Sejak kapan bangsa ini menjadi bangsa pemarah? Sebuah pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab, tapi menemukan kemarahan di negeri ini tidaklah sesulit yang Anda bayangkan.

Tengok saja tayangan berita di stasiun-stasiun televisi, berita di koran, siaran radio, maupun berita online yang ditayangkan setiap hari. Berita kekerasan mulai dari tawuran antarpelajar, perang antarfakultas di kampus, bentrok antarkampung, konflik antarmasyarakat, sengketa pilkada, hingga demonstrasi yang kerap berakhir dengan kerusuhan menjadi sajian sehari-hari. Belum lama kita dipertontonkan sebuah tayangan yang miris sekaligus malu kita melihatnya, bentrok di Tanjung Priok berdarah yang mengorbankan nyawa.

Kok masih ada ya di zaman sekarang sebuah kekerasan yang sedemikian biadab yang terjadi antarsesama rakyat Indonesia hanya dengan alasan mempertahankan hak masing-masing yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan musyawarah dan mufakat. Apakah tidak ada cara yang lebih santun daripada saling melempar batu dan berujung kerusuhan yang mencoreng muka kita sebagai bangsa beradab? Tak lama kemudian ada kerusuhan di galangan Kapal Drydock, Batam Kepulauan Riau, yang memaksa warga India mengungsi ke Singapura. Terlepas siapa pemicu kerusuhan itu, apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan?***

Cap sebagai bangsa yang ramah rasanya perlahan dan pasti mulai terkikis dan berubah menjadi bangsa yang suka marah. Bangsa yang selalu bangga dengan budaya adiluhungnya, bangga sebagai bangsa muslim terbesar di dunia ini menjadi bangsa yang bersumbu pendek, mudah tersulut, terbakar, dan meledak. Kekerasan demi kekerasan sudah biasa menghiasi kehidupan kita sehari-hari. Sementara kebanyakan kita tidak merasa risau bahwa sifat pemarah dan dendam kesumat sudah menjelma menjadi bagian dari karakter bangsa. Sudah menjadi hal yang biasa dendam menyelubungi relung jiwa anak bangsa. Kasus demi kasus terpaparkan di hadapan kita seolah tanpa henti untuk saling menghabisi baik karakter pribadi bahkan nyawa.

Para yang bermasalah saling membongkar aib lawan yang dulunya kawan, satu per satu di muka publik. Saling menjelekkan adalah hal yang kini biasa dan lumrah. Keadaan untuk saling membuka aib ini belakangan mulai mewarnai kehidupan berbangsa kita. Masyarakat dibuat capek dengan berita-berita yang saling menjelekkan satu dengan yang lainnya. Yang dulunya bersalah bisa tiba-tiba menjadi pribadi bak pahlawan atau sebaliknya, yang dulunya pahlawan tiba-tiba menjadi pecundang. Mana yang benar sekarang ini menjadi sumir. Semua bisa dibolak-balikkan dengan mudahnya. Apakah ini yang menjadi karakter bangsa kita? Saling membuka aib dan tidak berani mengakui kesalahan. Kalau ini dibiarkan, bagaimana nasib bangsa ini yang terus menerus mengorek kesalahan orang lain.

Kapan menjadi bangsa yang produktif kalau sehari-hari disibukkan oleh urusan membuka aib. Kesantunan pribadi dalam bermasyarakat maupun bermuamalah dengan sesama secara perlahan namun pasti telah bergeser menjadi hubungan yang kaku dan angkuh. Keramahan sebagai bangsa yang hangat rasanya kini telah sirna. Karakter yang selama ini kita agung-agungkan dan digembargemborkan bisa jadi kelak hanya menjadi cerita bahwa dulu ada sebuah bangsa yang bernama Indonesia yang berbudaya yang tinggal nama. Alangkah malangnya kalau bangsa sebesar Indonesia ini karakter-karakter mulianya mulai luntur dan terkikis satu-satu oleh zaman. Sementara para pembuat keputusan terhadap jalannya sebuah bangsa ini tidak terlalu risau dengan fenomena bergesernya nilai-nilai dan karakter bangsa ini. Angka dan data-data statistik selalu digunakan sebagai keberhasilan sebuah pembangunan walau data tersebut belum tentu benar.

Sebenarnya ada hal yang lebih penting dari sekadar angka yaitu karakter itu sendiri. Apakah pembangunan yang sekarang terjadi sudah juga memperhatikan pembangunan karakternya? Itulah pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Kalau pembangunan berhasil, tentu tidak akan menghasilkan sebuah masyarakat yang menggebuki maling ayam sampai babak belur. Atau juga tidak menghasilkan sebuah masyarakat yang setiap ada pertandingan sepak bola, baik tingkat kampung maupun kejuaraan nasional, selalu diwarnai dengan kericuhan antara pemain dan penontonnya. Lalu buat apa juga melanggengkan sebuah perhelatan olahraga yang menguras anggaran dan merugikan masyarakat.***

Bagaimana anak-anak generasi penerus ini akan meneladani generasi sebelumnya kalau yang dipertontonkan adalah (mohon maaf) karakter-karakter negatif. Bagaimana anak-anak tidak akan menjadi generasi pemarah kalau setiap hari yang dilihat dan ditemui adalah kemarahan. Bagaimana mereka tidak akan bertindak tidak culas kalau para pendahulunya mengajari culas. Bagaimana anak-anak akan berlaku jujur kalau yang tua-tua mengajari tidak jujur. Bagaimana mereka menjadi pemaaf kalau yang senior mengajari iri dan dendam. Bagaimana mereka akan menempuh jalan menjadi pekerja ulet dan tahan banting kalau yang tua mengajari cara instan. Dan masih banyak pertanyaan bagaimana-bagaimana lagi yang kita sulit untuk menjawabnya. Setiap hari masalah inilah yang generasi muda kita temui.

Masalah yang seperti tak berujung, yang terus-menerus akan menggelayuti bangsa ini. Ditambah lagi makin langkanya sosok-sosok pribadi yang menjadi teladan yang bisa dicontoh. Meski demikian, kita tidak boleh berputus asa menghadapi keadaan seperti ini. Kita bisa mulai dari masyarakat terkecil yang ada di lingkungan kita sendiri yaitu keluarga. Bagaimana kita mampu menularkan karakter positif terhadap keluarga kita sendiri.Kepala keluarga bisa menjadi role model yang menjadi teladan anggota keluarga yang lainnya. Masing-masing anggota keluarga juga bisa menjadi “pengawas” anggota yang lainnya untuk mengingatkan apabila berbuat salah. Anggota keluarga juga harus berani menanyakan sumber pendapatan keluarga tersebut.

Apakah diperoleh dengan cara yang halal atau haram. Kalau masing-masing keluarga menjadi “pengawas” buat yang lainnya, insya Allah keluarga tersebut akan mempunyai karakter yang positif sesuai yang diamanatkan tokoh pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantoro, yaitu ketika di depan memberi teladan, di tengah berinspirasi menciptakan peluang, dan ketika di belakang memberikan dorongan untuk kemajuan. Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei lalu, semoga artikel ini memberi penyadaran terhadap pembangunan karakter bangsa yang menjadi perhatian kita semua, baik para pendidik, politisi, rohaniawan, maupun para pembuat kebijakan.

Semoga bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah, jujur, dan berbudi pekerti luhur tidak sekadar cerita masa lalu.(*)