Khitan (Sircumcision) telah diketahui banyak memberi manfaat, khususnya untuk menjaga kebersihan organ penis. Secara psikologis, sebaiknya di sunat dilakukan saat anak sudah berani sehingga trauma psikis lebih minimal. Dari sekian banyak manfaat khitan, berikut adalah diantaranya:

  1. 1. Dapat mencegah infeksi

Dalam Jurnal Pediatric terbitan November 2006 khitan ternyata bisa mengurangi resiko tertular dan menyebarkan infeksi penyakit menular sampai sekitar 50%.

Untuk mencegah infeksi para gynecology di Amerika Serikat mengkhitan setiap bayi laki – laki yang lahir di rumah sakit.

Tahun 1980-an di laporkan bahwa anak yang tidak dikhitan (Sircumsisi) memiliki resiko menderita infeksi saluran air kencing 10 – 20 kali lebih tinggi.

  1. 2. Dapat mencegah kanker.

Kotoran berwarna putih yang diproduksi kelenjar penis disebut smegma, bersifat karsinogen artinya bisa memicu timbulnya kanker baik pada penis maupun leher rahim pasangan . Smegma ini sulit di bersihkan apabila tanpa dikhitan.

  1. 3. Dapat mengatasi  keadaan phimosis

Phimosis adalah suatu keadaan dimana ujung preputium (kulit luar penis) mengalami penyempitan sehingga tidak dapat ditarik ke arah proximal (bawah), melewati glans (kepala penis), yang biasanya dapat mengakibatkan obstruksi air seni, bila hal ini di biarkan terus tanpa ada penanganan lebih lanjut akan mengakibatkan peradangan pada penis.

Sekelompok ahli di Australia mengatakan bahwa sunat bermanfaat bagi kesehatan, pendapat yang menyamai banyak penelitian di tempat lain, sekaligus menentang pendapat Ikatan Dokter Australia sebelumnya.

Menurut laporan harian The Sydney Morning Herald, 12 peneliti yang dipimpin Prof Brian Morris dari Universitas Sydney mengkaji berbagai laporan dari seluruh dunia mengenai manfaat sunat dari sisi kesehatan.

Sebelumnya pada tahun 2010, Ikatan Dokter Australia (Royal Australian College of Physician) mengatakan bahwa berdasarkan bukti-bukti yang ada, sunat tidaklah memberikan manfaat yang nyata dari sisi kesehatan.

Oleh karena itu, di banyak rumah sakit pemerintah di Australia, para dokter tidak mau melayani tindak penyunatan walau hal tersebut diminta oleh para orang tua. Menurut perkiraan statistik, sekitar 80 persen anak laki-laki di Australia tidak disunat.

Menurut kesimpulan penelitian Dr Morris dan kawan-kawan, karena tidak disunat, potensi mereka terkena infeksi saluran kemih di masa kanak-kanak, dan di kemudian hari, kanker prostat, lebih besar.

Menurut laporan koresponden Kompas, di Australia, L Sastra Wijaya, Senin (5/3/2012) malam ini, penelitian terbaru ini menyimpulkan bahwa bayi yang tidak disunat menghadapi resiko terkena infeksi saluran kemih, dan pembengkakan ginjal 10 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang disunat.

Ketika dewasa juga, resiko terkena kanker prostat dan kanker penis lebih tinggi, dan resiko terkena HIV dan sifilis 3 sampai 8 kali lebih tinggi.

Bagi wanita dari pasangan pria yang tidak disunat, resiko terkena kanker leher rahim empat kali lebih tinggi.

Dan yang paling penting juga menurut laporan Prof Brian Morris tersebut, tidak ada bukti bahwa orang yang disunat akan mengalami masalah dalam hubungan seksual.