Nasib memprihatinkan olahragawan — dipuja saat jaya, disia-sia saat pensiun — tak hanya terjadi di Indonesia. Salah satu pesenam muda China, yang sempat digadang-gadang bakal mendulang banyak emas, mengalami nasib tragis. Ia mengalami cedera, pensiun diri sebagai atlet, dan berakhir di jalanan. Sebagai pengemis.
Zhang Shangwu, 28, mantan atlet spesialisasi senam cincin, bahkan menjual dua medali emas yang ia menangkan dalam ajang kejuaraan World University pada tahun 2001 seharga Rp140 ribu untuk membeli makanan.

Zhang mengaku, bukan hanya dia atlet yang merana. Ada banyak rekannya yang merana dan putus asa setelah putus ikatan dengan sistem olahraga China.

Bicara melalui telepon genggam seharga 30 yuan atau setara Rp40 ribu — yang ia pakai untuk mencari kerja — Zhang mengaku baru ditelepon pesenam lainnya yang mengalami nasub serupa. “Teman saya pikir saya mungkin bisa mengangkat permasalahan ini. Namun, jangankan memperjuangkan hidup orang lain, nasib saya sendiri belum jelas.”

Lahir di keluarga petani di Baoding, Provisi Hebei, Zhang dikirim ke akademi senam lokal dalam usia yang sangat muda. Lima tahun. Setelah tujuh tahun menjalani latihan berat, ia dinyatakan memenuhi kualifikasi untuk masuk tim nasional China. Pada 2001 ia diikutsertakan dalam ajang World University Games, meski tak berpendidikan universitas.

Dua emas menjadi bukti prestasinya yang menjanjikan. Zhang ada dalam daftar atlet yang dikirim ke Olimpiade Yunani tahun 2004, sampai sebuah kecelakaan tragis merenggut impiannya. Tendon Achilles yang berada pada bagian tungkai bawahnya cedera serius saat latihan pada 2002.

Ia tak pernah sembuh total, kehilangan kesempatan tampil di olimpiade, dan pada 2005 ia pensiun diri dengan pesangon sebesar 38 ribu yuan atau setara Rp50 juta. “Uang itu berarti tim tak lagi bertanggung jawab atas masa depan saya,” kata dia.

Setelah meninggalkan dunia olah raga, Zhang mendapat pekerjaan sebagai pengantar makanan. “Tapi hanya sebentar, setelah itu cedera saya bertambang parah, saya tak bisa berlari bahkan berjalan dalam waktu lama,” kata dia.

Tabungannya pun tersapu bersih saat kakeknya mengalami pendarahan otak. “Saya menggunakan semua uang yang tersisa, lalu aku bahkan harus menjual medali-medaliku untuk membeli makanan.”

Tahun 2007, Zhang tak punya pilihan. Ia nekat mencuri dan diganjar hukuman bui dan baru dibebaskan April 2011. “Sejak bebas dari penjara, aku mengemis dan harus menginap di warnet,” kata dia.

Apa yang dialami Zhang menghebohkan China — yang tak punya tradisi menghargai para juara dunia, alih-alih menghujani mereka dengan hadiah besar. Kritik mengatakan, penghargaan tak diterima kebanyakan atlet yang pensiun dalam kondisi tak terkenal, ditinggalkan dalam kondisi sulit.

Apa yang terjadi pada Zhang dikhawatirkan akan berdampak negatif pada China yang terkenal harum dalam bidang olahraga. Terutama senam. “Jika juara dunia bisa mengalami kondisi tragis seperti itu, siapa lagi yang bakal mau jadi pesenam,” kata Xing Aowei, rekan Zhang, sekaligus peraih medali emas Olimpiade Sydney 2000.

Memang benar, Zhang bukan satu-satunya yang merana. Ai Dongme, juara dunia marathon, menjual 10 medalinya demi keluarganya setelah sang suami terbaring sakit. Sementara, Zou Chunlan, mantan atlet angkat besi bekerja di pemandian umum. Sebagai pemijat. (Sumber: Telegraph, umi)