IMG0002AKesenian ebeg adalah kesenian yang sangat terkenal di daerah Banyumas dan Jawa Tengah pada umumnya,kesenian ebeg atau kuda lumping atau jathilan ini memang sebuah kebudayaan yang perlu dirawat dan dijaga kelestariannya. Beberapa tahun belakangan ini ebeg sudah sangat jarang ditampilkan di acara-acara seperti hajatan di kampung2. Keberadaannya seperti tertelan jaman.
Tapi beberapa waktu belakangan ini, kesenian yang terkenal dengan atraksi pemanggilan arwah atau lebih dikenal dengan nama ‘indang’ ini kembali marak.
Para pelaku seni Ebeg pun banyak kebanjiran order,mungkin karna warga memang sudah terlalu bosan dengan acara hiburan seperti organ tunggal atau dangdutan yang sudah terlalu sering diadakan di kampung2.
Tapi kemunculannya kembali seni ebeg ini memberikan sebuah fenomena baru, terlihat seni ebeg sudah sedikit kehilangan gregetnya..karena sekarang banyak dan sering terjadi para penonton yang ‘wuru’ atau kesurupan indang.
Bahkan banyaknya penonton yang ‘wuru’ membuat atraksi kesenian ini menjadi tidak menghibur lagi,karna kebanyakan dari mereka yang ‘wuru’ adalah penonton yang kebanyakan berusia remaja berkisar belasan tahun.
FE3Kebanyakan dari mereka memang memiliki indang atau dengan kata lain mereka dapat dirasuki oleh arwah,yang membuat mereka mudah sekali ‘wuru’ dan kerasukan indang.
Kalau dulu ‘indang’ hanya dimiliki oleh mereka para pemain ebeg yang memang sebelumnya melakukan ritual dan rialat atau bertapa untuk dapat memiliki indang. Tapi sekarang fenomena yang terjadi adalah maraknya para remaja belasan tahun yang memiliki indang,dan biasanya mereka memang bukan pemain ebeg resmi..lantas dari mana mereka mendapatkan indang?
Menurut kabar yang saya dengar banyak para dukun ebeg yang menjual ‘paket indang’ dengan harga hanya berkisar puluhan ribu saja.
Paket indang itu biasanya hanya sebatas indang2 ringan seperti indang Baladewaan,yaitu indang yang membuat orang yang dirasuki menjadi luwes menari.
Entah ini kemajuan ebeg atau justru kemunduran, karena fenomena ini sudah sedikit meresahka