVAnews.com, Jumat 3 Juni 2011.

Meski tak mempengaruhi kerja pemantauan Dieng secara keseluruhan, kata Surono, hilangnya alat tersebut akan membuat pihaknya berpikir keras untuk mengambil keputusan. Terkait ketelitian dan keakuratan data.

Surono mengaku tak habis pikir, mengapa ada saja orang iseng yang mengambil keuntungan dengan taruhan berbahaya: nyawa dan keselamatan orang banyak. “Paling-paling yang bisa dijual aki, kami beli baru Rp750 ribu, dipasang 31 Mei 2011, masih baru. Kalaupun dijual paling laku separuhnya, Rp300 ribu. Dia dapat Rp300 ribu, saya rugi Rp300 juta,” kata dia.

Terkait kondisi Dieng terkini, Surono menjelaskan karakter gunung ini berubah. “Sebelum siaga dominan gempa dalam, sekarang gempa dangkal. Aktivitasnya makin dangkal,” kata dia.

Aktivitas dangkal itu berpotensi membuat gas yang tersembur makin banyak. Meski tak kelihatan. “Gas di Dieng itu gas kering, seperti CO2, penduduk yang terbiasa mencium bau belerang, tahu itu. Ini membahayakan,” kata Surono.

Meski demikian, ada saja warga yang ngeyel dan tak mau mengungsi. Kalaupun mengungsi, ada saja yang nekat berkali-kali kembali ke ladang atau ke rumah yang berada dalam zona bahaya 1 kilometer dari Kawah Timbang. “Kalau nggak ngeyel, nggak afdol,” tambah Surono.

Salah satu alasan yang sering dipakai warga, takut harta bendanya hilang. “Ini masalah nyawa, bukan barang. Kalau barang bisa dibeli kalau ada duit, tapi kalau nyawa, rongsokannya nggak ada yang jual,” kata Surono.

Karena menganggap Dieng serius, sejak beberapa hari lalu, Surono sudah ada di lokasi. Ini bentuk pertanggungjawabannya. “Tak ada anak buah salah, yang terjadi pemimpin nggak benar. Jangan sampai saya memutuskan tanpa melihat sendiri,” kata pria yang akrab dipanggil “Mbah Rono” ini.

Surono juga mengharap warga setempat juga menganggap erupsi Dieng kali ini serius. “Jangan lupakan bencana 1979, sekitar 30 tahun lalu, masuk banyak alumni, saksi hidup yang masih ada. Jangan lupakan itu,” kata Surono.

Kala itu, 20 Februari 1979, Dieng mengeluarkan gas beracun. Setidaknya 149 warga tewas terjebak kungkungan gas. “Gas bisa ke luar dari mana saja, tak hanya dari kawah, tapi juga dari rekahan tanah,” kata Surono.

Warga juga diminta mengerti mengapa pusat vulkanologi memberikan peringatan keras, zona bahaya 1.000 meter. “Kami harus berani berbuat salah tapi nggak ada korban, daripada ragu-ragu. Keragu-raguan menyangkut nyawa,”  ujarnya.