Perum Perhutani membuka objek wisata (obwis) Kampoeng Penginyongan di kawasan wanawisata Curug Cipendok, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok ini pada tanggal 27 Februari 2008. Dalam peresmian yang dilakukan Rabu (27/2), diperkenalkan sejumlah objek yang terdapat di obwis itu. Kampoeng Penginyongan yang terletak sekitar 500 meter dari air terjun Curug Cipendok itu diresmikan oleh Direktur Bagian Pemasaran Perum Perhutani, Fahrur Rozi dengan dihadiri jajaran perusahaan, Muspida, Muspika, serta perangkat desa. Koordinator Kesatuan Bisnis Mandiri – Wisata Bibit dan Usaha lain (KBM-WBU) Perum Perhutani Wilayah III Jawa Tengah, Krusharto mengatakan, Kampoeng Penginyongan merupakan sebuah wahana berbentuk resort yang terletak di lereng barat Gunung Slamet dan berada di pinggir hutan. Dalam obwis itu terdapat lima unit rumah penginapan, restoran, panggung budaya dibangun mengelilingi Telaga Pucung di tengahnya. Menurutnya, konsep Kampoeng Penginyongan merupakan gabungan dari wisata alam, budaya Banyumasan. Rencananya, pengelola akan menggelar sejumlah kegiatan seni khas Banyumasan, seperti grebeg lesung, suranan, ebeg dan kenthongan. Selain itu, disediakan berbagai makanan khas Banyumas. “Pengunjung yang datang akan dimanjakan dengan suasana lama Banyumas lengkap dengan makanan dan budayanya,” ujarnya kepada KR, usai peresmian. Selain wisata khas Banyumas, pengelola bakal mengajak pengunjung dengan kegiatan menanam buah strowberi. “Selain agrowisata buah strowberi, kami menyediakan bumi perkemahan, jungle tracking, dan outbond. Selain itu, banyak tanaman dan hewan langka di sekitar resort, sehingga Kampoeng Penginyongan juga jadi sarana konservasi,” bebernya. Pengelola mematok harga paket wisata Kampoeng Penginyongan Rp 6 juta per malam. Penyewa akan medapatkan fasilitas berupa lima unit penginapan, satu resto, dan paket kesenian dan budaya khas Banyumas. Dijelaskan, untuk mengelola dan memasarkan resort itu, Perum Perhutani bekerja sama dengan event organizer serta biro perjalanan di Kabupaten Banyumas, serta kota besar lain di Indonesia. Selama tahun 2008, Perum Perhutani mentargetkan pemasukan Rp 400 juta dari obwis Curug Cipendok dan Kampoeng Penyinyongan. “Kami akan bekerja sama dengan biro perjalanan, event organizer dan masyarakat sekitar untuk mencapai target tersebut,” ungkapnya. Sementara itu, Ketua Asociation of Indonesia Travel Agency (Asita) Korwil Banyumas, Didi Rudianto mengatakan, konsep Kampoeng Penginyongan menjadi hal baru, sehingga menambah daya tarik wisata di wilayahnya. Namun, lanjutnya, pengelola harus membenahi sarana dan akses guna menuju lokasi itu. “Kebanyakan wisatawan rombongan datang dengan kendaraan besar, dan akan kesulitan untuk langsung menuju Kampoeng Pengiyongan karena jalan menanjak berliku. Maka, butuh kendaraan angkut yang menghubungkan parkir bus besar dengan obwis,” jelasnya. Ditambahkan, lokasi parkir di sekitar obwis sempit dan jauh dari resor, sehingga dapat menimbulkan perasaan khawatir jika menginap dan meninggalkan kendaraan. Jelasnya, pengelola juga harus siap memenuhi permintaan pengunjung yang kerap tidak sesuai dengan paket wisata.

Dan beberapa waktu yang lalu yaitu sekitar hari jumat 19 Maret 2010 tepatnya sudah sekitar dua tahun obyek wisata kampung penginyongan ini dibuka keadaannya sungguh memprihatinkan. Dan bahkan apa yang sudah dijanjikan pengelola pada saat peresmiannya seperti akan dibukanya argowisata perkebunan strawbery,fasilitas hibuaran khas banyumasan dan pagelaran seninya ternyata cuma rencana belaka. Terbukti saat saya mengunjungi kawasan tersebut kondisinya sangat memprihatinkan banyak resort yang kurang terawat bahkan disitu ada satu resort yang hancur karna tertimpa pohon dan tidak diperbaiki. Entah karena kurangnya pengunjung atau karna faktor lain membuat kampung penginyongan ini kurang terawat dan terkesan mengenaskan. Saat saya mengunjungi kawasan itu memang saya jumpai satu orang yang sedang melakukan tugas bersih2 disana dan diketahui kalau tempat tersebut memang hanya ramai pada saat hari minggu saja, dan kebanyakan kalau hari biasa hanya beberapa orang yang memanfaatkan kawasan ini untuk berpacaran.

Sebagai warga yang tinggal disekitar kawasan tersebut saya merasa prihatin karena kawasan ini sebenarnya merupakan salah satu obyek wisata yang harusnya dijaga dan dipromosikan dengan baik. Keadaan sepi pengunjung yang terjadi di kawsan kampung penginyongan ini mungkin diakibatkan karena kurangnya promosi yang dilakukan oleh pihak pengelola karena saya melihat digerbang kawasan Telaga Pucung dimana kawasan KAmpung Penginyongan ini berada tidak terpampang petunjuk adanya kawasan wisata baru yaitu kampung penginyongan tersebut, dan itu membuat para wisatawan tidak mengetahuinya. Dan mungkin ada faktor lainnya yaitu dimana kawasan kampung penginyongan ini tidak masuk dalam daftar paket di kawasan Curug Cipendok yaitu dimana pengunjung harus membayar lagi biaya tiket seharga Rp 4000 perorangnya untuk memasuki wilayah tersebut.

Saya sebagai warga hanya bisa menyarankan kepada pihak pengelola untuk bisa lebih mempromosikan kawasan kampung penginyongan ini agar nantinya bisa menarik banyak pengunjung dan jangan lupa juga fasilitas yang dulu pernah dijanjikan bisa direalisasikan sehingga pengunjung bisa menikmatinya.

Dan untuk para pencinta wisata alam Kampung Penginyongan ini memang sungguh tempat yang indah dan bagus untuk refresing dan sedikit bisa membuang rasa penat.